The Memories and Longing~

Apa kau ingat kenangan manis yg pernah kita ukir bersama? Apa kau ingat, sedikitnya tentang perasaan yg dulu pernah kita rasakan? Dan apa kau ingat, susah senang yg kita rasakan saat bersama? Sudah lama sekali rasanya tak pernah merasakan kehangatan dalam diri ini, tepatnya ketika kau pergi meninggalkan cerita, meninggalkan perasaan yg dulu begitu dalam untuk diungkapkan begitu saja.
Bahkan ketika angin dapat dengan mudahnya berhembus dan menghempaskan tubuhku, perasaanku padamu tak pernah tersampaikan, bahkan oleh angin yg menghempaskan nya. Lelah, tapi tidak bagiku ketika mencoba untuk memahami keadaan. Mencoba bersabar melihat kondisi dan waktu, mencoba bertahan dalam keadaan rapuh sekalipun. Daun-daun kering pun tak pernah bisa kembali seperti semula, hijau dan basah. Sama seperti aku, yg tak pernah bisa kembali padamu, kembali pada kehangatan yg dulu tercipta.
Aku bertahan karena alasan, aku bertahan karena perasaan, dan aku bertahan karena meninggalkanmu tak semudah kedengarannya. Setiap hari, rindu ini semakin terjadi, semakin membesar dan semakin tak bisa terungkapkan. Secangkir susu di pagi hari tak pernah membuatku merasa lebih baik, bahkan tidur dengan mendengarkan sebuah alunan musik pun tak kunjung merubah suasana. Ada apa dengan ku? Ada apa dengan hati ini? Ada apa dengan tubuh ini? Mengapa selalu menolak rasa nikmat di setiap detiknya, apa seperti ini jatuh cinta lalu terjerumus pada rindu? Padahal, sebelumnya aku tak pernah merasakan sesakit ini merindu.
Lihatlah kata-kata indah Khalil Ghibran yg membuatku semakin merana oleh mu, kata-kata indah nan romantis yg ia rangkai menjadi kalimat spektakuler. Bahkan, ingin rasanya mata ini menjatuhkan bulir-bulir air yg menggenang, menjatuhkan diri ini pada sebuah perasaan yg tak kunjung padam.

Hallo sayang, dengarkan aku, ketika hati ini tak sanggup lagi menahan beratnya perasaan ku padamu, tolong jangan pernah sakiti sekecil apapun, sekalipun kau menolak semua perasaan yg tumbuh di hatiku, jangan pernah kau lukai. Karena aku, masih ingin mencintaimu, masih ingin bisa melihat senyummu, masih ingin merasakan tawa bersamamu. Dan aku, masih belum sanggup untuk merasakan pedihnya ditinggal oleh sebuah virus yg membawaku pada kebahagiaan. Jika aku tak sanggup menahan rindu ini, aku ingin mengatakannya padamu, memeluk mu erat dan menangis di dekapanmu, melepaskan semua perasaan yg ada, melepaskan semua keluh kesah ketika merindukanmu. Sesakit ini kah? Bahkan bekas luka yg pernah aku miliki bersamamu pun tak sebanding dengan rasa sakit ini. Jelaskan padaku, sayang. Ketika hati berkata perasaanku padamu bukanlah sebuah kata-kata dan ungkaian nada lalu apa arti dari perasaan itu sesungguhnya? Jelaskan padaku, sayang. Mengapa hati ini begitu ingin menginginkanmu, bahkan ketika aku sedang tertidur kau datang dalam mimpi yg dangkal. Jelaskan padaku, sayang. Mengapa kau terciptakan bukan untuk ku? Dan jika benar ada orang yg benar-benar terciptakan untukku, lalu kemana orang itu? Mengapa ia tak kunjung datang? Setidaknya menghapus rasa sakit merindukanmu. Ingin rasanya aku berteriak, menghabiskan semua pita suara yg aku punya, agar aku tak dapat lagi mengatakan dan berkata bahwa aku sangat-sangat merindukanmu. Karena pada akhirnya, rinduku padamu tak pernah tersampaikan, dan tak hanya rindu. Bahkan perasaanku padamu pun tak pernah kau ketahui. Seharusnya aku bisa kaya, kaya untuk mencintaimu, karena selama ini telah mengagumi mu dalam diam, dalam keadaan hening yg tak mampu terganggu bahkan oleh ketukan pintu di hati dari orang lain.
Mungkin, aku hanya tercipta untuk menganggumi, bukan untuk memilikimu, bukan untuk menjadi pendamping keluh kesah dan senangmu. Tapi percayalah, aku bahagia mengenalmu, aku bahagia dapat dekat denganmu walau akhirnya aku tak pernah bisa menggapaimu. Bagaimana bisa aku menggapai bintang di langit sedangkan aku berada jauh dari bintang itu, mustahil. Ya mustahil, sangat-sangat mustahil.
Ingatkah kau pada kesan pertama kali kita bertemu? Lucu, ya sangat lucu. Bahkan aku ingin mengulangnya lagi, setelah berbagai kejadian menimpa hubungan kecil kita, hubungan yg tak seberapa, hubungan yg tadinya tak pernah mengenal menjadi saling mengenal. “Teman” dulu kita berteman, lalu kita bersahabat hingga akhirnya aku terpaut pada hati ini, merasa resah dengan semua yg aku rasakan padamu. Awalnya, hati ini menolak untuk mencintaimu, dengarlah, “mencintaimu”, konyol bukan? Aku tidak ingin merusak semuanya, merusak kebahagiaan yg pernah kita rajut bersama. Tapi, kau salah langkah, kau hancurkan semua hubungan indah itu. Membuat jarak yg sangat jauh antara kita, mungkin sebuah jembatan yg sangat panjang sehingga sulit untuk kembali bersama. Tetapi suatu waktu kita kembali merajut hubungan itu, lalu kandas kembali, apa semudah itu kah bagimu melepas perasaan yg aku rasakan? Walau kau tak pernah tau itu. Aku lelah, sangat lelah, memikirkanmu setiap hari sekalipun itu bukan keinginanku, mengharapkanmu kembali sekalipun itu tidak mungkin. Dapatkah aku berbicara sepatah atau dua patah kata kepadamu? Menceritakan keluh kesah semua perasaan yg aku rasakan padamu. Sakit, lelah dan menyebalkan. Dan, dapatkah aku berbicara pada waktu untuk mengembalikan semua yg pernah terjadi antara aku dan dirimu? Mengembalikan kebahagiaan ini, dan mengembalikan senyuman tulus dari bibir ini, sayang?
Ah, biarlah, aku hanya dapat tersenyum dan mengagumi mu dalam diam selama ini. Membiarkan semuanya berjalan seperti tak ada apa-apa diantara kita, bahkan setelah 3 tahun terakhir kita saling mengenal, dan sudah 2 tahun pulang kita saling berjauh. Sakit, sebenarnya, tapi aku bahagia pernah merasakan perasaan ini walau tak pernah tersampaikan padamu. Dan jika suatu saat nanti kau mengetahui hal ini, tolong jangan pernah jauhi aku lagi. Jangan pernah. Sekalipun perasaan ini, hanya akan bertaut pada rasa perih dan terluka, biarlah. Karena yg merasakan ini hanya aku, dan kau tak perlu repot mengobati ku karena kau sudah tak peduli apapun keadaanku, benarkan? Jadi, biarlah perasaan ini terus tumbuh lalu mati seperti bunga, mekar lalu layu kembali, biarkan perasaan ini mati dimakan waktu. Satu hal dariku, jangan pernah jauhi aku, hanya itu. Sulit kah? Dengan semua kesalah pahaman yg terjadi antara aku dengan mu. Sesulit ini kah memperbaiki keadaan ini?
Sakitnya ditinggalkan olehmu itu, lebih perih dibanding harus menahan rindu dengan kehadiran tawamu di setiap hariku.

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s