Tell Me, What Happen With This Love?

Mungkin aku pernah di cintai, tetapi aku mengabaikannya. Dan kini, aku mencintainya dan ia tak menghiraukanku. Apakah ini adalah balasan dari semua rasa sakit yang ia derita ketika aku mengacuhkannya? Apakah ini adalah karma dari perasaannya padaku? Apakah..

Apakah..

Dan apakah..


Hanya itu yang ada di fikiranku sejak tadi, mencoba berfikir dan mencari jalan, mencari arah, mencari jawaban, apa yang sebenarnya terjadi di balik hati ini atau hatinya.

Tuhan memang adil 🙂 bahkan aku harus terima semua rasa sakit yang pernah ia derita dengan membalikan semuanya padaku yang pernah menyakitinya. Mungkin hampir setahun lamanya, ah aku tak tahu pasti mengenai itu.


Hai hati, apa kau baik-baik saja dengan perkataannya barusan? Tentu! Harusnya kau baik-baik saja atas semua perlakuanmu yang pernah di deritanya. Tentu, harusnya kau tak perlu merasa paling tersakiti karena ini adalah balasan dari semua perbuatanmu di masa lalu padanya. Mungkin kau akan di tinggalkan, mungkin kau tak akan pernah di percayai olehnya lagi, mungkin saja.

Mungkin..


Tetapi, apakah boleh aku berkata jujur akan sesuatu yang terjadi pada hatiku?


Mungkin, kita pernah saling mencintai.


Mungkin, kita pernah saling melindungi.


Dan pasti, aku pernah menyakitimu dengan rasa sakit yang tak pernah terkira adanya.


Aku, sebagai orang pertama yang menjulukinya sebagai cerita. Seakan bertanya, apakah ada akhir bahagia di balik cerita suram dan suntuk cinta ini?

Aku, sebagai peran pertama dalam cerita ini mendapatkan sebuah jawaban yang pantas jika aku harus membandingkan rasa sakit yang di deritanya saat itu.


Bodoh..


Ya.

Memang, aku adalah makhluk paling bodoh jika harus berakhir dengan menyesali semua perbuatanku di masa lalu. Masa lalu adalah hal yang paling jauh dalam hidupku. Dan aku harus bangkit dari masa lalu itu, jika tidak, mungkin aku akan tertinggal jauh ke depan.


Tetapi, hatiku merasa berkata bahwa aku tidak perlu mendapatkan semuanya secara langsung dan bertubi-tubi. Seperti hari ini.


Rasanya, hatiku hancur berkeping-keping.


Rasanya, dayaku mencinta telah hancur lebur karena perasaan sakit yang amat dalam 

hingga aku tak tahu harus berkata apa lagi untuk mengutarakan rasa sakit itu.


Jika saja, akulah yang pertama kali tersakiti. Apakah ia akan merasakan hal yang sama denganku kali ini? Aku harap tidak. Karena ini memang seharusnya berjalan seperti ini.

Jadi tak ada alasan untukku.


Untuk menolak semua balasan dari semua perlakuanku, padanya.


Jika saja, waktu bisa di putar kembali. Apakah aku bisa memperbaiki setiap detail kesalahan yang pernah aku lakukan padanya sehingga ia bisa menerimaku kembali seperti ada kalanya dulu ia mencintaiku?


Apakah kali ini aku terlihat seperti mengejar sesuatu yang telah hilang dari dalam diriku? Apakah aku terlihat seperti manusia tanpa arah karena kehilangan orang yang di kasihinya? Apakah aku terlihat bodoh dengan semua yang kulakukan?


Jika begitu, biarkanlah aku menyadari kebodohanku dan menolaknya untuk kembali. Menolak untuk datang kembali pada perasaan yang sama. Apakah aku harus bersumpah hanya demi meyakinkanmu bahwa AKU AKAN BERUSAHA SEKUAT TENAGA UNTUK MELUPAKAN SEMUA KISAH ITU, PERASAAN ITU, DAN KENANGAN ITU.


Aku seperti hantu gentayangan yang tak bisa beristirahat dengan tenang jika yang di carinya belum pernah teraih. Aku seperti menghantui bayang-bayang kenanganku sendiri. Bodoh. Ya. Sangat bodoh.


Hingga aku tak bisa membedakan mana penyesalan dan kebodohanku. Andai saja ada alat yang dapat membedakannya mungkin aku akan berada di ambang kebodohan, bukan penyesalan dan berusaha bangkit. Melainkan kebodohan yang sudah tahu akan terjadi seperti itu, tetapi tetap berusaha mengejarnya.


Apakah aku benar-benar terlihat bodoh sekarang? 


Mengejar cinta yang dulu pernah aku sia-siakan.


Mengejar rasa rindu yang dulu sangat ia banggakan hingga aku lelah mendengarnya 

mengoceh.


Mengejar semua kekhawatiran yang dulu ia torehkan padaku dan kini aku merasa membutuhkannya.


Aku hanya ingin berkata jujur pada diriku sendiri. Penyesalan memang datang di belakang, tetapi apa aku salah jika harus kembali mencintai dirimu yang telah semakin membuatku terlena?


Tuhan, tolong katakan bahwa cintaku benar! Tolong katakan bahwa cintaku dapat membawaku padamu dengan tenang. 

Tapi Tuhan, tolong buat ia mengerti penyesalanku. Tolong jangan buat ia tersakiti karenaku untuk kedua kalinya. Tolong buat ia tahu, bahwa menyesalinya adalah anugerah untukku. Untuk belajar menata kembali puzzle yang dulu pernah aku rusak dan aku hancurkan. 


Aku tahu, Tuhan. Sebuah piring yang pernah pecah tak akan kembali utuh seperti dulu. Tapi, aku disini untuk berusaha menata kembali, menyatukannya menjadi piring yang utuh walau tak seutuh dulu. Aku berusaha merapatkan kembali serpihan-serpihan tajam walau harus menusuk jari-jariku, seperti sekarang. 

Ia menusukku dengan tajam, menusuk hatiku dengan perkatannya yang sangat menyakitkan. Tapi aku tak akan menyerah dan akan membuatnya kembali melingkar dan rapat. Hingga tak ada lagi serpihan tajam yang melukai jariku.


Tuhan, katakan padaku bahwa mencintainya itu benar. Katakan padanya bahwa aku membutuhkan kesempatan yang tak akan aku biarkan pergi. Menyakitkan rasanya harus kehilangannya untuk kesekian kalinya.


Tuhan, katakan jika aku salah mencintainya. Katakan padanya mungkin aku lebih baik mundur dan berhenti memperjuangkan cintaku yang sama sekali tak pernah tertoreh membuka pintu hatinya. Menyakitkan rasanya jika ia harus menerima cintaku tetapi hatinya bukan tertuju padaku.


Dan Tuhan, izinkan aku membuatnya tersenyum bahagia jika suatu saat jawabanmu adalah salah untuk mencintainya. Izinkan aku menatap senyum tulusnya untukku, walau itu adalah akhir dari semuanya.


Dan terimakasih, Tuhan. Jika jawabanmu adalah benar. Izinkan aku untuk terus bertahan tanpa haluan mencintainya. Hingga tak akan ada lagi penyesalan yang datang dalam hidupku untuk mencintainya. Dan tak akan ada rasa sakit untuk kesekian kalinya kehilangan dirinya yang tak pernah aku hiraukan.


Dia adalah tumpuanku, tujuan akhir cintaku, imam keluargaku, pemimpin keluargaku, dan tentunya ayah dari anak-anakku kelak. Jika itu adalah jalan yang terbaik untukku Tuhan, maka biarkanlah cinta ini terus mengalir padanya tanpa harus mengalahkan cintaku pada-Mu. Biarkanlah cinta ini menjadi do’a untukku padanya, agar senantiasa terlindungi dari dosa. Jadikanlah cinta ini anugerah menuju keridhoan cinta-Mu yang sesungguhnya Tuhan. 


Meski aku harus berusaha tetap kuat dan tegar di hadapannya, seakan tak terjadi apa-apa. Aku bisa, Tuhan.

Jika ia akan berakhir menjadi tumpuan hidupku dalam bercinta di dunia ini. Aku akan berusaha, Tuhan. Meyakinkannya bahwa aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Demi dirinya, yang selalu membuatku kuat dan menambah ketabahan hati dan imanku..


Terimakasih, wahai engkau yang sekarang ada di dalam do’aku. Suatu saat, kita akan bertemu di sebuah pintu. Pintu yang akan terbuka lebar, pintu yang menyadari hati masing-masing untuk saling memilih tujuan akhirnya. 

Pintu yang akan membawaku pada kenyataan. Apakah aku harus tetap mencintaimu dengan menerimamu sebagai imamku, atau aku harus melepasmu dan mengikhlaskanmu sebagai imam wanita lain? Aku tak tahu.


Tak pernah tahu.


Yang aku tahu, hari ini..


Aku mencintamu, dengan ikhlas dalam do’aku.

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s