So, Goodbye

f18f14eaa6677fe708e28ebecd6d32a3

Rasanya memang tak pernah adil. Semua yang pernah dirasakan, dari mulai hati, jiwa, batin, bahkan mungkin otak. Semuanya terasa sia-sia.
Rasanya seperti pernah mengalami ini. Jatuh cinta, tapi malah terjatuh betulan. Haruskah ini disebut dengan ‘Terbang cinta’? Agar terkesan cheesy dan lucu dibanding kan ‘terjatuh’.

Beberapa orang mungkin mengganggap ini hal yang sangat sepele, tak penting, tak berguna, bahkan benar-benar bodoh! Ini memang bodoh, konyol, saking konyolnya hingga tak mampu lagi menggunakan logika dan akal sehat.

Berandai-andai, hanya itu yang dapat diandalkan. Mengandai, jika saja tak pernah jatuh cinta. Mengandai, jika saja tak perlu bertemu pria seperti dirinya. Mengandai, jika saja terjatuh pada saat yang tepat, bukan disaat yang seperti ini. Ini terlalu menyakitkan.

Menangis saja tak cukup, seolah masih ada satu hal, ah tidak mungkin beberapa hal lagi untuk dilakukan. Untuk mengurangi semua kesakitan.

Aku menyesal. Merasa menyesal mencintai dia diwaktu yang tidak tepat seperti ini. Terlalu banyak pilihan, terlalu banyak aturan, terlalu banyak rasa sakit. Sering kali bertanya, ‘apa yang harus aku lakukan?’ tapi jawaban enggan pula datang.

Menyakitkan. Sungguh. Melepaskan itu tak semudah yang mulut bicarakan. Tak semudah yang tangan tulis. Jika saja bisa menjerit sembari protes, ‘MENGAPA DUNIA TAK ADIL? MENGAPA HARUS ADA PERPISAHAN DI BALIK LUCUNYA SEBUAH PERTEMUAN?’, rasanya ingin sekali melakukannya.

Just let me cry. Then let me to tell you if i love you more than words. Kadang, konteks kata ‘cinta’ begitu rumit untuk dijelaskan, bahkan dengan sebuah kata sekalipun. Memang cinta itu seperti apa? Apakah cinta itu selalu berujung dengan kesakitan? Memang apa salahnya dengan cinta yang berakhir dengan kebahagiaan? Mengapa aku merasa tak kunjung merasakan hal seperti itu. Di bawa terbang tinggi tanpa di jatuhkan. Ini seperti sebuah klise film, tak berwarna hanya hitam-putih tapi sangat panjang hingga berakhir menjadi kenangan.

Jika saja aku bisa jujur, meyakinkan diri sendiri, apa yang ingin aku lakukan, apa yang ingin aku katakan. Rasanya masih terlalu dini. Aku jelas mencintainya. Tak perlu kau tanyakan apapun lagi. Tapi apa kau pikir mencintainya itu mudah? Dengan semua aturan, dengan semua kegelisahan hati yang memilih? Aku hanya bisa berkata, ‘pasrah’. Tak ada lagi cara lain untuk membuatku bisa bersama.

Aku benci pada diri sendiri. Selalu jatuh cinta pada orang yang tidak pernah tepat. Selalu jatuh cinta pada waktu yang salah. Selalu jatuh cinta ketika diri ini sendiri bahkan tak mampu untuk sekedar berkata, ‘aku mencintaimu, juga.’

Lantas, cinta seperti apa yang sebenarnya aku rasakan? Hingga rasanya sulit untuk diungkapkan. Apakah harus berderai air mata? Apakah harus diiringi canda tawa? Atau harus apa? Aku tak tahu. Tapi aku tak pernah bisa menyembunyikan perasaan suka. Semuanya mengalir ketika bersama. Semuanya terasa baik-baik saja. Nyaman dan membuatku seolah menyesal jika pergi.

Tapi, aku tak bisa terus bersama. Waktu memilih untuk memisahkan. Dan suatu saat kita akan lupa pada satu masa dimana pernah berbagi bersama. Mengapa rasanya begitu sedih? Apakah perpisahan sesakit ini? Sesulit ini? Hingga air mata yang jarang di keluarkan saja mengalir dengan lancar tanpa hambatan.

Lucu ya, setiap orang datang dan pergi menyimpan rasa kemudian meninggalkan luka. Seperti tak memiliki dosa. Terus berjalan tanpa berpikir, ‘apa yang salah.’
Jika saja waktu bisa berputar, ingin rasanya membuang jauh semua rasa ini. Membuang semua pikiran tentangnya yang sangat mengganggu. Ya mengganggu! Tapi ia begitu membuatku rindu.

Lucu ya, ketika cinta jatuh terlalu dalam. Kau bisa lupa kau adalah siapa. Mendadak berubah demi orang yang dicintai. Mendadak menjadi orang lain demi orang yang dikasihi.
Lantas, apa yang salah jika ingin berubah menjadi lebih baik?

Ah melenceng. Aku hanya ingin jujur. Kau boleh pergi. Aku yang memintamu. Aku mohon jangan kembali pada waktu yang salah. Kembali jika aku sudah siap. Kembalilah suatu saat di saat aku membutuhkanmu. Meskipun aku ‘pasti’ akan selalu membutuhkanmu.

Dan, selamat tinggal! Yakinlah jika kita akan bertemu, nanti. Tunggu saja~

With love, if.

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s