[ONESHOT] Expression of Love ― ARRYLEA’s VERHAAL

EoL

A fan fiction with,
School Life featuring Romance sense.
Staring by Mark Lee of NCT U & Yuuki Haru of AOC.
Mark Lee’s and Author’s Point of View.
PG-15 for rating.

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Anggota NCT miliknya sendiri dan karakter lain adalah milik saya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap di pikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

expression of love
ARRYLEA’S

o

Sebagian orang lebih senang mengekspresikan cintanya dan sebagiannya lagi tidak. Sebagian orang juga lebih senang mengungkapkan cintanya dan sebagiannya malu-malu. Cinta itu sederhana namun terasa rumit. Dan kau tahu? Rumitnya melebihi matematika, apalagi perempuan.

Kakak laki-lakiku bilang, “Cinta adalah ekspresi.” Tapi sampai saat ini aku tak pernah paham ekspresi yang dimaksud.

Bahkan ketika aku memandang wajahnya, aku merasa biasa-biasa saja. Tapi, ketika dia mengenggam tanganku untuk pertama kali. Kenapa aku merasa dunia berguncang ya? Jadi guncangan ini adalah ekspresi itu?

Semua orang tahu, Fred cinta mati pada Anna. Katanya Anna adalah ratu dalam singgasana hatinya. Dan teman kelasku hampir tahu, bahwa Haru―teman sekelasku juga dan siswa pindahan dari Jepang―itu menyukaiku. Dan gilanya mereka menyuruhku untuk menjadikannya kekasih.

⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜

Tarik nafas . . .

Buang . . .

Tarik nafas . . .

Buang . . .

Ini sudah kesekian kali sejak Mark menunggu Haru di depan rumahnya. Laki-laki yang baru puber itu berniat mengajak Haru untuk berangkat sekolah bersama. Selagi menunggu Haru, Mark tak henti-hentinya menggerakan diri. Ia terus menarik nafas berkali-kali, terkadang tangannya memegang dada dan kakinya tak henti berketuk. Ia gugup setengah mati.

“Maaf membuatmu menunggu, Ibuku sedikit sulit untuk dirayu ketika ia tahu aku pergi bersamamu.” Jelas Haru.

Mark terkesiap, gugup yang dirasakannya semakin memburuk. “A-ah ya, tidak masalah. Maaf telah membuat masalah dengan ibumu.”

Haru tertawa, “Tak masalah, Mark. Ayo pergi!” ajaknya. Mark mengangguk.

Keduanya berjalan berdampingan. Menuju satu tempat yang sama. Halte dan sekolah.

Mark yang sibuk dengan kegugupannya, mencoba menutupinya dengan memasukkan kedua tangan kedalam saku celana jeans jahitan ibunya. Sementara Haru berjalan menduduk sambil memainkan ujung pakaiannya, sama-sama mencoba mengusir rasa malu.

“Ini bukan hal yang sulit, tapi tak semudah seperti yang aku pikirkan.” Selah Mark, menembus keheningan.

Haru mengangguk, “Maaf merepotkanmu terus. Seharusnya kau tak usah pedulikan ucapan mereka. Bodohnya kau percaya bahwa aku menyukaimu.”

“Jadi kau tidak menyukaiku?” tangkas Mark cepat. Terkejut dan―masih―malu.

Haru tak menjawab, gadis ini malah semakin menunduk. “Haru jawab aku!” pinta Mark setelah melihat ekspresi Haru yang begitu lucu karena malu.

“Jangan bohong kalau kau memang menyukaiku.”

Haru menghembuskan nafasnya kasar. “Ini aneh Mark, aku merasa aneh jika perempuan menyukai laki-laki duluan.” Jujur Haru polos.

Mendengar hal itu keluar dari belah bibir Haru, Mark tertawa. “Itu tak masalah, Haru. Sungguh, lagipula setelah aku pikir-pikir. Kau lucu dan ehm―cantik.” Pujinya.

Membuat Haru lekas membiarkan katup bibirnya terbuka lalu menatap Mark tanpa berkedip. Kemudian cepat-cepat memalingkan wajahnya lagi. “Kau berlebihan.” Katanya.

“Aku serius.” Sadik Mark sambil memamerkan dua jari yang ia angkat.

Halte sudah mereka pijak sekarang. Mereka kini sedang menunggu benda besar berwarna kuning yang siap mengantar-jemput mereka ke sekolah. Mungkin sekitar 10 menit keduanya menunggu. Duduk di kursi sambil memainkan genangan air―semalam hujan lebat.

“Mark, busnya sudah sampai.” Tukas Haru, lantas menepuk pundak Mark. Memumurkan lamunan si pria.

Seluruh pasang mata―terkecuali supir―menatap keduanya aneh sejak mereka memasuki bus bersamaan. Sesaat, kemudian mereka kembali pada kegiatan yang tertunda. Kecuali teman satu kelas Mark dan Haru, tentu saja. Mereka heboh dan sibuk kasak-kusuk, membicarakan Mark dan Haru. Dan nampaknya Haru merasa risih dan malu.

Ketika itu juga, Mark menarik tangan Haru dan menggenggamnya. Mencari kursi kosong di bagian belakang untuk mereka duduki.

“Maaf mengenggammu tiba-tiba, aku tak suka mereka bergosip jadi aku ehm―membuat itu menjadi nyata saja,” kata Mark ragu setelah mereka duduk.

Lagi-lagi Haru tak menjawab. “Haru, sungguh maafkan aku. Jangan marah.”

Haru menggeleng.

“Haru kau kenapa?”

Haru sungkan menjawab dan memilih menggeleng―lagi.

Mark menyandarkan punggungnya lalu menepuk jidatnya pelan namun keras. Ia merasa kacau setelah lancang pada gadis pemalu macam Haru.

Haru kemudian menyentuh tangan Mark. Untuk pertama kalinya, Mark di buat tak karuan oleh seorang gadis.

“Maaf, aku tadi benar-benar malu. Tak apa-apa. Tak masalah. Aku senang kau mau menggenggam tanganku.” Sahut Haru, akhirnya membuka suara.

Iris Mark beralih pada Haru, lalu bibirnya tersenyum. “Akan ku genggam tanganmu lagi lain kali.” Gombal Mark.

Haru mengulum senyum. Menutupi rasa malunya kembali dengan menunduk. Tiga sekon kemudian Haru memperhatikan Mark, sedangkan yang diperhatikan hanya fokus pada kursi di depannya. Pandangannya begitu kosong, seolah memikirkan hal berat. Haru akhirnya berhenti menatapnya.

“Aku ingin berbicara banyak hal denganmu sepulang sekolah nanti. Di halte tempat kita menunggu bus tadi pagi.” Sahut Mark ketika mereka turun dari bus dan menuju kelas. Berlalu meninggalkan Haru dengan memilih ke kelas duluan seorang diri.

⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜

Semua teman kelas semakin riuh ketika Mark dan Haru lagi-lagi pulang ke rumah sama-sama. Anna menyindir Mark ‘seperti tak punya rumah masing-masing saja’ karena cemburu dan Fred hanya diam mendengar Anna. Sementara Ben dan Danies paling heboh mendukung keduanya.

Dan lagi Mark mengenggam tangan Haru. Mencoba menghilangkan rasa malu Haru dan cepat-cepat pergi ke halte yang dimaksud.

⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜

Mark dan Haru hampir kehabisan nafas ketika sampai di halte. Mereka berlari sebisa mungkin untuk menjauh dari teman-temannya. Jarak sekolah hingga halte dekat rumah Haru tak terlalu jauh tapi tidak pula dekat. Dan itu membuat mereka tak henti menghambil oksigen sebanyak mungkin sebelum kehabisan.

“H-h-haru.” Panggil Mark terpotong dengan nafas yang tersenggak. “Maaf.” Sambung akhirnya.

Mark yang semula membungkuk, terbangun. Mengambil tempat duduk dan beristirahat di atasnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Haru sedikit menunduk karena berdiri di hadapan Mark.

Mark menepuk kursi di sampingnya, menyuruh Haru untuk duduk terlebih dahulu. Baru ketika Haru duduk, Mark mulai mengubah posisi tubuhnya, menatap gadis di sampingnya.

“Haru,” panggil Mark lembut. “Aku ingin kau jujur tentang perasaanmu.” Pinta Mark.

Haru yang mendengar itu lantas terkejut dan semakin menenggelamkan wajahnya di antara leher, menyembunyikan rasa malu.

“Jangan menunduk terus, kumohon. Jujur saja.”

Tak ada reaksi dari Haru.

“Haru hey.” Panggil Mark. “Apa kau menyukaiku?”

Haru mengangguk.

“Baiklah, kenapa?”

Haru menggeleng.

“Apa kau menyukai seseorang selain aku?”

Haru menggeleng lagi.

“Jika aku menyukai perempuan lain, kau tidak apa-apa?”

Haru terdiam agak lama, kemudian mengangguk pelan.

“Kau rela jika aku berkencan dengan perempuan lain?”

Haru mengangguk, gerakannya lambat. Ia menahan tangis.

Setelah banyak hal yang ia rasa pantas untuk berbahagia bersama Mark ternyata tak sesuai ekspetasi dan berubah menjadi delusi. Gadis itu ingin sekali menutup wajahnya, ia malu, ia sedih, tetapi ia senang. Setidaknya Mark tahu perasaannya walaupun pada akhirnya Mark menjatuhkannya begitu saja setelah laki-laki itu menggenggam erat tangannya di depan semua teman-teman.

Mark tak mengajukan pertanyaannya lagi. Ia berpindah posisi, berlutut menghadap Haru.

“Haru,” panggilnya. Mark menggenggam tangan Haru lagi.

“Kau menangis?”

“Hey Haru?”

Air mata Haru tak lama bertahan akhirnya hingga tetesannya membasahi tangan Mark yang tengah menggenggamnya.

Merasa sesuatu yang basah menyentuh kulitnya, Mark panik. “H-haru! J-jangan menangis!”

“Aku tak bermaksud untuk membuatmu menangis!” Mark menggengam tangan Haru semakin erat.

“Haru lihat aku!”

Haru semakin mengeluarkan air matanya.

Kesal, Mark berdiri lantas menarik Haru untuk ikut berdiri. Haru memang menurut, tapi ia masih menunduk.

Mark menarik dagu Haru, memerintahkan untuk melihat wajahnya.

“Haru.”

“Kau perempuan itu. Kau perempuan yang aku ingin kencani.”

Mata Haru berbinar seketika ia mendengar Mark berbicara, tetapi seketika itu pula ia semakin menangis dan mencoba untuk menunduk kembali. Tapi Mark menahannya, mempertahankan wajah Haru untuk terus menatapnya. “Jangan membuatku seolah berbicara dengan benda mati, Haru! Jawab aku!”

“A-aku harus jawab apa, bodoh!”

“Aku menyukaimu! A-aku-aku sudah berusaha untuk tidak menangis di hadapanmu! Tapi aku tak bisa! Kau sialan! Menyebalkan! Mempermainkanku! Aku membencimu!!”

Seketika saja Haru mengeluarkan semua kekecewaannya. Dan sontak membuat Mark menjauh satu langkah dari Haru.

Mark tertawa, “Ya Tuhan! Astaga. Aku hanya becanda, maafkan aku. Aku hanya ingin tahu reaksimu seperti apa. Ternyata kau menangis. Astaga, maafkan aku sungguh maafkan aku.”

“Berisik dasar kau bodoh!” ujar Haru sambil mengusap kedua air matanya.

“Jangan menangis lagi aku mohon.”

“Mark bodoh!”

“Oke-oke aku memang bodoh.” Mark mendekat lagi, memeluk Haru. “Jangan menangis lagi ya?”

Lama sekali Mark memeluk Haru, seolah mereka akan pergi dan takkan bertemu. Haru mendorong Mark pelan, melepaskan pelukan. Wajahnya masih muram penuh tangis. “Ini sudah hampir sore, ibu pasti mencariku.” Ucap Haru.

Mengerti apa maksud Haru. Mark mengangguk. Lantas menyodorkan tangannya, siap untuk menggenggam Haru lagi. Haru tersenyum, “Terimakasih Mark,” adalah kata yang meluncur dari kedua belah bibirnya ketika menerima genggaman tangan Mark.

Di halte South Spring inilah Mark tahu cinta itu serumit perempuan. Cinta itu ekspresi yang sulit diungkapkan tapi mudah dirasakan. Mark yakin mencintai Haru bukanlah hal yang buruk. Yang jelas ketika Mark bersama Haru, ia merasa percaya diri. Haru adalah panggung teaternya.

⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜

Setelah bertemu Haru, sepertinya aku mulai sadar sekarang ekspresi cinta itu seperti apa. Aku ingin berterimakasih pada Haru telah membuat ekspresi cinta yang begitu luar biasa. Haru, kau adalah gadis pertama yang aku cintai setelah ibuku dan kau adalah gadis pertama yang membuat duniaku berguncang.

Kepada kakak laki-lakiku, George Lee. Aku tak akan pernah menjadi seperti ini tanpa pepatah gila bernama “EKSPRESI CINTA” yang kau maksud itu. Terimakasih. Berkat kau aku menemukan Haru di umurku yang telat mengalami masa pubertas.

Oke aku sudah 18 tahun, asal kau tahu. Maafkan pubertasku yang telat.

Haru!! Terimakasih. Aku menyayangimu selalu.

 

 


 ARR’s NOTES

Kuy! Mau bawain debut ffnya Makeu. Maafkan receh, garing, ga jelas. Apadah pokonya maafkan jelek:’v

Thanks for reading💕🙈😂

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s