[VIGNETTE] Kapan? Entahlah… ― ARRYLEA’s VERHAAL

e6826977fed4eda74000510c73ac3ad4

A fan fiction with,
Sad, maybe Angst, Hurt/Comfort
Staring by Kai‘s EXO and You
Park Jimin’s BTS
and Choi Jinri’s ex-f(x) mentioned
Someone’s Point of View.
PG-17 for rating.
(Ada beberapa kalimat yang ‘sedikit’ kasar dan berkonten dewasa di dalamnya, mohon dipahami dengan bijak)

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Kai miliknya sendiri dan karakter lain adalah milik saya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2016© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Jongin’s Fanart credit to Pinterest

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

Kapan? Entahlah…
ARRYLEA’S

o

Based on prompt by springmatchaflw

“He’s asshole. Just broke up with him!”

“I can’t. He’s took my virginity.”

 

-o0o-

 

Entah sudah berapa liter air mata yang aku dedikasikan untuk seorang Kim Jongin. Laki-laki itu selalu menjadi alasan dibalik air mata yang sama. Pagi ini, seperti biasa, sarapan kami adalah persilihan. Mau itu masalah kecil atau masalah besar, aku dan Jongin tak pernah akur. Dan lucunya lagi permasalahannya selalu sama. Cemburu.

Aku terduduk sambil menatapnya nanar, air mata lagi-lagi menghiasi wajah yang sudah tak karuan bentuknya. Sementara Jongin hanya balik menatap, airmukanya tak kalah merah menahan amarah.

“Besok kau tak usah pulang kemari! Tinggal saja sana bersama Jimin-Jimin-mu itu!” Jongin merecokiku seperti biasa sambil menunjuk-nunjuk arah pintu. Aku tak mampu mengeluarkan kata lain selain maaf. Padahal sudah jelas Jimin hanyalah teman sepermainanku saat kecil. Tapi Jongin memilih untuk berpura-pura tuli dan mengomong kosongkannya dengan kata selingkuh.

“Terus saja menangis sampai air matamu habis! Aku tak butuh air mata sampahmu!” Dobrakan pintu menemani langkah Jongin keluar dari rumah kami. Membuat hati semakin teriris melihat tingkah lakunya begitu membuatku ingin mati bunuh diri.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis ketika perubahan sifat Jongin berputar 180° dari tadi malam. Dalam satu malam, Jongin bisa membuatku bergairah disekali sentuhannya, tapi esok hari, ia bisa membuatku merana dalam sekali kata. Selalu saja ada permasalahan yang dibuat-buat olehnya setiap pagi. Marah karena cemburu, resah karena tak dibelai, bahkan mengamuk karena kurang kecupan. Parahnya, sifat tak berakal Jongin tetap membuatku bertahan bersama.

 

-o0o-

 

Perginya Jongin dari hadapan tadi pagi tak membuatku berpikiran buruk apa yang akan ia lakukan di luar sana. Setelah ia puas mengobrak-abrik macam-macam barang di ruang tamu, dengan senang hati aku membersihkan dan merapihkannya seperti semula, seolah-olah kejadian tadi pagi hanyalah mimpi tak kasat mata. Aku mungkin tak berotak membiarkan hatiku sendiri terbunuh dengan semua perlakuan Jongin. Tapi kau harus tahu, Jongin dulu adalah pria paling baik sejagad raya. Ia rela mengeluarkan kocek besar untuk tinggal berdua, ia rela banting tulang demi bisa makan bersama, dan terutama ia mau memelukku kapanpun kuminta. Laki-laki itu mampu membuatku luluh dalam satu kali rengkuhan.

Tapi itu dulu. Jauh sebelum Jongin menanggalkan kata setia yang sekarang tak ada artinya. Aku tak pernah tahu pasti apa yang membuat Jongin berubah begitu banyak, ketika Jongin diluar, yang kupercayakan hanyalah kantor tempatnya bekerja. Bahkan otakku tak pernah sama sekali menduga dia akan selingkuh dengan wanita. Tapi kenapa dia selalu menuduhku hal serupa? Aku tak pernah paham.

Selesai dengan urusan ‘pembersihan’, seperti biasa, Jinri akan datang ke rumah kami untuk menemani rasa sepi di rumah sendiri. Tepat pukul 12.20, Jinri mengetuk pintu sembari masuk.

“Rapih, seperti biasa.” Jinri memuji―lebih tepatnya mengejek. Gadis itu kemudian duduk di sampingku, menyingkap kakinya bertopang di atas lutut.

“Kali ini apa yang membuat si Jongin menggila?”

Aku terkekeh, memicingkan ujung kurva bibir sebelah. “Cemburu karena Jimin.”

“Benarkan, dia gila.” Jinri menarik tumpukan majalah yang ada di kolong meja, membukanya satu persatu halaman.

Dia memang gila, tapi lebih gila ketika di atas ranjang, Jinri; sahutku dalam hati. Terkadang kau tak perlu alasan untuk mencintai seseorang yang bahkan begitu menyiksamu sedalam dasar lautan. Cinta itu buta.

“Kemarin Jimin bilang akan melamarmu, kau menerimanya?” aku bersuara mengalihkan pembicaraan dari Jongin. Posisiku masih sama, bertopang pada sofa sambil memijit pelipis.

Jinri menatapku sejenak, seolah bingung dengan kalimat yang terlontar dari ujung bibirku. “Siapa bilang? Sejak kapan Jimin melamarku?”

“Tapi kemarin dia bilang?”

Gadis itu menaikkan bahu. “Bukan Jinri aku, kau kira nama Jinri itu hanya aku satu-satunya?”

Ah… aku menghela nafas. Benar juga. Nama Jinri pasaran sama seperti nama Jimin.

Meskipun acaranya bertema: menemani, tetap saja sepi melingkupi kami sendiri. Jinri fokus pada majalah fashion lama yang sengaja kusimpan sebagai bahan referensi dan aku sendiri duduk termenung sambil menopang dahi. Bahkan menit demi menit terlewati dan tak ada frasa yang keluar dari bibir kami. Aku kira hari ini akan benar-benar membosankan mengingat Jinri sepertinya tak memiliki ketertarikan apapun untuk pergi jalan-jalan atau mungkin sekedar menyesap kopi di kedai.

“Hey, aku ingin bertanya.” Jinri langsung menoleh padaku seraya menyimpan majalah. Memecah keheningan yang sudah berlangsung selama 20 menit.

“Tanya saja.” Balasku tak peduli.

“Apa sih yang kau harapkan dari seorang Kim Jongin itu?”

Mendengar pertanyaan Jinri, aku menaikkan alis. “Maksudmu?”

“Kenapa kau tetap bertahan mencintainya seperti ini? Kau ini sinting ya?”

“Kau bicara apa sih?”

Kesal. Jinri menampar pipiku beriringan dengan pekikkan yang keluar dari bibirku. “JINRI!”

“Aku hanya mencoba untuk membangunkanmu dari alam mimpi.”

“Mimpi apa-apaan?!”

Jinri menghela nafas. “Kau ini benar-benar sinting, hah? Diperlakukan semena-mena oleh lelakimu sendiri tapi kau tetap setia padanya. Menuduhmu hal yang tidak-tidak, bahkan merengek seperti anak kecil yang meminta balon hanya karena hal sepele. Kau ini waras tidak mencintanya?”

“Aku waras mencintainya.”

“Dia brengsek. Putus saja dengannya!”

Aku tahu. Aku tahu. Bukan hanya Jinri yang meminta, Jimin pun sama. Tapi, aku mana bisa putus dengan Jongin.

Sambil menukuk aku menjawab, “Aku tidak bisa. Dia…, dia mengambil keperawananku.”

Berakhirnya kalimat yang aku ucapkan dengan tersendat, air mataku mengalir tanpa tameng. Benar, itu benar. Jongin mengambil segalanya dariku dan itu alasan kenapa aku tetap bertahan. Sejak hari dimana aku hampir kehilangan rasa hormatku sebagai perempuan, Jongin bukanlah lagi laki-laki manis yang kukenal. Dia bagai iblis bermuka malaikat. Seperti yang sudah kubilang, semalam dia bisa membuatku bergairah, mencumbu dengan wajah tampan yang mampu melumpuhkan, tapi esok hari sifat iblis tak tahu diri itu kembali datang. Perubahan sifat Jongin terlalu visibilitas dan aku sudah biasa diperlakukannya.

Terlihat ekspresi Jinri yang tak percaya. Seharusnya dia juga tak perlu merasa terkejut mengingat sudah 1 bulan ini aku dan Jongin tinggal bersama, melakukan hal tak senonoh untuk kepuasan nafsu semata, kenapa tidak? Kami sama-sama bahagia melakukannya.

“Kau bodoh! Ke…kenapa kau mau melakukannya demi Jongin-sialan-itu?!”

Aku menggeleng, tak tahu, tak paham, tak mengerti, jangan tanya hal itu. Nafsu menguasaiku setiap kali Jongin menggoda dengan pagutan bibir manisnya. Melihat ekspresiku yang sudah jelas pasrah, Jinri menarikku dalam pelukannya. Menenangkan setiap detak jantung yang tak kuasa terkontrol karena rasa bersalah.

“Sudah kubilang ‘kan. Kau lebih baik bersama Jimin daripada Jongin. Aku pernah bilang itu padamu ‘kan? Kenapa kau tak menurut, bodoh?”

Terkekeh sambil menangis, aku berdecak kecil; Jimin katanya.
Dia seperti tak tahu kisah dibalik hubunganku dengan Jongin, dia seolah lupa apa yang membuatku jatuh hati pada lelaki berkulit tan macam Jongin itu. Apa Jinri lupa? Jimin yang mengenalkanku pada Jongin. Jimin pula yang mendukungku untuk menjalin hubungan dengannya. Kenapa pula aku harus mau bersama dengan Jimin? Jimin juga tak pernah mengungkapkan kata cinta untukku walau hanya sekedar kata I love you. Dan sekarang Jinri malah memintaku untuk kembali pada Jimin yang jelas-jelas sejak dari dulu tak memiliki hubungan apa-apa selain teman.

“Sudah berapa kali kau melakukannya?” Jinri bertanya lagi, mengingat aku yang tak menjawab pertanyaan sebelumnya.

Aku menaikkan bahu, beriringan dengan gelengan kepala. “Terlalu sering, sampai lupa.”

“Parah. Kau masokis dan dia merusakmu!”

It’s fine. Semuanya sudah terlanjur, Jinri.” Aku melepas pelukannya seraya tersenyum. Jinri menunduk, seolah menyesal kenapa pula ia harus menanyakan hal itu padaku. Ia juga seolah tahu, pernyataan putus itu malah membuatku sakit.

Sorry to says. Aku telat menyadarinya. Padahal selama ini aku yang paling dekat denganmu…. Arggh bodohnya aku!” Jinri memukul dirinya sendiri dengan bantal sofa, menghantamkan diri ke dalam lembutnya bulu-bulu bantal. Ingin mencegah tapi untuk apa, bantal sofa itu tak akan terasa sakit sama sekali jika dibandingkan dengan ranjang  yang Jongin bawakan padaku ketika ia mengamuk.

“Aku baik-baik saja, aku sudah bilang padamu ‘kan? Jongin akan berubah nanti.”

.

.

.

Iya nanti, entah kapan. . .

.

.

.

FIN

ARR’s note:

Maaf absurd. Wkwk. Thanks for reading!🙈😂💕

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s