[VIGNETTE] AGUST D’s Journal ― ARRYLEA’s VERHAAL

6e00e0a17d75b58f1435fcdac8cab820

A fan fiction with,
Sad, maybe Angst, Hurt/Comfort, Canon, Psychology
Staring by Min Yoongi’s BTS
Suga’s Point of View.
PG-17 for rating
(Ada beberapa kalimat yang ‘sedikit’ kasar di dalamnya, mohon dipahami dengan bijak)

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Min Yoongi miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2016© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Artwork credit to Pinterest

SUMMARY

“I kill my self. I lost my self. Can someone help me from this pain?”

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

AGUST D’s Journal
ARRYLEA’S

o

OCD atau Obssesive Compulsive Disorder. Penyakit jiwa yang bersarang dalam tubuhku sekian lama membuat jati diri ambruk dan jatuh pada hal-hal yang tidak pernah kuduga sama sekali. Kedepresian dan frustasi akan lingkungan baru, orang-orang baru, dan tempat ramai mampu membuatku bertingkah seolah-olah bukan diriku sendiri. Semua sifatku diambil alih oleh rasa frustasi dan depresi. Mereka semena-mena membuatku membantah sifatku sendiri. Sial.

Suatu pagi, ketika orang tuaku menemukanku dalam keadaan mengenaskan dan menyedihkan di dalam kamar mandi semalaman dengan tubuh mengigil. Aku seolah berpikir bahwa diriku ini sudah mati. Tapi itu hanya pemikiranku saja, ya, karena aku yang lain masih hidup dalam ketergantungan akan sebuah rasa depresi dan frustasi.

Mereka bertanya; “Apa yang terjadi?”

Dengan tubuh gemetar, lidah kelu untuk menjawab, aku menunjuk cermin di kamar mandi. Menunjuk orang lain yang tinggal di dalam tubuh seorang Min Yoongi. Anak bungsu keluarga Min.

Hari itu aku dibawa pergi mengunjungi rumah sakit untuk pertama kalinya seumur hidupku. 18 tahun umurku saat itu. Menghadap psikiater dan bertanya apa yang kurasakan selama ini.

Aku gugup.

Aku takut.

Aku benci tempat baru, orang baru, dan mengenal sifat baru.

Karena dengan begitu, rasa depresiku semakin menjadi.

Psikiater hanya memandangku kelam nan tajam. Seolah tak ada lagi harapan untukku hidup lebih baik dari ini. Sial, kenapa harus aku?

“OCD, hm?” suara psikiater itu menggema ruang telinga. O-C-D. Penyakit gila macam apa?

Orang tuaku bilang mereka tidak bisa memahamiku sama sekali. Mereka pikir aku memiliki gangguan kejiwaan. Dan itu benar. Ibu, Ayah, aku tidak gila, tapi psikis-ku terganggu. Bahkan aku juga tidak mengerti diri sendiri. Lantas siapa yang bisa mengerti keadaanku sekarang?

Aku terlahir sebagai laki-laki paling tidak peduli pada apapun. Bukan, sebenarnya bukan kemauanku. Tapi itu hanya untuk menutupi kelemahanku yang benar-benar takut akan orang baru. Bahkan sampai mengikuti organisasi dewan mahasiswa, menjabat sebagai wakil ketua yang berarti aku harus selalu bisa berhadapan dengan orang baru dan berbicara di depan banyak orang. Benar, aku memang memaksakan diri. Ini semua demi kelangsungan hidupku yang sudah tak karuan maunya seperti apa.

Kadang, aku jadi ingat cinta pertamaku di sekolah menengah pertama tahun kedua. Begitu miris dan sedikit memilukan ditinggalkan seseorang sepertinya. Aku paham kenapa dia ingin pergi dariku karena sifatku ini tak dapat ia mengerti. Aku egois, tapi aku mencoba untuk memahaminya sebaik mungkin karena dia lebih tua setahun dariku. Bahkan ketika ia meminta untuk memutuskan hubungan begitu saja, aku mengiyakan dengan alasan aku-tidak-mau-egois. Tapi kau tahu akhirnya bagaimana? Dia bersenang-senang dengan laki-laki baru tanpa memperdulikan aku yang memintanya untuk kembali. Aku memintanya kembali karena dasar keegoisanku. Aku ingin memilikinya lagi. Tapi dia tak peduli sama sekali dan aku benci. Aku benci karena aku masih memiliki sisa perasaan ini untuknya.

Diumurku yang menginjak 18 tahun. OCD dan pobia sosial jadi masalah terbesarku. Aku berpikir banyak hal. Bagaimana aku akan sukses dengan ban leher yang terikat di leherku seperti anjing ini terus mencengkram kuat? Aku terikat oleh rasa takut itu sendiri dan aku terlalu lemah hingga tak mampu melawannya. Seolah merasa kalah dan berubah menjadi monster yang serakah.

Teman-teman menjauhiku, mereka bilang aku galak, mereka bilang aku tak punya hati. Padahal aku hanya mencoba menjalankan tugas layaknya seorang wakil ketua dewan. Tapi nyatanya, aku salah lagi. Lantas bola basket jadi sasaranku untuk marah dan mengadu pada Tuhan; kenapa dunia sejahat ini padaku? Kenapa Kau biarkan aku hidup dengan rasa takut dan depresi seperti ini?

Ketika aku tidak peduli. Aku tidak benar-benar tak peduli. Aku hanya malu mengakui bahwa aku masih punya sisa kemanusiaan di dalamnya. Kesan sadistis dan sarkastis sudah jadi topengku bersembunyi. Sekali-kali tersenyum untuk mengubah persepsi mereka bahwa aku tetaplah manusia normal yang bersembunyi dibalik topeng iblis haus akan kekuasaan dan kesuksesan.

Aku sukses di masa sekolah. Menjadi murid teladan dan menjabat sebagai wakil ketua dewan. Ambisiku tak pernah habis. Bercita-cita jadi seorang arsitektur, pemain basket, dan seorang musisi. Semuanya berawal dari sebuah lagu lawas berjudul “FLY” ketika kelas 6 SD. Membuatku beralih dari buku-buku sekolah menjadi lirik-lirik lagu super genius yang sudah terkumpul banyak di kertas putih. Menulis sebuah iringan nada, mencurahkan semua isi hati dari mulai rasa sakit hingga kebahagiaan. Seratus berbanding seribu kali otakku berpikir frasa yang akan kutuangkan. Aku ingin semuanya terlihat sempurna tanpa ada cacat. Ya, aku perfeksionis dan takut akan kegagalan.

Temanku satu persatu mulai mengenalku dengan baik lewat lirik yang kutulis. Satu persatu juga mereka mengajakku bergabung bersama bandnya. Aku senang, tak pernah aku rasa sesenang ini bersama seorang teman. Mengiyakan dan bergabung dalam komunitas rapper underground terkenal pada zamannya. Aku menemukan genre-ku sendiri dan Min-Glossy sebagai nama panggungku.

Dari Daegu ke Seoul. Aku berjalan mengejar mimpi. Menendang omong kosong orang tuaku yang melarangku untuk berkarya dalam bermusik. Maaf, Ibu, Ayah, aku mengecewakan kalian. Tapi aku ingin sukses pada jalanku sendiri dan akan kubuktikan itu pada kalian walau aku harus menanggung perih yang amat menyiksa mengingat kalian benar-benar tak menyetujuiku sama sekali dan berharap aku akan jadi seorang arsitektur sekalipun yah…, aku juga menginginkannya. Sekali lagi, maaf Ibu, Ayah. Aku bukan anak yang baik, aku anak nakal, aku tidak pernah menurut, bahkan kalian terlalu sabar menghadapi sifatku yang sudah mengebal.

Bertemu dengan seorang bapak tua lewat audisi. Aku dijanjikannya menjadi seorang bintang. Merubah status sebagai seorang trainee, berlatih setiap hari dan aku berakhir pada batas rasa lelah. AKU MENYERAH. Aku mendatangi produserku, meminta izin untuk berhenti jadi trainee karena aku tak kunjung debut setelah 3 tahun berlatih. Rasa frustasiku datang lagi, dimana kaki-kakiku terluka dan sangat-sangat sakit. Aku bertengkar hebat dengannya. Meski akhirnya aku mengalah dan melanjutkan masa trainee-ku yang entah kapan berakhir.

Tapi harapan selalu ada kapanpun dan dimanapun. Hari dimana aku akan di debutkan sebagai idol telah datang. Jujur saja, aku kecewa. Bukan jadi seorang idol yang aku mau, produser musik atau seorang rapper hip-hop lebih keren bagiku. Meskipun begitu, aku yakin ini bukan hal buruk juga. Setidaknya aku bisa membuktikan pada semua orang. MIN YOONGI YANG (TELAH MATI) MENGALAMI GANGGUAN OCD DAN POBIA SOSIAL INI BISA SUKSES.

 

-o0o-

[160816]

 

Ini Suga. Atau bisa dibilang AGUST D. AGUS for backwords of SUGA and T D for backwords of D Town. Mixtape pertamaku telah rilis. Aku menyiapkan ini lama sebelum debut. Dan “The Last” adalah lagu paling emosional yang ada di dalamnya. Semua lagu ini menceritakan tentangku yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. Tentang kesehatan mental, depresi, keluargaku, pemikiran menjadi seorang rapper, memulai debut sebagai idola, dan perjuangan sebelum melewati audisi. Mungkin saja ini tidaklah familiar, ini lebih ke inkonvensional. Jadi, aku harap kalian tetap menyukainya dan menikmatinya. Terimakasih sudah mendukungku selama ini. Terimakasih sudah mau menampung segala emosi yang pernah kutorehkan disetiap lirik lagu yang kubuat. “I Like It”, “Tomorrow”, “Just One Day”, “Let Me Know” dan terakhir ‘AGUST D’ 1st Mixtape. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Terimakasih untuk segalanya. Karena kalian, setidaknya pobia sosialku tidak separah dulu.

 

FANCAFE 160816
©BTS_SUGA

Pemikiran soal musik itu datang dengan mudah, kemudian tiba-tiba menjadi sulit dan berubah jadi mudah lagi. Terkadang aku duduk selama seharian dan tak ada satupun inspirasi yang keluar dan suatu waktu aku berada disebuah tempat kemudian dalam 10 menit inspirasi itu muncul. Hm, aku membuat musik sudah 11 tahun dan sampai sekarang tetap saja sulit yah ㅋㅋㅋ seperti hidup.

―――――――――

Pertama kali aku membuat musik itu pada saat aku berumur 13 tahun.

Selama perjalanan panjang ini aku rasa aku bisa mengorganisir pikiranku terhadap orang sepertiku atau bisa saja aku mengorganisir pemikiranku pada ‘siapa aku’, aku tidak bermaksud menjelaskannya.

Di laguku, aku memilih beberapa orang untuk bekerja sama atau mencoba untuk menyimpan mereka (karya/musik) untuk album Bangtan, tapi ya…, aku rasa lebih baik membuat musik yang lebih bagus lagi omong-omong 🙂 (untuk project Bangtan).
Aku sudah lama bermusik melebihi apapun dari ini
ㅋㅋㅋㅋㅋ.

―――――――――

Aku menghabiskan sebagian waktuku untuk membuat musik, kau pasti berpikir ini melelahkan tapi di umur 24 tahun ini tidak ada yang bisa dilakukan lagi, aku sudah memiliki passion disana. Bahkan sifatku yang tidak sabaran, membuatku memulai sesuatu yang baru kapanpun agar tidak ketinggalan zaman.

―――――――――

Aku selalu ingin terlihat mengagumkan untuk seseorang.

Itulah kenapa aku kurang istirahat dan merasa kesakitan ketika memaksakan diri, bukan ingin merasa puas (pada kerjaanku), serakah, terlalu banyak berpikir atau sedih.

Keserakahan kadang bisa jadi senjata untuk mengalihkan amarah.

Ketika mengerjakan mixtape ini, aku seolah kembali ke masa 13 tahunku dan melihat kenangan buntu di ujung pikiranku. Ketika aku pertama kali membuat musik, mencoba melebihi seseorang yang sangat bagus dalam membuat musik, aku belajar untuk membuat musik yang nyaman dan emosional untuk seseorang.

―――――――――

Aku rasa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang memberikanku kenyamanan.

Kenapa anak muda ini begitu banyak kebencian?

Seorang laki-laki yang berekpetasi selalu jauh dariku disana sering kali membuatku mengepalkan rahang. Karena itu, aku selalu mencoba untuk memperlihatkanmu diluar ekspetasi (realita).

Melegakan kan 🙂

―――――――――

Sebenarnya aku tidak benar-benar suka menafsirkan dan menjelaskan sebuah lagu.

Musik bukan soal penciptaannya tapi pendengarnya.

Itulah kenapa di resensi albumku, aku tidak menjelaskan lagu atau lirik tapi fokus pada proses pembuatan lagunya. Bahkan jika aku harus menjelaskannya, itu bukan sesuatu yang benar-benar bisa dipahami. Tafsirannya semata-mata ada pada pendengar itu sendiri.

Pahami, pilah, rasakan dan nikmati itu dengan hatimu.

―――――――――

Ketika melakukan pekerjaan ini, aku merasa seperti sedang kembali dan berada seperti diantara surga dan neraka beberapa kali dalam sehari. Terkadang, aku merasa bagus dalam sesuatu, kemudian secara tiba-tiba ketakutan jika itu akan jadi kacau balau. Terkadang, aku merasa; ah ini cukup, kemudian merasa sedikit menyesal di akhir. Ini terasa berbeda dari apa yang aku rasakan (ketika bekerja untuk) album Bangtan. Aku memulai ini (project mixtape) ketika sedang dalam tur dan ini membuatku gila bekerja dalam separuh waktu. Aku ingin berterimakasih masih bisa menghirup udara karena Big Hit selalu membantuku.

―――――――――

Terimakasih untuk Yankie hyung dan Suran noona yang sudah membantu tanpa ragu dalam satu kali panggilan telepon yang bahkan ini bukan official album dan hanyalah sebuah mixtape 🙂

―――――――――

“Aku akan terus bersama denganmu, di tempat kau dibuat dan di akhir hidupmu. Dimanapun kau berada, aku akan terus bersamamu.
Pada akhirnya, dipenghujung waktu, akan dipenuhi dengan masa remaja.
Berpikiran sederhana di awal dan berakhir dengan kemakmuran.”
So Far Away Ft. SURAN

 

―FIN

 

Arr’s notes:
Tbh, saya tersentuh sekali sama lirik lagu “The Last”-nya Yoongi. He’s tell everything about him. And I love how he tell us. Dia depresi dan frustasi di satu waktu karena OCD dan gangguan mental. Mental idol, harus kuat, iya gak?
Tapi bener deh, saya salut banget sama Yoongi. Dia bisa ngelawan penyakit jiwa OCD yang anjir, kalau harus saya bilang nyiksa ya. Karena saya pribadi juga mengidap OCD dan social anxiety sejak saya lulus SMA. Iya. Kurangnya interaksi sama orang, saya malah jadi takut ketemu orang, apalagi orang baru. Depresi dan frustasi pada lingkungan yang banyak orang, cenderung perfeksionis dan takut untuk gagal, sering melakukan hal yang sama dan gak ada gunanya sama sekali, saya sering ingin nangis kalau di tempat rame, takut. But seriously, sekalipun saya anti sama suasana ramai meskipun keadaan memaksa saya, kenapa saya mau? Karena saya ingin melawan rasa takut itu. Berpura-pura semuanya baik-baik saja dibalik rasa gemetar tak kuasa ingin pergi dari tempat itu sekarang juga dan memilih diam seperti patung, apalagi kalau tidak ada satupun orang yang saya kenal. Semacam berjalan-jalan sendirian di tempat ramai. Saya paham betul Yoongi all out disini. Dan yah, like Yoongi when he was young. Saya juga ikut berbagai organisasi buat ngelawan rasa takut itu. Dari mulai OSIS sampai Paskibra yang udah jelas-jelas sepak terjang mental dibully habis-habisan itu saya lakonin. Tapi untungnya itu bisa mudar sedikit demi sedikit. Look Yoongi right now, from silly boy to dangerous man, bro~ dia berubah banget-banget-banget! Dan saya banggggaaaaaaaa banget. Dia beneran ssangnamja wkwk. Udah ah cuapnya.
Intinya saya terharu sama salah satu track di mixtape dia, sampe entah kenapa saya malah jadi pengen bikin fanfiksi gimana keadaan dia dulu sekalipun ini lebih banyak ke fakta daripada ngayal wkwk. Tulisan cetak tebal itu update-an fancafe Bangtan yang ditulis Yoongi, itu saya sendiri yang nerjemahin btw, jadi kalau misalnya agak sedikit melenceng ya maafkan. Saya gak punya kuota buat ngetranslate ke google waktu itu lol haha. Jadi ala kadar kamus saku yang ada dirumah aja :3 haha. From English to Indonesian, omong-omong. Saya mah gak bisa hangul bacanya aja gak mampu, mending baca kanji:( aneh ya? Haha.
THE LAST /eak cem mixtape Yoongi/ BUT NOT LEAST. Thanks for reading. Mind to review, maybe? 🙂

SALAM A TO THE G TO THE U TO THE STD FROM ARR! INFIRES MAN~ :v

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s