[TALKING TIME] Ukhti, Cantikmu Untuk Siapa?

Definisi Kecantikan. Sebetulnya cantik itu seperti apa, sih, ukhti? Akankah harus terlihat menawan dengan make up? Atau sexy dengan rok mini? Memperlihatkan uraian rambut yang berwarna-warni serta kesana kemari mengikuti angin? Atau, cukup menutupnya dari atas sampai bawah dan membiarkan telapak tangan dan wajah saja yang terlihat?

Seperti apa…, definisi cantik itu sebetulnya?

Pernah satu hari saya memandangi puluhan foto gadis yang berbeda. Dari mulai mereka yang senang mengikat rambutnya, sampai mengurainya. Dari yang biasa-biasa saja sampai cantik luar biasa. Dari yang bermake-up sampai natural sama sekali. Pada dasarnya, setiap perempuan itu sama. Mereka cantik.

Tapi, kenapa? Kenapa kaum hawa itu sulit sekali menghargai sedikit saja yang sudah Allaah beri? Jujur, saya sendiri terkadang mengeluh. Kenapa saya begini? Kenapa saya tidak seperti dia? Kalau saya seperti dia pasti saya cantik sekali. Atau saya iri, saya ingin memiliki wajah sepertinya. Innalillahi.

Malaikat pernah bertanya pada Allaah; “Apa kekurangan seorang wanita?”
Kemudian Allaah menjawab; “Hanya satu hal. Wanita terkadang lupa, betapa berharga dirinya.”

Allaah saja begitu mengagungkan perempuan. Rasulullah saja bilang, “Ummi, Ummi, Ummi kemudian Abi.” Bukan sebaliknya.
Lantas, kenapa ukhti? Engkau diciptakan semulus mungkin. Engkau disentuh sehalus mungkin. Engkau selalu dijadikan nomor satu. Engkau selalu dilindungi. Tapi kenapa batok kepala ini begitu keras menerima kenyataan? Bahwa sebaik-baik perempuan adalah yang tinggal di rumahnya.

Lupakah kamu? Satu langkah kaki perempuan keluar rumah, setan akan memperdayainya dari depan, belakang, kiri dan kanan. Dengan cara apapun setan akan membuat dirimu lebih mewah, membisikkanmu lewat pewangi-pewangi, lewat make up-make up, lewat lisan serta suaramu. Ukhti, kamu itu BERHARGA sekaligus DOSA!

Allaah terlalu baik padamu, ukhti. Allaah memberimu sehelai kain untuk menutupi tubuhmu, tapi kau merobeknya dan menjadikan setengah badanmu terlihat. Allaah memberimu penutup kepala terbaik, menghalangimu dari sinar matahari yang mampu membuat kulit rusak, tapi kau malah menanggalkannya, mengganti dengan topi-topi macam bentuk.

Ukhti, kamu itu berharga. Kalau kau menurut sedikiiiiit saja kemauan Allaah. Akan Allaah bangunkan rumah di syurga, bersebelahan dengan para istri nabi. Tak takut kah engkau, ukhti? Rasulullah saja pingsan melihat penghuni neraka kebanyakan kaum hawa. Tak takut kah engkau, jika kulitmu dibakar di atas bara api? Tak takut kah engkau, jika rambut yang selalu menjadi mahkotamu itu digantung terbalik di atas panci panas yang mendidih hingga otakmu terkelupas? Naudzubillah…, semoga Allaah selalu memaafkan dan meridhoi kita, sebagai salah satu jenis makhluk Allaah yang paling banyak penghuninya dalam Naar. Semoga Allaah melindungi kita dari api neraka yang panasnya melebihi bumi ini. Semoga Allaah senantiasa, memberi kita petunjuk, hidayah dan kelapangan hati akan jalan yang benar. Barakallah, ukhti. Allaah menyayangimu teramat dalam. Maka, dari sekarang, belajarlah menghargai diri sendiri, menutup diri dari segala nafsu duniawi yang hanya sementara.

Jadilah perempuan cerdas, yang menggenggam akhirat di hati dan dunia di tangan. Percayalah wahai ukhti akhir zaman, kau berhak untuk hidup layak di syurga-Nya Allaah, menandingi para bidadari-bidadari yang bahkan seharusnya kau iri kepada mereka. Karena mereka diciptakan untuk lelaki shaleh, dan ridhokah engkau jika lelaki-mu tak menjadi jodoh dunia akhiratmu dan malah berpaling pada bidadari syurga yang dengan mudahnya mendapatkan lelaki shaleh? Ridhokah engkau?

Berlombalah, ukhti! Berlombalah dengan bidadari-bidadari itu. Buatlah mereka iri padamu! Buat mereka iri dengan keshalehanmu, ukhti!

 

e9b6b4acf73d549f80526e80df69eb6b

 

Bismillahi wassalatuwassalammu’ala rasulullilah, amma’ ba’du

 

Teman-teman seperjuangan yang dicintai Allaah. Kali ini, saya ingin cerita soal ‘cantik’. Kenapa saya bicara soal ini? Karena, kenapa ya? Jujur saja, akhir-akhir ini saya terobsesi dengan sebuah wajah yang enak dipandang. Tapi dibenak saya muncul pemikiran, “kenapa saya jarang melihat perempuan-perempuan berkerudung yang enak dipandang?”. Mengerti tidak maksudnya, ukhti?
Jadi seperti enak dipandang saja begitu. Kalian sendiri juga tau ‘kan, perempuan zaman sekarang, kalau pakai kerudung suka asal-asalan. Saya sedih liatnya. Malah jadinya bukan anggun dan mempercantik plus menutup, tapi malah keliatan kaya…, tumpukan lemak. Maaf jangan kesinggung. Salah sendiri pake celana jeans, baju kaos, kerudung asal. Sudah jelas itu dilarang dan dianggap telanjang, tapi masih saja demen pake begituan. Hayuk ah, mulai sekarang belajar pakai rok dan gamis aja. Lebih enak diliat kan?

Sebenernya saya lagi galau kalau liat perempuan cantik, ukhti. Saya masih normal kok, Alhamdulillah, jangan anggap aneh-aneh ya. Karena gimana ya? Saya merasa sayang gitu lho sama mereka. Cantik sih tapi di ekspose. Lebih enak kalau ditutup, biar Allaah, diri sendiri sama suami aja yang tau, jadi kesannya kan kecantikan ini privasi gitu hehe.
Galau segalau-galaunya saya mikirin nasib mereka nanti gimana. Meskipun yah saya juga banyak dosa, bukan menutup kemungkinan ‘kan saya bicara gini seolah-olah saya orang ngga berdosa? Saya juga manusia biasa kok. Hanya menyayangkan saja, kenapa gitu? Memang, sesulit itu ya menutup diri? Memang, ngga takut kulitnya kebakar atau gosong gitu? Ah, saya suka ngga ngerti. Entah emang merekanya yang ngga ngerti juga gitu ya betapa pentingnya menutup aurat demi kecantikan, atau merekanya yang pura-pura engga tau?

Suka gemes sendiri kadang saya ini. Saya bukan sombong, ini cuman cerita aja ya. Jadi pas itu pernah ketemu temen SMP, SMP saya ‘kan dulu itu Madrasah Tsanawiyah, yang otomatis ke sekolah wajib pake kerudung. Nah singkat cerita saya udah SMA, beberapa temen saya ‘kan mulai misah-misah, ada yang ke SMK, SMA, atau MA. Karena kebetulan saya ke SMK, ya jadi cuman saya sendiri perempuan yang masuk ke sekolah itu (maklum STM, isinya laki-laki semua). Kenapa atuh saya masuk kesana? Alesannya sih dulu pengen bareng sama Kakak—yang juga cowok. Tapi pas tau isinya rata-rata cowok, hmm, yaudahlah, lebih baik daripada cewek semua. Begitu dulu pikiran saya. Saya emang agak anti sama perempuan, maksudnya pilih-pilih gitu. Soalnya, taulah mulut perempuan itu kaya ember bocor, meskipun ngga semuanya tapi tetep aja kecepatan gossip mereka itu kaya shinkanshen 300km/jam. Cepet banget.
Jadi emang dari TK saya temennya cowo, ada cewe tapi ngga begitu akrab. Saya itu punya sahabat cewe pas SMP sama SMA. Kalau sahabat cowo itu dari TK sampai sekarang juga masih sering gabung. Duh kaya Sasuke-Sakura-Naruto tau ngga sih :’v
Oke skip, malah jadi kesitu. Alhamdulillah, saya dari SD emang udah berkerudung, tanpa paksaan siapapun, saya sendiri yang mau. Nah pas ketemu temen SMP itu dia bilang gini ke saya; “Ih kamu, betah banget dikerudung, aku mah udah kemana.” Gitu. Ekhm…, disini saya dipuji duh, mau bilang makasih tar malah dosa lagi. Eh kalian belum tau kah? Dipuji juga bisa bikin kita dosa lho, hati-hati ya.
Yaudah, saya jawab gini; “Alhamdulillah, istiqomah. Kenapa atuh dilepas? Sayang lho.”
Dia cuman cengengesan bilang; “Gerah sih.”
Gerah katanya. Gerahan mana sih sama neraka?:(((( suka sedih akutu jadinya.

Memang sih, wajah manusia itu unik-unik di setiap pemiliknya. Ada yang lucu /kaya saya/ /plak /becanda kok ukhti, jangan serius terus atuh. Ada yang cantik, ada yang manis kaya gula, adaaa.  Yah, pokonya mah macem-macem. Jadi kadang, ada yang makin cantik di kerudung, ada yang biasa aja. Saya gamau bilang jelek ah, itu ‘kan ciptaan Allaah. Lagipula cantik atau tidaknya, percuma kalau masih belum bisa mermpercantik diri di depan Allaah /eak /ini serius

Oh iya, saya mau ngeluarin unek-unek ah. /lah perasaan dari tadi juga begitu—“

Jadi saya mau curhatin bias. Namanya Red Velvet. Aduh…, mereka comeback kemarin. Foto teaser-nya itu lucu sama cantik-cantik semua, kaya berbi idup gais:” nah sejak RV kambek, saya tuh jadi sering kepikiran terus soal “CANTIK”. Serius deh. Iri gitu ih, kenapa sih mereka cantiknya ngga bisa dikontrol, bagi-bagi atau gimana gitu ya. Astagfirullah, dosa-dosa, ngga mensyukuri:(((
Tapi beneran, dari situ saya pengen putih seputih mereka, pengen mancung semancung mereka. Bisa dikata role model gitu kalau kata anak kekinian mah. Tapi da saya teh mikir lagi ya, ngapain kaya gitu. Buat siapa? Ya kalau ditanya buat siapa sih, saya jawabnya buat kepuasaan batin sendiri aja meskipun ngga bisa di ekspose keluar, biarin toh cantik dinikmati sendiri malah saya lebih nyaman begitu wkwkw xD.
Saya mulai perawatan, udah lama sih, tapi males gitu. Jadi sekenanya aja wkwk. Makanya ngga jadi-jadi terus deh putihnya. Buakakaka. Sebenernya saya ngga item-item amat, tapi secokelat abang saya di Batues. Tau BangTae? Yang rada sableng? Nah doi itu abang saya, kulit saya sama dia tuh mirip-mirip, soalnya doi kulitnya tan. Maklum ade-kakak, jadi nurun. /plak /hentikan delusi ini.
Saya sering nyari-nyari produk di online shop, yang bener-bener bikin putih. Tapi ngga ada yang berhasil, gatau belum deng. Habis saya belinya cuman sekali, jadi nyobain tuh sampe abis, kalau ngga ada perubahan ya saya ganti wkwk. Bener deh emang ya demi kecantikan kadang musti mati-matian.
Kalau ditanya soal kulit ngga akan apa-apa? Alhamdulillah kulit saya ngga sensitif, jadi mau pake apa aja cocok. Paling efeknya cuman jerawat itu pun satu titik, di cuci pake sabun muka juga ilang xD itu kalau wajah. Kalau kulit badan sih, belum, cuman saya emang banyak bulunya. Sebel kadang, pengen diwaax tapi ngga ada izin dari Ummi. Katanya kalau udah nikah aja, itupun kalau suruhan suami. Lah, saya pengennya sekarang, kok nunggu nanti udah nikah. Heu…

Nah, kalian, siapa tau ada rekomen produk yang bisa bikin putih mulus, kontak-kontak saya yaxD wkwk.
Lagipula ngga salah kok mempercantik diri. Serius! :v saya pernah nanya sama… (bukan sama Baba. Baba ‘kan cowok)
Sama, temen. Namanya Teh Rika. Katanya boleh mempercantik diri, malah ngerawat itu diharuskan banget. Yang dilarang itu make up-an buat orang lain alias tabbaruj. Jadi semacam mempercantik diri tapi untuk dipertontokan. Lah…, bias saya gimana nasib:”

Untuk kaum hawa, yang kaya gini itu wajar. Namanya juga perempuan pasti makin hari makin pengen cantik ‘kan? Itu udah mutlak dari Allaah kok. Cuman kadang suka ada yang berlebihan aja, sampai oplas, sampai begitu-begitulah. Kan itu jelas-jelas kufur nikmat, naudzubillah.
Yah intinya, selain cantik via make up, cantik lewat perawatan juga ngga masalah. Boleh pake make up, tapi yang natural, natural banget. Kaya ngga pake apa-apa gitu, ukhti. Intinya, kalau mau cantik ya perawatan, perawatan juga butuh uang dan ngga murah. Karena cantik itu mahal. Udah jelas ‘kan cantik itu mahal? Nah karena perempuan itu cantik, jadi Allaah mahalkan mereka dengan menutup semua bagian tubuhnya tanpa terkecuali. Masihkah ukhti merasa kurang dengan nikmat Allaah? Semoga kita bukan dari bagian yang kufuur nikmat ya, ukhti. Semangat!

Sekian curhatnya, semoga bermanfaat dan maaf kalau capruk sekali. Habis saya orangnya spontan, hehe :v

Barakallah.

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s