[ONESHOT] The Last ― ARRYLEA’s VERHAAL

eveenn

A fan fiction with,
AU!, Romance sense, and Sad of Life
Staring by Kim Taehyung’s of BTS Bae Joohyun’s of Red Velvet
Author’s Point of View.
PG-15 for rating

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Kim Taehyung dan Bae Joohyun miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2016© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Has been published too at WATTPAD

SUMMARY

I’ve been lost him, forever.

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

The last
ARRYLEA’S

o

Cantik.

Bahkan lebih cantik dari sekuntum mawar di kebun rumah. Senyumnya begitu menggelitik hati. Membuat siapapun yang melihatnya akan ikut tersenyum. Dan Kim Taehyung sedang melakukan itu sekarang. Menatap makhluk ciptaan Tuhan paling indah yang pernah dilihatnya, seorang perempuan.

“Kak Irene! Kak Irene, lihat! Aku bisa membuat cincin dari bunga ini!” Sorak anak laki-laki itu sedang bermain dengan Irene. Gadis yang menjadi fokus Taehyung sedari tadi.

“Kak Irene, mau ‘kan pakai cincin ini?” katanya.

Irene tersenyum mendengar untaian kata bocah laki-laki itu, menadahkan jari-jarinya untuk disematkan cincin dari sang anak, “Mau dong!”

Bocah itu langsung melebarkan senyumnya, sampai gigi-giginya yang berantakan terlihat menghiasi. Segera ia menyematkan cincin buatannya pada jari manis Irene. Seolah ia sedang melakukan penyematan cincin pada seorang gadis yang akan dinikahinya. Irene tersenyum semangat.

“Wah, Kak Irene jadi makin cantik!” pujinya.

Jauh di sana, Taehyung masih setia memperhatikan Irene yang tak kalah bahagianya diberi cincin mainan oleh seorang bocah. Senyum Taehyung semakin merekah kala ia melihat Irene tertawa karena celotehan anak kecil itu. Jika saja ia bisa jadi anak laki-laki tersebut, ingin sekali Taehyung langsung memeluk gadis berpakaian serba putih itu dan berterimakasih karena sudah menerima cincinnya.

“Tae, udah makan?”

Taehyung menoleh mendengar satu-satunya suara yang mengudara di ruangan ini. Segera Taehyung menggeleng, memberi jawaban negatif untuk orang yang bertanya padanya barusan.

“Kok belum makan sih, Sayang?” tanyanya lagi, mendekat ke tempat Taehyung duduk dan mengelus lembut surainya.

“Belum lapar, Bu.” Jawab Taehyung, singkat.

Wanita yang Taehyung panggil “Ibu” itu lantas mendesah kuat. Melihat anak semata wayangnya yang semakin hari semakin kehilangan bobot itu benar-benar menyayat hatinya. Lagipula, ibu mana yang tak merasa terluka ketika anaknya sakit-sakitan? Semua ibu pasti begitu.

“Makan dong, Sayang. Ibu suapin, ya?” tawar sang Ibu.

Lagi-lagi Taehyung menggeleng, netranya masih setia memangkal sosok Irene yang mulai masuk ke dalam gedung sambil menuntun bocah laki-laki tadi. Oh, kenapa dunia begitu kejam padanya? Padahal hanya Irene-lah yang mampu membuatnya bahagia.

Ibu Taehyung tahu, anaknya ini memang sangat mengaggumi sosok Irene yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit tempat Taehyung dirawat. Bahkan sejak pertama kali Taehyung didiagnosis terkena Tuberculosis paru aktif, Irene-lah perawat pertama yang mengurusi Taehyung, dari mulai rawat jalan sampai akhirnya rawat inap karena virusnya mulai menggerogoti tulang belakang Taehyung.

Taehyung bersandar pada kursinya dengan lesu. Ia semakin kehilangan semangat hidup jika tak melihat Irene setiap jam. Lagian Taehyung sendiri tak mengerti kenapa diumurnya yang sudah seharusnya memiliki pasangan hidup, baru kali ini ia merasa jatuh cinta. Irene seperti candu bagi Taehyung. Laki-laki itu benar-benar menginginkan Irene, sangat. Karena Irene-lah juga dia semangat menjalani hidup dengan penyakit ini dan berusaha untuk sembuh. Apapun akan dilakukannya, demi ia bisa mendapatkan hati Irene.

“Taehyung…,”

Suara itu…

Taehyung mengenalnya dengan baik!

“Irene…,” gumam Taehyung seraya berbalik menghadap perawat kesayangannya itu.

Meniadakan keberadaan sang Ibu yang sudah berdiri menyambut kedatangan perawat Irene. Atau yang harus kita panggil, “Suster Irene.”

“Udah makan?” Pertanyaan sama seperti yang dilontarkan Ibu Taehyung itu keluar dari bibir tipis Irene.

Sambil mendekat ke arah ranjang Taehyung, Irene melirik nampan yang masih utuh, tepat di sisi ranjang yang lain. Biar ia simpulkan, Taehyung pasti belum menyentuh jatah makan siangnya. Suatu kebiasaan yang selalu Taehyung lakukan sejak dua bulan yang lalu.

“Makan yuk!” ajak Irene seraya berdiri di sisi Taehyung duduk, menghadap jendela.

Taehyung menggeleng. “Nggak nafsu.”

“Aku suapin deh,” bujuk Irene lagi. Demi menunjang kesehatan pasien agar cepat pulih, baginya, rela menyuapi atau melakukan hal-hal yang pasiennya pinta adalah tuntutan wajib.

Tapi, bukannya menurut, Taehyung malah mengeluarkan karbon dioksidanya kasar. Seolah apa yang Irene ucapkan itu sudah basi. Taehyung muak dengan semua makanan dan obat-obatan yang dipasok untuknya setiap hari dengan alasan biarcepatsembuh. Sungguh, Taehyung menyerah kali ini. Lantas tanpa menoleh dan masih menetapkan fokusnya ke arah jendela, ia berkata, “Ibu, aku mau ibu keluar dulu.”

Sang Ibu, yang diminta keluar hanya menatap datar wajah putranya, tersenyum dan mengangguk, menuruti permintaannya dengan sangat baik. Sementara Irene yang mendengar hal itu hanya mampu mendesah lemah, entah kenapa rasanya ia benci Taehyung yang susah diatur seperti ini sampai-sampai harus mengusir ibunya.

Kini pintu kamar Taehyung sudah tertutup rapat, meninggalkan dua insan itu di dalam ruangan VVIP yang Ibu Taehyung pesankan khusus untuk anaknya. Netra Taehyung masih enggan beranjak dari pepohonan rimbun di balik jendela, seolah ia rindu menghirup udara di luar meskipun setiap pagi Taehyung melakukan itu bersama Irene.

“Tae, makan yuk…,” bujuk Irene lagi.

Taehyung mengalihkan pandangannya, ia menatap sosok Irene di balik balutan pakaian putih khas perawat dengan sedikit memelas. Wajah pucat Taehyung tak kalah menambah kesan dramatis yang mana laki-laki itu jago berakting mengingat dulunya ia pernah sekolah teater yang tak sempat dilanjut karena sakit.

“Duduk, Ren.” Pinta Taehyung.

Irene lantas menurut, ia menarik kursi yang barusan diduduki Ibu Taehyung. Mendaratkan bokongnya dengan mulus di atas kursi plastik berbentuk bulat yang pas dengan ukuran pantatnya.

“Jawab aku, Ren.” Sanggah Taehyung tiba-tiba.

Irene tersentak. Ditatapnya paras tampan Taehyung yang kini tengah menghadap sejalur padanya. Ia aku-akui, ditatap darimanapun wajah Taehyung, tetap saja mempesona.

Hidung…
Mata…
Bahkan bibir dan dagunya begitu perpaduan sempurna.

Selalu.

Irene selalu kagum bagaimana sempurnanya wajah pasiennya ini.

Taehyung menggeser sedikit pantatnya, memudahkan akses menatap sang kekasih hati itu lekat-lekat. Tak ada fokus lain baginya kali ini. Hanya Irene, hanya Bae Irene yang mampu mengalihkan peredaran matanya di dunia.

Digenggamnya tangan cantik Irene dengan sekuat sebisanya agar tak terlepas. Terlalu lemah hanya untuk menyentuh tangan-tangan ini bagi Taehyung. Raut wajahnya benar-benar berada diambang rasa antara hidup dan mati. Taehyung tak sanggup lagi walaupun ia harus meregang nyawa setelah ini. Justru inilah kesempatan terakhirnya untuk memiliki Irene. Memilikinya yang terakhir kali.

“Aku sayang kamu, Ren. Tapi…,” Taehyung menahan nafas, “tapi aku bakal mati.”

Jangan, Taehyung.
Jangan pernah katakan itu lagi.
Kau akan sembuh. Kau akan terus hidup.
Kumohon berhentilah putus asa.

Fokus Taehyung beralih, ia tak sanggup menatap iris hitam kesukaannya itu dan menundukkan kepala. Ia benar-benar begitu ingin memiliki Irene, tapi ia sendiri tak mampu memprediksi jatah hidupnya yang tak akan lama lagi. Dan itu membuat Taehyung menyerah, ia ingin menyentuh Irene, sekali saja.

Irene hanya diam. Ia sendiri tak mampu menjawab dilemanya hati yang ia rasakan. Ia tahu ini salah, cerita dari mana perawat dan pasien saling jatuh cinta? Ini benar-benar menikam hatinya lebih dalam. Andai saja Taehyung sehat. Andai saja Taehyung bisa berdiri kokoh. Andai saja Taehyung bukanlah pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan senang hati, Irene akan menerima pengakuan cinta itu. Tapi…, bagaimana bisa?

“Aku tau, aku cuman pasien.” Kata Taehyung seolah membaca apa yang tengah Irene pikirkan.

“Tapi aku nggak sanggup lagi kayak gini terus. Aku mau kamu, Ren…,”

Irene masih diam. Menahan tangis adalah satu-satunya cara yang ia lakukan sekarang. Ia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata sedikitpun, karena sekali saja ia berucap, air mata itu akan lolos dari sarangnya. Dan Irene benci menampilkan air mata itu pada pasien, terutama untuk Kim Taehyung yang selama ini sudah mengamburadulkan pertahanan kokoh hatinya.

Please…,”

Cukup.

Cukup, Taehyung.

Mata Irene panas. Ia hanya tersenyum getir menampik kata-kata Taehyung. Menatap sosok tampan di sampingnya, membuat Irene semakin tak sanggup lagi menyangkal.

“Tae, kita makan dulu aja yuk…,”

Irene segera melepas genggaman tangan Taehyung dan meraih nampan makanan. Membuka plastik vacuum yang biasa menutupi makanan dari debu dengan hati-hati. Ia mengambil sendok, mengaduk sedikit bubur dengan sayurnya dan mencoba menyuapi Taehyung.

“Makan dulu, Tae. Buka mulutnya, aaaa…,” perintah Irene.

Prang!

Bukannya menerima asupan gizi itu ke dalam mulutnya, Taehyung justru menangkis sendok yang Irene berikan hingga tumpah ruah ke lantai kamarnya. Irene mendesah lagi, ia hanya mampu berkomat-kamit pada Tuhan untuk diberikan kesabaran atas pasien kesayangannya yang satu ini. Irene menyimpan nampan makanan itu di atas kasur, hendak mengambil dan membersihkan sendok yang terjatuh ke lantai. Tapi pergerakannya kurang cepat, Taehyung menarik tangannya paksa agar ia ikut berdiri seperti yang laki-laki itu perbuat. Membuat tangan Irene menyenggol nampan yang letaknya masih belum benar. Lagi-lagi makanan dibuang-buang di ruangan ini.

Irene terkesiap, ia membulatkan matanya tak percaya akan perlakuan Taehyung yang membuatnya tak tahan menjadi perawat disini. Tapi tatapan laki-laki itu jauh lebih tajam dari pisau belati atau pedang samurai sekalipun. Irene tetap taluk dan menghindarinya.

“Aku bakal mati, Irene!! Aku bakalan mati!” bentak Taehyung malah semakin mengeluarkan amarah.

Tolong berhenti, Tae.
Kamu bakal sembuh.
Kamu nggak bakal mati, Tae.

Taehyung sadar apa yang ia perbuat membuat Irene risih. Perlahan ia menarik dagu Irene yang sedari tadi tak mau menatapnya. Kini wajah cantik bidadarinya sedang menatap dengan wajah takut. Seketika Taehyung merasa berdosa. Lagipula perawat mana yang tidak takut pada kelakuan pasien yang aneh sepertinya? Mendadak membentak padahal ia tidak salah. Baiklah, Taehyung akui itu di luar kendali.

“Aku mau kamu, Ren…,” cecar Taehyung masih mencoba kuat mengungkapkan isi hati.

Lantas Taehyung memeluk Irene, erat. Menangis dibalik hangatnya pelukan yang ia ciptakan sendiri. Tanpa balasan. Hanya tangannya menyusup dibalik surai cokelat kehitaman Irene yang sedikit bergelombang. Surai yang sedari dulu selalu membuatnya terkesima.

“Aku mau kamu…, Ren…,”

“Aku mau kamu…,”

“Aku mau kamu…,”

“Aku mau kamu…,”

Taehyung terus merapalkan kata-kata itu. Menciumi rambut Irene lembut dengan gila. Tubuhnya bergetar hebat karena tangis yang ditahannya sejak lama. Ia tak sanggup lagi untuk mengontrol diri.

Tapi Irene masih diam saja. Ia tak jua membalas pelukan Taehyung. Ia hanya menangis dalam diamnya. Tak sanggup lagi berbicara apa-apa pada laki-laki yang sudah memporak-porandakan hatinya. Sungguh, tapi hatinya pun tak sanggup berbohong lagi. Taehyung sudah mencuri apa yang ia miliki saat pertama kali datang untuk kontrol ke rumah sakit sampai akhirnya ia berakhir di ranjang pasien. Sungguh, Irene lelah menahan beban yang seharusnya tak perlu ia pikul mengingat ia hanyalah seorang perawat dan Taehyung pasiennya. Taehyung terlalu sering memberinya skinship, Taehyung terlalu sering membuat pipinya menyemburatkan rona merah, Taehyung kerap membuat jantungnya berdetak tidak stabil, dimanapun, kapanpun. Itu membuat Irene gila dan membangkang peraturan rumah sakit.

“Kadang…,” gumam Taehyung disela tangisnya. “Kenapa aku harus ketemu kamu sekarang? Kenapa aku harus ketemu kamu disaat-saat aku harus pergi dari sini, Ren?”

Berhenti bicara seperti itu, Tae.
Itu menyakiti hatiku. Tolong berhenti.
Aku juga mencintaimu. Tapi ini salah.
Cinta ini salah, Tae.
Aku tak berhak mencintaimu dengan cara ini.

“Aku nggak peduli kalau emang kamu nggak sayang aku. Tapi kamu harus tau, aku sayang kamu sampe aku mati, Ren.”

Tolong hentikan omong kosong ini, Kim Taehyung.

Irene tak sanggup lagi mendengar apa yang Taehyung bicarakan sedari tadi. Mati, aku menginginkanmu, menyayangimu, mencintaimu, Irene muak! Irene sudah jengah dengan semua omong kosong yang merenggut hatinya.

Kemudian Irene melepas pelukan itu dan menarik pipi Taehyung mendekat. Berjinjit untuk meraih tinggi Taehyung yang kalah jangkung dengannya. Ia mencium Taehyung tepat pada bibirnya dengan pemberontakan Taehyung yang memaksa untuk melepas ciuman itu meskipun sulit. Ia terlalu lemah untuk menghindari ciuman Irene yang sedari dulu ia inginkan. Tapi ini salah! Bukan seperti ini yang ia mau. Ini benar-benar salah!

Lantas Taehyung mencoba sekali lagi untuk melepas ciuman itu dan berhasil. Irene melepasnya. Taehyung bahkan tak habis pikir apa yang gadis di depannya ini pikirkan sampai berani menciumnya yang, aaaaargh!

“Irene! Kamu gila?! Sakit aku bakal nular ke kamu! Kalau kamu ikut sakit gimana? Jangan gegabah, Ren!” pekik Taehyung bertubi-tubi kala ia berhasil lepas dari ciuman yang sama sekali tak romantis itu.

Tapi sekali lagi ia memperhatikan wajah Irene. Taehyung terkesiap. Wajah gadisnya begitu berantakan, bukan make up tapi rautnya benar-benar layaknya orang frustasi tak mendapat pekerjaan dan sedang menuju jembatan layang untuk bunuh diri. Taehyung benar-benar tak percaya kala ia melihat pupil mata Irene menciptakan bayang dimana air mata itu akan terjatuh lagi. Gadis itu ternyata…, menangisi dirinya.

“Aku nggak peduli, Tae! Aku nggak peduli! Kamu pikir aku tahan sama semua perasaan aneh ini sejak kamu di rawat disini?! Ini bikin aku gila, Tae!! Aku nggak bisa bohong! Aku nggak mau munafik kalau aku nggak suka kamu! Aku sayang kamu, Tae!!” teriak Irene menggebu. Mengeluarkan segala kefrustasiannya yang membuatnya gila selama Taehyung menjadi pasien.

Taehyung terenyuh. Ia semakin dalam menatap manik Irene. Ditariknya pipi Irene dengan perlahan, ia menutup matanya dan menyentuh permukaan bibirnya dengan milik Irene. Membalas ciuman yang Irene berikan barusan, kali ini ia mencium dengan lembut. Selembut cintanya pada Bae Irene.

Aku nggak peduli kalau aku harus sakit.
Aku nggak peduli kalau aku juga harus mati nantinya.
Karena aku juga cape diperbudak sama orang-orang, Tae.
Cuman sama kamu, aku nemu ketulusan itu.
Cuman sama kamu.

Satu detik..

Lima detik…

Sepuluh detik…

Dua puluh detik…

Oh, kenapa Irene baru sadar sekarang betapa indah cinta yang disalurkan dengan benar ini? Kenapa tak sedari dulu saja ia ungkapkan segala unek-unek hatinya kalau ia juga mencintai Taehyung, sama seperti apa yang laki-laki itu selalu katakan setiap kali ia selesai memeriksanya. Bertindak manja sambil bilang, “Makasih suster cantik, I love you.”

Cheesy memang. Tapi Irene sungguh menyukai bagian itu. Dimana Kim Taehyung dengan mudah dijinakkan olehnya. Sekali lagi, Irene ingin menangis dan bersyukur telah bertemu laki-laki ini.

Taehyung kemudian melepas ciuman itu, ia tersenyum hangat pada Irene. Seolah ia baru saja di charger, Taehyung merasa bersemangat. Tangannya masih menangkup pipi Irene yang tirus, terkadang ia merasa khawatir pada suster cantiknya ini, apakah ia makan dengan benar atau tidak? Kenapa sangat kurus?

Jempol Taehyung mengusap pelan pipi Irene, membuat pemiliknya geli sendiri dan segera menjauhkan tangan nakal Taehyung dari wajahnya dan beralih menggenggam tangan itu. Taehyung terkekeh, kenapa Irene sangat lucu kalau seperti ini?

“Jangan ngambek lagi, ya!” sahut Irene sambil mencolek hidung mancung Taehyung.

Taehyung terkekeh lagi, kemudian duduk di sisi ranjang. Ia tak akan semudah itu membiarkan Irene-nya pergi, walau sekedar membereskan ulahnya yang sudah menjatuhkan jatah makannya sendiri.

“Tae!” pekik Irene seolah terkejut.

Benar.

Taehyung memeluknya lagi. Dan itu membuatnya terkejut karena posisi mereka benar-benar, err-, ambigu.

“Tae! Apa-apaan sih ah!” keluh Irene masih di dalam pelukan Taehyung.

Tapi yang memeluknya hanya diam tersenyum menanggapi. Ia semakin mengeratkan pelukan dengan menarik pinggang Irene ke dalamnya. Kemudian ia mengusap pelan surai Irene. Menyisirinya dengan lembut takut-takut putus. Tapi Irene akhirnya tak menolak. Ia membalas pelukan itu dengan melingkarkan kedua tangannya ke belakang leher Taehyung, memudahkan akses sang lelaki untuk memeluknya.

“Aku sayang kamu, Ren.” Sahut Taehyung.

Irene terkekeh. Ia hampir bosan mendengar Taehyung bicara seperti itu. Walaupun ia juga tak bisa menangkis kalau dia juga menyukainya.

“Aku tau, Bawel.”

 

Maka siang hari itu, Taehyung dan Irene berpelukan lama. Saling berbicara dan mengungkapkan perasaannya. Bersenda gurau akan cerita-cerita konyol Taehyung yang membuat perut Irene sakit.

“Aku nggak pernah tau kalau ternyata kuda bisa selucu itu,” sambut Irene membalas cerita Taehyung.

Taehyung juga ikut tertawa, meski parau karena kondisinya yang kurang baik, “Kamu harus percaya sama aku, Ren-uhuk…”

Taehyung tiba-tiba terbatuk. Batuk yang benar-benar menyakitkan tenggorokannya. Segera Taehyung menutupi mulutnya dengan tangan satunya agar virus tak bersarang ke dalam tubuh Irene, sampai ia merasakan sesuatu yang hangat keluar dari dalam tubuhnya hingga mengotori tangan. Seketika Taehyung limbung dan bergetar melihat cairan yang bersimbah di tangannya.

“Tuhkan batuk lagi! Aku udah bilang suruh makan sama minum obat tapi malah ngeyel!” cecar Irene kesal.

Taehyung lantas cepat-cepat tertawa, sebisa mungkin benar-benar menutupi dadanya yang mulai sakit tak tertahankan. Ia sadar, waktunya telah tiba. Dan ia tak ingin membiarkan Irene melihat tubuhnya meregang nyawa. Taehyung hanya ingin mati seperti ini, dipelukan Irene.

“Aku nggak apa-apa kok, udah tenang aja.”

Meskipun Irene tak yakin dengan apa yang Taehyung katakan soal ‘baik-baik saja’, ia tetap berusaha untuk melepas pelukannya yang sedari tadi dihalangi. Membiarkan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau pasien kesayangannya memang baik-baik saja.

Namun sayang, Taehyung berbohong padanya. Karena hal yang pertama kali dilihatnya adalah cairan berwarna merah mengotori bibir Taehyung. Sementara yang ia tatap malah mengekarkan senyuman miris. Apa-apaan ini Kim Taehyung?!

“Astaga Tae! Aku udah bi-”

“Ssshh…,”

Irene membeku, Taehyung malah menarik tubuhnya lagi ke dalam pelukan. Apa laki-laki itu gila?! Apa ia tak sadar kalau batuknya yang berdarah itu tanda kalau virus sudah mulai menggegoroti lagi?! Kenapa sekarang Irene benar-benar ingin mengutuk Kim Taehyung yang benar-benar mengesalkan?!

“Tae ini nggak lucu sumpah. Lepasin!” pinta Irene.

Tangannya mencoba menarik diri dari pelukan Taehyung. Tapi kodratnya tetap tak bisa ia langkahi. Sesakit dan selemah apapun Kim Taehyung, tetap saja ia laki-laki, Irene paham batasannya takkan pernah mencapai itu untuk melepaskan diri segampang memasak mie instan.

“Tae, please lepasin!”

Tapi Taehyung tetap saja tak membiarkan Irene lepas darinya. Ia mengernyit kesakitan, dadanya mulai sesak, kaki-kakinya mulai dingin, dan Taehyung semakin menarik Irene ke dalam.

“Ssshhh…,”

Please, sebentar aja. Dada aku sakit kalau kamu banyak gerak.” Ucap Taehyung sedikit berbohong.

Dadanya sudah sakit sejak darah penyakit itu keluar dari tubuhnya. Dan masih tetap menahan sakit. Taehyung mengelus surai Irene lembut, mencoba menenangkan Irene tanpa peduli bahwa dirinya juga sudah hampir menjemput ajal.

Irene berhenti memberontak. Ia memeluk Taehyung dan menangis. “Aku…, hiks…, nggak bakal maafin diri aku sendiri kalau…, hiks…, sampai kamu kenapa-kenapa, Tae.”

Taehyung tersenyum dibalik rasa sakitnya. Masih setia mengelus lembut rambut Irene, ia menjawab, “Aku nggak akan apa-apa…, uhuk…,” Taehyung batuk lagi, lantas mendesah pelan, “Aku sayang kamu, Ren. Sayaaaaang banget.”

Mereka berdua terus berpelukan. Irene masih menangis. Dan Taehyung masih menyisiri rambut Irene.

Satu sisiran, masih terasa kuat.

Dua sisiran, mulai terasa menjauh.

Tiga sisiran, Irene bahkan tak yakin kalau Taehyung masih menaruh tangannya disana. Ia terlalu sibuk menangis.

Empat sisiran. Oh! Tangannya masih disana.

Lima sisiran…

Lima sisiran…

Irene menunggu sambil menghitung dalam hati.

Lima sisiran, Tae…

Tapi tiba-tiba saja tangan itu tak lagi menyentuh surai Irene. Tiba-tiba ia tak lagi merasakan serbuan nafas yang Irene akui tersenggal susah payah. Tiba-tiba tangan itu meluncur bebas melewati punggung Irene. Menyisakan tangan terbuka yang tergantung dan tubuh Taehyung yang semakin berat.

“Tae?” panggil Irene.

Taehyung diam tak menjawab. Irene penasaran, ia melepas pelukannya secara perlahan dan membiarkan kepala Taehyung terkulai lemas ke depan. Membuat Irene panik dalam persekian sekon, “Tae!” teriaknya.

Ia menggoyang-goyangkan tubuh Taehyung, tapi laki-laki itu malah terjatuh ke ranjang. Sukses membuat dirinya berteriak sekencang mungkin. Mata Irene berkedip berkali-kali, mulutnya yang menganga ia tutupi dengan kedua telapak tangannya. Ia bergerak mundur selangkah.

“Ta-e…,” panggilnya lagi.

“Tae jangan bercanda!”

“Tae nggak lucu ah!”

“Tae…,”

Irene sadar apa yang ia lakukan percuma. Taehyung tak sadarkan diri! Ia benar! Taehyung mungkin pingsan! Tak mungkin kalau Taehyung pergi meninggalkannya, iya ‘kan?

Cepat-cepat Irene meraih tangan Taehyung, mendeteksi urat nadinya yang ia sangat yakin masih berfungsi.

Tidak…

Ia tak bisa merasakan detak jantung dari sini.

Lantas Irene berpindah, menempelkan telinganya mendekati dada, tempat jantung Taehyung berada.

Tapi jawabannya tetap sama. Detak itu hilang.

Irene menggigit bibir bawahnya, tubuhnya bergetar hebat, tak percaya bahwa ini akan terjadi padanya.

“Nggak, Tae…, nggak…, please…, jangan…,” gumam Irene sambil terus mencoba meraba, meyakinkan urat nadi Taehyung masih berada disana.

Tapi berapa kalipun Irene mencoba, kenyatannya tetap sama. Irene ambruk seketika. Air matanya lantas tak berhenti mengalir. Taehyung sudah pergi. Dan ia takkan pernah menemukannya lagi. Takkan pernah….

“Even I must die.
Even I never find my true love.
But please, baby, you should gonna know.
You still my one and only.” — TAEHYUNG

.

.

.

—FIN

Advertisements

3 thoughts on “[ONESHOT] The Last ― ARRYLEA’s VERHAAL

  1. TAEHYUNG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! (kok aku yang ngejerit?)
    OK! GUA BAPER! FF ini bikin gua baper! Kenapa loe mesti mati tae? Kenapa? Kenapa matinya mesti gitu banget! Gua jadi Irene gua ga bakal tahu gimana caranya berpaling, you know!!!!!!!!

    Fiuh~ Ini cerita menguras emosi thor. Salken ^^ visitback yah

    Liked by 1 person

    • Bahkan ane sendiri yang buat ff ini ga yakin apakah ff ini menguras emosi atau enggak 😦 wkwkwkwk.
      Makasih apresiasi luar biasanya!! Terharu. Padahal udah lama banget jarang lirik wp wkwk.

      Yes, salken kembali^^
      Nanti visitback kalau ane ada waktu ya 😉

      Like

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s