[BAG 1] Rock On! Kuki’s ― ARRYLEA’s VERHAAL

A fan fiction with,
AU!, Romance sense, School-life and Family stories
Staring by Jeon Jungkook’s of BTS & Kim Yerim’s of Red Velvet
Author’s Point of View.
T for rating

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Jeon Jungkook dan Kim Yerim miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2016© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Has been published too at WATTPAD
Jungri edit manipulation by @btsvelvet_chu. Sorry for hidden ur mark. But i’m sure that photo edit is yours. I’m just add and edit the title-cast-pen name. Thank you @btsvelvet_chu!

SINOPSIS

Jeon Jungkook naksir berat Kim Yerim. Anak kelas 10-3 di sekolahnya yang jauh dari predikat kata HITS SG. Tapi Jungkook tak peduli, dia bersikeras tetap mencari perhatian si imut Yerim sampai gadis itu jengah dan ingin pindah sekolah. Padahal, Yerim mati-matian masuk SMA Seoul Global demi mendapat pujian abangnya, Kim Seokjin.

Parahnya lagi, Namjoon, yang notabene sebagai kekasihnya Yerim itu malah cuek bebek dengan adegan pernyataan cinta yang sering Jungkook ungkapkan tanpa pandang bulu. Benar-benar memalukan! Yerim makin keki. Menyesal kenapa dulu mau menerima Namjoon sebagai kekasihnya yang sudah jelas adalah seorang model dan sahabat kakaknya.

How Yerim can deal with them? Broke up with Namjoon and try to make a new love journal with Jungkook? Or stay with Namjoon whatever he does and act like don’t give a shit to Jungkook?

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

Rock on! Kuki’s
ARRYLEA’S

o

Dek, maafin Kakak.

“Gabisa lagi, Kak?”

Iya, barusan dosen bilang mau ngasih kelas tambahan. Aku juga baru beres kelas banget ini.

“Yaudah, ngerti kok.”

Sorry, Yer.”

“Udah…, gapapa kok, Kak.”

Pip!

Sambungan telepon langsung terputus. Yerim mendesah pelan. Entah sudah berapa kali Namjoon melakukan hal yang sama padanya. Berjanji untuk menjemput Yerim ke sekolah kemudian batal ketika jam-jam pulangnya hampir dekat. ‘Gapapa‘, entah sudah berapa kali juga kata ‘gapapa‘ itu keluar dari mulut Yerim. Gadis berkuncir kuda itu pasrah dan paham betul kalau kekasihnya memang super sibuk dan hanya punya waktu sedikit untuknya.

Terkadang dibenak gadis itu, ingin sekali mengulang satu tahun ke belakang, saat Namjoon masih berada di semester empat bangku kuliahnya, saat Yerim masih bocah dan duduk di bangku kelas tiga SMP. Semuanya terasa baik-baik saja dan menyenangkan saat itu. Meskipun selisih umur keduanya terpaut cukup jauh, tapi itu tak menjadi masalah. Buktinya mereka bisa menjalaninya dengan lancar jaya hingga sekarang. Bahkan bagi keduanya, hal itu jadi rintangan tersendiri.

“Gak bisa jemput lagi, ya?”

Yerim menelungkupkan diri di atas meja kantin sambil mengangguk, mengiyakan jawaban teman sebangkunya, Kang Mina. Gadis bermata sipit di sebelah Yerim itu tersenyum hampa, mengerti betul kegelisahan sahabatnya kali ini.

“Yaudah, lo balik bareng gue aja yuk. Nebeng Kak Mingyu.” Tawar Mina lembut.

Masih di posisi yang sama, Yerim menggeleng, bukannya tidak sopan menolak ajakan terhormat dari Mina. Tapi ia merasa tidak enak kalau tiba-tiba jadi kambing congek sejoli itu. Apalagi Mina dan Mingyu baru meresmikan hubungan lusa lalu setelah PDKT berminggu-minggu. Untungnya Mingyu bisa gerak cepat dan berhasil mendapatkan Mina. Coba kalau tidak? Mungkin Mina keburu bete dan memasukkan Mingyu ke dalam blacklist orang-orang PHP.

“Terus lo mau balik sama siapa, Yer? Sendirian? Ini udah mau jam tiga. Kita udah nunggu satu setengah jam dan hasilnya sia-sia! Kenapa sih doi nggak nelpon dari awal? Untung Mingyu masih ada jam pelajaran.”­­­ Cecar Mina, kesal karena gadis di sebelahnya itu malah menolak niat baiknya.

Dalam hati Yerim, ia malah merasa serba salah. Meski begitu, ia keukeuh tidak akan menerima tawaran menggiurkan dari Mina. Sekalipun dengan iming-iming cokelat Toblerone kesukaannya. Tidak sekalipun!

“Ayolah, Yer…,” bujuk Mina lagi.

Lagi-lagi gadis imut itu menggeleng lemas. Benar-benar tidak minat diajak berkonversasi apapun. Otaknya lelah, tubuhnya juga sudah meminta untuk diistirahatkan, apalagi hatinya yang entah harus diapakan selain tabah. Yerim pikir setahun berjalan dengan lelaki berlesung pipit itu akan semakin baik seiring berjalannya waktu, tapi ini malah kebalikannya. Dan Yerim benci akan fakta bahwa jam terbang milik Namjoon lah yang sudah meluluhlantahkan harapan ‘more better for the future‘-nya karena begitu padat.

Awalnya Yerim mencoba untuk mengerti. Awalnya Yerim tak ingin banyak menduga. Tapi bagaimanapun juga, Yerim tetaplah bocah. Bertengkar dengan Namjoon di akhir pekan karena batal ritual malam minggu itu seolah jadi kebiasaan. Selalu saja ada alasan Namjoon untuk membuyarkan acara. Ditambah sekarang, walaupun hanya sekedar batal menjemput, tetap saja Yerim kesal.

Padahal Yerim cuman kangen Namjoon.

Cuman itu.

“Heh! Malah ngelamun!” hirau Mina menyentak. Membuat si empu mengerjap-ngerjapkan matanya cepat karena terkejut.

“Ih…, Mina!” rutuk Yerim dengan nada manjanya. Kebiasaan Yerim yang membuat si gadis langsung memutar kedua maniknya. Gemas sendiri pada Yerim yang sangat-sangat keras kepala dan batu itu.

“Udah deh ya, lo gausah kebanyakan mikir. Kak Mingyu juga no prob kok ditebengin sama lo.” Ujar Mina, langsung menarik tangan Yerim yang terkapar bebas di atas meja tanpa izin.

Mereka berjalan menuju parkiran sekolah, menghampiri Mingyu yang ternyata sudah keluar dari kelas sejam yang lalu. Jam terakhir, guru absen, tugas kosong, merdekalah kelas Mingyu.

“Aduh…, Min! Gue nggak enak ah!”

“Nggak enak, emangnya makanan?! Udah jangan protes. Gue nggak mau sampe diteleponin Kak Seokjin lagi gara-gara lo belum balik kayak kemaren, ngerti?”

Yerim mendadak keki mendengar nama kakaknya disebut. Dasar Seokjin nyebelin! Bikin malu gue aja! Maki Yerim dalam hatinya.

Mereka terus berjalan sampai menemukan satu-satunya pria jangkung dan bermata lentik di parkiran sekolah. Lelaki itu bersandar pada pintu mobilnya, dengan tenang menarik sebatang rokok dan mencapitnya diantara bibir, lantas mengambil pematik dari dalam sakunya, siap mengisi paru-paru dengan kepulan asap kotor penyebab segala penyakit itu.

Mata Kang Mina memicing, dari kejauhan, dia sudah menyadari kalau kekasihnya itu nekat merokok di lingkungan sekolah. Diam-diam memendam kesal, Mina langsung tancap gas. Mempercepat langkah kakinya untuk segera menarik benda itu dari mulut Mingyu. Sementara Yerim berjalan terhuyung-huyung menyesuaikan langkahnya dengan Mina. Gadis berkuncir kuda itu hanya bisa menghela nafas sabar dan mengikuti.

“Kakak! Kok ngerokok sih?!” bentak Mina langsung menarik cerutu yang hampir Mingyu nyalakan.

Mingyu terkesiap, terkejut karena ketahuan. “Eh-ehehehe, Mina, sekali aja lah. Asem nih.”

“Nggak! Ini masih di sekolah, Kak!”

“Yaudah oke, kalau udah di luar nanti. Iya siap.” Jawab Mingyu menurut dengan nada mengolok.

Mina lagi-lagi memutar kedua bola matanya sambil memukul dada Mingyu, membuat si pemilik tubuh tertawa renyah sambil mengelus kepalanya. Yerim membeku seketika, kenapa harus ia yang menjadi saksi mata akan adegan mesra Mina-Mingyu? Sudah batal dijemput, Kak Seokjin mempermalukan dirinya saja sudah cukup dan sekarang harus dihadapkan dengan sejoli baru jadian.

Ya Tuhan, tolong Yerim ya Tuhan. Yerim nggak mau jadi kambing congek ya Tuhan.’ Batin gadis itu.

“Yaudah yuk cabut, keburu sore.” sahut Mingyu seraya menghentikan aktivitas skinship-nya kala menyadari keberadaan Yerim di antara mereka.

Lelaki berpotongan rambut balded fade itu lantas langsung membukakan pintu untuk Mina dan Yerim. Mingyu pun segera memutari mobil untuk duduk di belakang setir, segera meninggalkan tempat ketiganya menuntut ilmu—dan mencari kecengan.

“Aku nyalain AC-nya ya.” Kata Mingyu.

Mina dan Yerim mengangguk bersamaan. Menurut pada sang joki yang akan membawa mereka pulang ke rumah tanpa imbalan, alias gratis.

“Btw, kok nggak bilang udah balik daritadi sih, Kak?” tanya Mina.

“Habis sparing basket barusan sama anak kelas. Lagian pas gue—eh aku mau nyamperin kalian berdua, keliatannya lagi pada serius gitu. Lucu aja liatnya kayak bocah keilangan emaknya.” Jawab Mingyu sambil menutupi tawanya sebelum dua makhluk betina di belakangnya mulai mengamuk.

Mampus lo Ming, nyari mati bilang kayak gitu ke mereka.

“Sparing basket? Pantes AC-nya dinyalain. Takut Mina ilfeel ya?” celetuk Yerim. Yang mana langsung membuat manik Mina menusuk tajam padanya.

Astaga, Yerim! Bocah ini…

“Tau aja, Yer. Hahaha.” Mingyu langsung terbahak, begitupun Yerim. Terkikik geli dengan jokes receh Mingyu yang bahkan tak pantas dikata jokes. Mina yang merasa dirinya jadi bahan pembicaraan sang kekasih dan sahabatnya itu hanya tersenyum masam. Menyesal tak menyesal mengajak Yerim pulang bersama Mingyu. Tahu-tahunya mereka berdua sama saja jagonya bikin mood Mina jadi buruk.

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

Pukul tujuh petang, Namjoon baru menyelesaikan urusan perkuliahannya. Masih di dalam kelas, lelaki itu menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya sambil meregangkan badan, sampai-sampai terdengar suara krek keluar dari sendinya. Namjoon terkekeh, ia bergumam, “Gila, cape bener, padahal cuman duduk doang.”

“Joon, gue balik duluan ya!” Sahut Hoseok, berlalu sambil menepuk pundak Namjoon.

Lelaki dengan tinggi seratus delapan puluh satu sentimeter itu mengangguk, masih setia dengan posisinya, “Yo, tiati, bro!”

“Lo tuh yang hati-hati! Cepetan balik! Kampus kalau malem serem!” teriak Hoseok dari muara pintu.

Namjoon terkekeh lagi, ia tahu betul kalau Hoseok penakut tingkat Neptunus. Apa saja bisa membuatnya histeris dan terkejut. Kadang-kadang kehisterisan dan ketakutannya itu malah jadi hiburan bagi anak-anak kelas Namjoon. Kendati demikian, Hoseok tetaplah seorang lelaki yang lumayan punya imej famous di kampus, sama seperti dirinya.

“Gue juga balik ah, ngapain di sini. Kayak jomblo nyari belaian mrs. K aja.” Monolog Namjoon.

Laki-laki berlesung pipit bernama lengkap Kim Namjoon itu memasukkan ipad-nya ke dalam tas. Berdiri dan lekas meninggalkan kelas menuju Si Manis Galant kesayangannya yang terparkir di pelataran gedung FIB. Mengerahkan kakinya untuk berjalan sedikit agar lebih cepat sampai.

LINE!

LINE!

LINE!

“Ebuset dah sekali aja, Neng.” Gumam Namjoon kala ponselnya berdering memberi notifikasi dari sebuah aplikasi chatting buatan negeri matahari itu.

Adek
Kak
Woi!
Ke rumah gk?

Namjoon tercenung sejenak setelah membaca pesan dari Yerim di dalam mobil galant miliknya. Sengaja ia ubah nama kontaknya agar terkesan imut. Apalagi memang Yerim itu adek-able sekali bagi Namjoon. Mengingat marga mereka juga sama, rasanya memang aneh saja tiba-tiba mereka jadi sepasang kekasih.

Lelaki itu kemudian terhenyak. Menggaruk kulit kepalanya sambil berpikir, apakah dia akan datang mengikuti kemauan Yerim atau tidak. Lagipula, secara fisik, ia merasa lelah sekali dan ingin langsung tidur saja. Meskipun Namjoon tahu akibat yang ditimbulkannya itu malah semakin memperumit hubungan keduanya. Ralat. Maksudnya, memperparah kemanjaan Yerim yang semakin hari semakin liar.

Percayalah, Namjoon sendiri sedikit tidak mengerti dengan perubahan sikap Yerim yang pada dasarnya memang manja jadi semakin manja. Contohnya lusa kemarin, Namjoon menjemput Yerim selagi waktunya kosong, dan ketika Namjoon baru saja turun dari mobilnya, gadis itu tanpa segan langsung berlari dan memeluk dirinya di depan gerbang sekolah. Di depan teman-temannya. Di depan seluruh pasang mata yang ada di sana. Jujur saja, lelaki berlesung pipit itu merasa malu meskipun ia sangat-sangat menyukai afeksi yang sering Yerim berikan. Oh, ayolah! Namjoon itu cowok tulen. Di peluk Yerim yang notabene berisi itu benar-benar …

Ah!

Ini merusak citra Namjoon. Tapi semua kaum adam pasti seperti itu ‘kan? Namjoon tidak munafik, sejak kelas 2 sekolah dasar saja ia sudah mengenal apa itu sex. Maklumi otak jenius yang ia punya.

LINE!

Adek
Read aja. Gpp.

“Mampus, marah nih haha.”

Namjoon langsung tergelak tanpa merasa berdosa sama sekali, malah dibenaknya langsung terngiang wajah kesal dan manjanya Yerim. Merajuk sambil mengkerucutkan bibir mungilnya. Kemudian merutuk dan mengadu pada Seokjin, berujung dirinya sendiri yang kena amarah sang kakak. Sungguh, inilah yang membuat Namjoon tidak tahan untuk tidak mencintai Kim Yerim, adik dari sahabatnya itu.

K.Namjoon
Nggak ah.
Males.

“Hahahaha.”

Namjoon tertawa lagi. Merasa puas hanya dengan menjahili Yerim seperti itu.

Tak mau terlalu larut menjahili Yerim, Namjoon segera menarik persneling dan menekan pedal gas. Meninggalkan kampus seraya tenggelam dalam pesona langit malam. Membelah sorotan lampu jalanan dengan kecepatan sedang.

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

K.Namjoon

Nggak ah.
Males.

“Tuhkan!!!!!!!!”

Tanpa pikir panjang, Yerim langsung melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Teriakan kekesalannya semakin menjadi ketika membaca balasan dari Namjoon beberapa menit yang lalu. Sialan benar lelaki ini. Kenapa pula sih Yerim bisa menyayanginya? Benar-benar menyebalkan! Andai saja Yerim bisa mengutuk laki-laki berlesung pipit itu, ingin sekali Yerim mengutuknya jadi jomblo seumur hidup! Biar saja. Biar tahu rasa!

“Nggak tau diri, ih! Serah ah!” makinya.

Gadis berambut hitam kecokelatan itu kemudian meringkukkan diri di atas kasur. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut seperti kepompong. Dalam pikirannya ia mencoba untuk menenggelamkan kedua kelopak agar terlelap. Tak peduli jika abangnya terheran-heran dengan jam tidur Yerim yang biasanya lewat dari jam sepuluh. Biar saja. Abangnya pasti mengerti bahwa adiknya sedang kesal dan ingin cepat-cepat mangkir ke alam mimpi. Berkhayal bisa jadi pacar seorang Shawn Mendes lebih asik daripada mengharapkan kedatang Namjoon ke rumahnya.

“Arghhhhhhh!!!”

Yerim lagi-lagi mengerang kesal. Ia melempar selimut yang barusan menutupi dirinya dan kembali merutuk kenapa matanya enggan terpejam juga. Yerim kemudian menangkup dagu dengan kedua tangannya, memainkan jari-jemarinya di antara pipi chubby yang biasa Namjoon atau abangnya cubiti itu. Netra Yerim melirik ke kanan dan ke kiri, seolah sedang berpikir apa yang baiknya ia lakukan agar kantuk cepat menyerangnya.

Gadis itu kemudian beranjak turun dari ranjang, kaki mungilnya berjalan menuju meja belajar yang berantakan, duduk di depannya sambil kembali berpikir. Sejenak, ia risih sendiri dengan meja tempatnya belajar itu bak kapal pecah. Seketika tangannya mulai gatal untuk membereskan, ia seakan lupa akan kekesalan yang menggumpal pada sang kekasih.

Hampir satu jam bagi Yerim menghabiskan waktunya untuk merapihkan meja belajar yang berakhir pada seluruh kamarnya. Mengingat kamarnya yang juga tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil itu, maka sangat mudah bagi Kim Yerim untuk merapihkannya hanya dalam waktu beberapa jam. Lagipula Yerim bukan tipe perempuan jorok yang suka menyimpan barang di mana saja lantas lupa ke mana.

Yerim menghela nafas lega seraya menepuk-nepuk kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang tertinggal. Gadis itu berkacak pinggang sambil bergumam, “Akhirnya beres!”

“Tumben bersih-bersih.”

“Aje gila kaget—lah, Kak Namjoon?!”

Mata Yerim membelalak kaget kala iris legamnya itu menangkap sosok jangkung yang tengah bersandar pada kusen pintu. Percaya dan tidak percaya bahwa sosok itu adalah kekasihnya sendiri. Buru-buru Yerim memasang wajah kesalnya ketika sadar akan sesuatu, lelaki yang ada di depannya ini barusan ‘kan… argh!

“Cie ngambek,” goda Namjoon sambil menghampiri Yerim, merangkul dan mencubiti pipi gadis itu dengan gemas.

Joon, ini kamar loh, dan lo cuman berdua sama Yerim. Jangan khilaf.

“Apaan sih pegang-pegang,” balas Yerim risih dan langsung mengendikkan bahunya agar tangan Namjoon bisa menyingkir dari sana.

“Jangan ngambek dong, aku becanda doang yaang.”

Yerim mengerucutkan bibirnya sambil mendekap dada, ia memalingkan wajah seraya berbisik, “Haha lucu banget ya becandanya.”

“Aku denger loh, Dek.”

Yerim lagi-lagi mendelik, mood-nya benar-benar hancur dan ingin meledak sejadinya. Namun Namjoon juga tak ingin menyerah begitu saja, bukan Kim Namjoon namanya kalau ia menyerah pada gadis yang paling ia cintai ini. Lelaki berlesung pipit itu kemudian menarik tangan Yerim dan mendudukkan si gadis di atas kursi meja belajar. Tak ada pemberontakan dari gadis itu, Yerim hanya menurut saja meski batinnya campur aduk seperti permen.

Namjoon kemudian berjongkok seraya menangkup dagu, ia tersenyum-senyum memperhatikan wajah Yerim dari bawah sini.

“Duh Dek, kamu jajan cokelat lagi ya? Liat tuh dari bawah dagunya dua.” Goda Namjoon.

“Ih…, ngapain sih, Joon?!” sentak Yerim makin kesal. Ia langsung ikut menangkupkan dagunya dengan tangan ke atas meja, menghindari tatapan Namjoon—dan alibi berusaha memastikan bahwa dagunya tidak benar-benar dua.

Lelaki itu kemudian terkikik geli melihat reaksi Yerim, entah sejak kapan menjahili Yerim jadi hobi yang bersifat adiktif baginya. Sehari saja tak melihat gadis itu cemberut, rasanya hidup Namjoon hampa. Ah sial, Namjoon sedang melawak kawan-kawan. Kadang melihat Yerim cemberut 24 jam non-stop tanpa sepengetahuannya pun bisa membuat lelaki berumur duapuluh dua tahun itu galau seharian. Mengandalkan Seokjin yang notabene sahabat dan kakak Yerim pun rasanya percuma, toh Seokjin takkan mau berpihak padanya, pasti itu.

Namjoon menarik tangan Yerim dari dagunya, kemudian menggenggamnya erat. Dalam hati Yerim, gadis itu sedang salto dan berjingkrak girang. Jantungnya saja sudah mau meledak sejak Namjoon menampakkan diri di depan kamarnya, jujur saja Yerim merasa dapat kejutan. Kedatangan kekasihnya yang tiba-tiba itu membuatnya senang sekaligus kesal. Maka dari itu, Yerim sengaja pura-pura marah pada Namjoon.

“Jangan ngambek lagi ya, Sayangkuuu.”

Yerim mendelik lagi, tak peduli pada rayuan Namjoon. Meski dalam hatinya ia sedang bersiap-siap mengeluarkan tameng pada next round sesi gombal kekasihnya. Rupanya sejoli ini memang sama-sama senang menjahili satu sama lain.

“Dek, yaang, beb, honey, my sweetheart, my cutie pie, calon istriku, jawab aku dong.” Rayu Namjoon lagi.

“Sebut aja semuanya.”

“Aku nggak minta kamu ngomen sebutan itu, Sayang.”

“Syukur-syukur dijawab.”

“Eh, salah lagi aku. Iya deh, jangan ngambek ya….”

“Aku nggak bakal ngambek asal…,”

“Asal apa? Mau minta apa? Tas sekolah kamu udah jelek? Mau aku beliin yang baru? Atau kamu butuh hape baru? Baju baru? Make up? Mau ke salon? Mau apa coba bilang sini sama Daddy.”

Mendengar pernyataan Namjoon, Yerim sontak tertawa. Gadis itu tak menyangka kalau pikiran Namjoon ke arah sana semua. Apa kekasihnya itu berpikir bahwa Yerim matre? Payah.

“Nah gitu dong ketawa, ‘kan cantik kamu tuh kalau gini.” Kata Namjoon.

“Oh berarti aku jelek ya?”

“Nggak gitu ih astaga salah mulu ‘kan.”

Yerim terkikik lagi, Namjoon pun ikut tertawa. Lelaki itu semakin mengeratkan genggamannya, netranya semakin tak ingin lepas dari sepasang iris permata obsidian berkilat milik Yerim. Seakan tenggelam dalam lekatnya biji mata indah yang Yerim punya. Namjoon kembali melanjutkan niatnya, “Mau minta apa, Sayang?”

“Aku cuman minta kamu ada waktu buat aku, Kak.”

Namjoon mendadak membeku, hatinya seakan tersayat pisau belati tak kasat mata. Ribuan dosa kembali menggelimang di antara pikirannya. Perasaan bersalah yang sudah membuat hubungan keduanya merenggang. Kesibukan Namjoon menjadi tameng terkuat di antara keduanya.

Namjoon berdiri, dilepasnya tangan Yerim yang kini berganti merengkuh tubuh gadis mungil di depannya. Yerim terkesiap, tak lama, gadis itu ikut membalas rengkuhan yang selama ini ia rindukan. Ini yang ia butuhkan sejak kemarin, sebuah pelukan, perasaan yang menggebu-gebu, jantung yang berdetak dan Kim Namjoon. Yerim tersenyum dibalik punggung Namjoon, hatinya merasa lega dengan sendirinya.

“Maafin aku, Yer. Aku sibuk terus sampe lupa sama kamu. Aku nggak tau diri banget emang dateng ke kamu pas lagi jatoh doang. Ngeluh terus ke kamu. Atau dateng pas lagi butuhnya aja, sedangkan pas kamu butuh, aku malah gabisa. Maafin aku, Yer.”

Yerim terenyuh, gadis itu ingin tertawa sekaligus menangis, bisa ia rasakan betapa bersalahnya Namjoon padanya. Padahal jauh di dalam lubuk hati gadis itu, ia baik-baik saja dengan kesibukan Namjoon, hanya saja kadang ia merasa jenuh dan membutuhkan lelaki itu, Namjoon tak pernah ada untuknya, tepat seperti apa yang lelaki itu katakan.

“Aku gapapa kok, Kak. Kakak sibuk juga ‘kan demi masa depan Kakak nanti.”

“Iya masa depan Kakak sama kamu, Dek.”

“Sempet ngegombal ya?” sindir Yerim terkikik.

Namjoon ikut tertawa, ia melepas pelukannya dan beralih mengelus kepala Yerim lembut. “Kakak sayang banget sama kamu, Dek.” Ucap Namjoon, dengan bariton berat, seraya mencium kening Yerim.

Yerim menutup kedua kelopak matanya, menikmati sensasi kecupan Kim Namjoon di dahinya. Sial, betapa rindu Yerim pada lelaki di hadapannya ini.

“Maafin Kakak, ya?” sahut Namjoon, menghentikan ciuman singkatnya.

Yerim mengangguk lemah. Ia juga jadi merasa bersalah karena melihat Namjoon begitu menyalahkan dirinya sendiri. Terkadang Yerim juga terlibat akan kesalahan yang menjadi pertengkaran sesi kesekiannya mereka. Jadi itu bukan murni kesalahan Namjoon saja. Ah…, cinta itu rumit memang.

“Keluar yuk? Aku beli makanan barusan sebelum ke sini.”

“Nggak ah, nanti dagu aku jadi dua!” sangkah Yerim.

Namjoon tertawa, ia menarik tangan Yerim untuk berdiri, seraya menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya “Ah aku nggak peduli, kamu tetep cantik kok.”

“Gembel mulu ih Kak, untung ganteng.”

“Bukan untung sayang?”

“Apasih.”

“Hahaha,” lelaki itu terkikik lagi untuk kesekian kalinya, ia menarik tangan Yerim agar keluar dari sarangnya, “Yaudah yuk makan, Kak Seokjin udah makan duluan tuh.”

“Ih…, dia mah gitu ya nggak nungguin!” Maki Yerim.

“Orang aku yang nyuruh dia makan duluan kok, biar kita bisa berdu—aw aw! Sakit Yer!”

Yerim mencubit lengan Namjoon keras hingga warna merah membekas di kulit lelaki itu. Ia memaki Kim Namjoon sekali lagi yang sudah berani mesum pada anak SMA sepertinya.

“Pedofil ih!” umpat Yerim.

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

Senin pagi, sarapan roti, berangkat sekolah dengan Namjoon, dan mengikuti pelajaran pertama dengan sangat-sangat baik. Gadis bernama lengkap Kim Yerim itu tak henti-hentinya memamerkan senyum yang sebetulnya sangat manis. Sejak lusa malam Namjoon datang ke rumahnya, hubungan mereka sudah bisa dibilang membaik. Mungkin benar adanya kalau komunikasi itu perlu, cukup dengan terbuka dan saling memberi waktu untuk berdua, kesalahpahaman pun perlahan menguap seperti embun. Dan Yerim senang bisa kembali seperti satu tahun ke belakang.

Memasuki jam kedua, semuanya berjalan dengan sesuai prediksi, benar-benar mulus. Mood Yerim semakin tak dapat dikontrol ketika jam istirahat datang. Keluar kelas dan berjalan menuju kantin bersama Mina, teman sebangku yang sudah diangkat jabatannya menjadi sahabat Yerim.

Kedua gadis itu kemudian duduk di pojok kantin yang langsung menembus lapang basket. Sambil menunggu makanan datang, Yerim membuka ponselnya dan mengecek beberapa akun sosial medianya. Terselip sebuah pop-up was tagged di instagramnya, Yerim mengernyitkan dahi dan buru-buru membuka aplikasi narsis itu.

 Terselip sebuah pop-up was tagged di instagramnya, Yerim mengernyitkan dahi dan buru-buru membuka aplikasi narsis itu

seokj_, leehyuuun, and 127k others
knamj Love is spending time with you. Jangan ngambek terus ya, Dek😘💑

View all 32689 comments
seokj_ Pacaran mulu anjir, adek gua butuh sekolah-
umyejin00 Udh tau lama tp tetep aja nyesek hehe, maaf ya kak. Langgeng terus sm doi
min.yg Joon, bales dm bangsat. Drone gue kemanain-

“Lahh ini kapan fotonya?” sahut Yerim.

“Apaan-apaan?” tanya Mina antusias dan langsung mendekatkan biji matanya ke arah ponsel Yerim.

“Eh udah baikan? Kapan doi ke rumahnya? Lo utang cerita ke gue, Yer!” sungut Mina kala ia menemukan apa yang dimaksud Yerim.

Yerim menatap Mina sambil menyengir, bisa-bisanya ia lupa cerita pada Mina. Benar-benar bukan sahabat yang baik.

“Nanti gue cerita deh, tapi jangan sekarang.”

“Terus kapan? Lo mah suka lupa.”

Yerim nyengir lagi, Mina mendelik sebal.

Dari arah berlawanan, seorang lelaki jangkung terlihat mendekati meja mereka berdua. Tanpa permisi atau apapun, lelaki itu duduk di depan meja kedua gadis itu.

“Min, cewek di sebelah lo namanya siapa?” katanya.

Apaan nih? Nggak sopan banget nyelonong tiba-tiba. Hei dulu kek atau apaan gitu. Rutuk Yerim dalam hati.

“Sopan kek ih, halo atau apalah,” protes Mina.

“Iya, halo Mina cewek di sebelah lo namanya siapa?” sahut lelaki itu mengulang.

“Tanya sendiri lah!”

Lelaki itu menarik nafasnya sedikit panjang, mencoba sabar. Sambil tersenyum kepada Yerim, ia bertanya lagi, “Halo, nama kamu siapa?”

Ragu untuk menjawab, Yerim diam seraya menutupi wajahnya dengan rambut. Si pria tampak kesal, “Jangan sok cantik gitu deh, cuman nanya nama doang juga.”

What? Sok cantik? Gila ya. Lo juga gak usah sok kegantengan, dasar udik! Maki Yerim lagi dalam hatinya.

“Bukan gue yang nanya, Jungkook noh yang minta!”

“Namanya Kim Yerim, udah sana lo ganggu aja, Hyuk!” usir Mina kesal melihat temannya di perlakukan tidak sopan oleh kakak kelasnya.

“Mentang-mentang udah jadian sama Mingyu, songong lu Min.” cecar lelaki itu enggan meninggalkan tempat.

Mina memutar bola matanya tak peduli, ia juga seperti itu karena sikap Donghyuk sendiri. Mana pula membawa hubungannya dengan Mingyu, lalu urusannya apa?

“Apasih lo, Kak. Udah sana balik!”

Donghyuk pun akhirnya beranjak pergi, tanpa terimakasih atau apapun. Benar-benar tak tahu sopan santun. Parah. Buat apa dia sekolah kalau begitu?

“Udah nggak usah ditanggepin Yer. Mereka anak-anak nggak bener, penyamun semua.” Peringat Mina.

Yerim mengangguk mengamini, “Lagian gue juga nggak suka, Min. Eh penyamun? Mingyu juga ‘kan…”

“Mingyu beda cerita lagi woy! Enak aja….”

“Ya siap—”

“HALLO KIM YERIM, KAMU CANTIK!!”

Yerim dan Mina menoleh bersamaan ke asal suara. Terkejut karena sumber suara tersebut tidak terdengar layaknya seorang manusia biasa memanggil. Siapa yang sudah berani memanggil namanya keras-keras lewat speaker sekolah?!

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s