[BAG 3] Rock On! Kuki’s ― ARRYLEA’s VERHAAL

A fan fiction with,
AU!, Romance sense, School-life and Family stories
Staring by Jeon Jungkook’s of BTS & Kim Yerim’s of Red Velvet
Author’s Point of View.
T for rating

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Jeon Jungkook dan Kim Yerim miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2017© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Has been published too at WATTPAD
Jungri edit manipulation by @btsvelvet_chu. Sorry for hidden ur mark. But i’m sure that photo edit is yours. I’m just add and edit the title-cast-pen name. Thank you @btsvelvet_chu!

SINOPSIS

Jeon Jungkook naksir berat Kim Yerim. Anak kelas 10-3 di sekolahnya yang jauh dari predikat kata HITS SG. Tapi Jungkook tak peduli, dia bersikeras tetap mencari perhatian si imut Yerim sampai gadis itu jengah dan ingin pindah sekolah. Padahal, Yerim mati-matian masuk SMA Seoul Global demi mendapat pujian abangnya, Kim Seokjin.

Parahnya lagi, Namjoon, yang notabene sebagai kekasihnya Yerim itu malah cuek bebek dengan adegan pernyataan cinta yang sering Jungkook ungkapkan tanpa pandang bulu. Benar-benar memalukan! Yerim makin keki. Menyesal kenapa dulu mau menerima Namjoon sebagai kekasihnya yang sudah jelas adalah seorang model dan sahabat kakaknya.

How Yerim can deal with them? Broke up with Namjoon and try to make a new love journal with Jungkook? Or stay with Namjoon whatever he does and act like don’t give a shit to Jungkook?

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

Rock On! Kuki’s
ARRYLEA’S

o

Intro lagu hip-hop tahun dua puluhan berputar. Dentuman drum dan suara hasil komposing DAW mengisi studio agensi BIG;IT, bersamaan dengan itu, Kim Namjoon menapak pada latar putih pemotretan. Iris hazel-nya hanya fokus pada mata lensa si fotografer. Konsen, Namjoon, konsen, gumamnya dalam hati.

Suara seorang pria menge-rapp terdengar dari speaker. Namjoon merubah posisi, bergaya sesuai dengan iringan lagu, diikuti blitz kamera yang menyalak tak berjeda. Ia menaikkan dagu, tangan sedikit menarik pinggiran kerah, mengekspos kejenjangan leher kekar yang bercahaya redup ke arah kamera. Jepretan berikutnya, kembali terpampang jelas pose model di monitor yang tersambung langsung dengan DSLR sang fotografer.

“Lebih rileks lagi, Joon!” sahut seorang pria dibalik lensa kamera.

Namjoon menanggapi dengan kembali merubah gaya, sesuai intruksi sang fotografer, rileks. Memegang kepala, mata tertutup dan blitz kamera kembali menyalak. Pikirannya sedang kacau saat ini. Tugas Akhir-nya nyaris saja ditolak dosen berambut gondrong yang menjadi pembimbingnya. Padahal biasanya, lelaki berlesung pipit itu tidak terlalu mempermasalahkan urusan kuliah jika sedang bekerja. Namun entah kenapa tiba-tiba saja bayangan tadi pagi berputar di dalam otaknya.

Apa mungkin ini berhubungan dengan Yerim? Ah, ya, Namjoon memilih, “She’s Yerim” sebagai judul Tugas Akhir-nya.

Kenapa harus Yerim? Well, berhubung Namjoon merupakan mahasiswa semester lima jurusan Sastra yang sangat-sangat cinta pada musik. Maka dipilihlah sebuah konsep musikalisasi puisi sebagai tugas akhirnya, beserta Kim Yerim sebagai pemeran utamanya. Baiklah, Namjoon, kau terlalu romantis untuk ukuran pria yang sibuk mengurusi tugas akhir.

Lagu hampir mencapai chorus, Namjoon masih tak henti berpose, pun begitu dengan sang fotografer yang haus akan menyulutkan shutter, tak ingin ketinggalan satu momen pergerakan lelaki berlesung pipit itu. Kim Namjoon sudah mulai menikmati sesi pemotretannya.

Stop. It’s enough, Kim.” Selah Mr. Russels, tegas nan serak, menghentikan pose keren Namjoon.

Namjoon mendesah pelan, “Shit.” Desisnya. Memaki dirinya sendiri karena tak mampu maksimal. Lagu masih berjalan, sang fotografer jua masih setia memotretnya, kemudian tiba-tiba saja sang mentor memintanya berhenti. Kim Namjoon kesal, kecewa, ingin marah.

Pardon, Sir.” Lirih Namjoon.

Mr. Russels tersenyum simpul, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, mendekati Namjoon yang masih mematung di depan kamera, merangkul bahu dan membawanya ke depan layar monitor yang tersambung dengan DSLR.

“Jangan dibawa hati, Kim. Aku tau hari ini mood kamu lagi kacau.” Ujar Mr. Russels, menepuk bahu lelaki bermarga Kim itu.

Namjoon mengangguk, menungkup kedua tangannya di atas perut agak bawah. Sekali lagi, Namjoon meminta maaf kepada sang mentor karena mengecewakan. Namun Mr. Russels terkekeh melihat sifat Namjoon yang merendah, “Kamu tau alasan kenapa aku rekomendasiin kamu buat jadi model editorial, Kim?”

Namjoon kembali menggerakkan kepalanya, menggeleng. Ia tak tahu menahu cerita dibalik rekomendasi model editorial yang barusan dijabarkan Mr. Russels. Lagipula mahasiswa semester lima itu tidak pernah berharap banyak menjadi seorang model editorial, baginya sebagai model freelancer yang sepak terjangnya sudah padat pun cukup membuatnya frustasi antara pemotretan, kuliah serta tugasnya, dan juga Kim Yerim.

“Kamu udah ada passion, loh. Daripada cuman jadi freelancer mending aku ajak kamu gabung sama model editorial yang lain. Wajah dan postur kamu juga cocok ada di atas catwalk selain buat majalah fesyen. Lagian sifat rendah hati kamu jadi salah satu alasan semua petinggi mau jadiin kamu The New Face of BIG;IT. Something good for starts, Kim. I’m such a proud adsiver because your manner. ”

Namjoon menaik turunkan kepalanya pelan, ia malu sendiri dipuji habis-habisan oleh sang mentor asal Prancis tersebut, berusaha merespon uraian Mr. Russels sebaik yang ia bisa, “Thank you, Sir. Tapi saya masih pemula di sini. Mohon bantuannya.”

Mr. Russels terkekeh lagi, “Aduh, susah ya emang kalau udah sifat. Yaudah pokonya next meeting harus lebih bagus dari ini, oke?”

Kim Namjoon tersenyum kecut, hampir-hampir tak terlihat senyuman di wajahnya, “Ay ay, Sir!” pekiknya. Menutupi kacaunya pikiran dengan semangat buatan.

“Lain kali, bawa aja Yerim ke sini, mungkin kamu butuh sedikit muse.” Sahut pria berumur tigapuluh enam tahun itu asal seraya pergi meninggalkan studio.

Kim Namjoon mematung sejenak, matanya menyipit, bibirnya terangkat, ia menyeringai. “That’s sound great, Sir!” gumamnya.

 

 

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

 

 

Panas mentari menyorot seluruh penjuru lapangan terbuka SMA Seoul Global. Namun tak lantas membatalkan pelajaran olahraga kelas Yerim yang dijadwalkan hampir menuju siang bolong di hari Kamis. Gerah. Kim Yerim mengipas-ngipasi dirinya dengan pakaian olahraga setelah selesai tanding voli. Sesekali, gadis itu menyeka keringat yang muncul dari pori-pori pelipisnya.

Yerim duduk di samping lapangan, di bawah pohon mangga tak berbuah yang rindang, bersamaan dengan Mina, Soohyun dan Chaeyoung di sana, sama-sama ngadem.

Chaeyoung menyilangkan kaki, menyimpan sikut di atas paha dan menangkupkan dagu dengan tangan kanannya. “Yer, nakal-nakal juga, Kak Jungkook itu baik tau.” Celetuk gadis itu.

Gosipnya didekati Jeon Jungkook, anak kekinian nan hits di SMA SG memang sudah tersebar. Apalagi sejak insiden namanya disebut lewat speaker sekolah tiga hari yang lalu. Gembar-gembor kedekatannya dengan Jungkook pun jadi bahan pembicaraan paling panas di sekolah. Bahkan beberapa dari mereka yang mengaku ‘fans berat’ Jeon Jungkook sering memberi Yerim tatapan singa betina yang kelaparan. Menusuk. Sinis. Tak bersahabat. Melirik dari atas sampai bawah seperti sensor.

Sebenarnya Jeon Jungkook sendiri menurut Yerim biasa saja. Ganteng? Modal ganteng doang tapi kelakuan bejat buat apa? Malah sehari setelah insiden itu, Yerim berdoa dan berharap amit-amit jabang bayi di dekati oleh salah satu laki-laki berpengaruh di sekolah. Mentang-mentang dia kakak kelas, anak hits yang ‘katanya’ ganteng mirip personil boy group dan dipuja-puja itu, lantas Yerim akan bertekuk lutut dengan mudah padanya? Cih, mimpi saja.

“Ayahnya orang pertambangan loh Yer kalau gak salah,” Soohyun menampik antusias.

Chaeyoung mengangguk, setuju. “Ibunya juga manajer agensi model katanya.”

Yerim mendengus sekaligus merasa prihatin, “Pantesan anaknya nggak keurus ya.”

Chaeyoung dan Soohyun terkekeh, kemudian kembali melanjutkan obrolannya soal Jungkook, seolah mereka adalah intel yang sedang membocorkan rahasia kenegaraan. Dan Yerim adalah orang yang akan membayar mahal mereka demi mendapatkan data lengkap dan asli seorang Jeon Jungkook. Namun nyatanya, Kim Yerim dan Kang Mina hanya mengangguk-ngangguk saja menerima informasi dari keduanya. Acuh tak acuh pada obrolan yang mereka rasa tak penting.

 

Tssss

 

Sebuah objek sedingin es mencium permukaan kulit pipi Yerim, membuat gadis itu tersentak dan memutar kepalanya ke belakang, seraya meraba-raba pipinya yang mendadak dingin.

Jeon Jungkook berdiri di belakang Kim Yerim, menempelkan botol air minum dingin di pipi gadis chubby itu. Ia tersenyum manis, memperlihatkan gigi kelincinya yang menggemaskan, “Nih biar seger.”

Yerim canggung. Ia mengangguk kikuk, menerima botol air minum dari Jungkook dengan tangan kanannya, tak berniat marah padanya sedikit pun seperti tiga hari yang lalu. “Oh iya, makasih, Kak.” Katanya sopan.

“Heh, Chae, Soohyun, Mina, kalau gosipin gue tuh yang bagus-bagus lah.” Tegur Jungkook.

“Misalnya, Jungkook itu ganteng ya.” Tambahnya lagi.

“Apaan? Gue dari tadi nyimak ih!” pekik Mina tidak terima. Benar juga, sahabat Yerim ini sedari tadi hanya diam dan mengikuti alur pembicaraan teman-temannya.

“Halah, Kak. Kalau udah cinta mau jelek atau bagus juga mana peduli,” sungut Chaeyoung.

“Eh tapi ‘kan tetep aja harus jaga imej, iya gak Yer?”

Yerim menyeringai sambil memeluk botol air minum dari Jungkook dengan kedua tangannya, memaksakan diri tertawa, “Ehehe, iya.”

God

What the heck was going on, Kim Yerim?! Kenapa lo jadi malu-malu babi gitu sih? Batin Yerim.

“Tuh, si Cinta aja udah mengakui.” Ujar Jungkook seraya menjentikkan jarinya, ia girang bukan main, seperti baru saja memenangkan lotre seratus juta won karena Yerim bersikap manis hari ini. “Udah ah, Kuki ke kelas dulu ya Yer. Kuki kelasnya di sana—” Jungkook menunjuk salah satu ruangan kelas dekat lapangan tempatnya olahraga. “—daritadi Kuki gak fokus belajar liatin Yerim olahraga, takutnya bengek atau gimana ‘kan Kuki khawatir.”

Lagi-lagi Kim Yerim mengangguk, ia tersenyum masam, “Hehe, iya, Kak.”

Jungkook tersenyum simpul melihat Yerim yang salah tingkah. Tuh ‘kan, dia tuh kalau jinak gini manis banget anj—. Marah aja lucu apalagi jinak, makin cinta atuh Abang, Neng. Batin Jungkook.

Lelaki itu kemudian menepuk puncak kepala Yerim lembut walau sekilas dan langsung berlari memutari sisi lapangan, masuk ke dalam kelasnya yang bersebrangan dengan tempat Yerim istirahat.

Sepeninggal Jungkook, Yerim mendadak sekujur tubuhnya melemas. Memang, Yerim bukan tipikal orang pendendam yang hobi membenci seseorang bertahun-tahun lamanya, tapi ia juga bukan berarti seorang pemaaf layaknya malaikat. Ia tetaplah seorang manusia biasa, gadis berumur tujuh belas tahun yang sedang jatuh cinta pada seorang lelaki bernama Kim Namjoon, bersekolah di salah satu sekolah bergengsi di kotanya, memiliki kakak laki-laki over-protective yang membiarkan adiknya berkencan dengan sahabatnya sendiri, biasa saja, lumayan cantik kata dirinya sendiri, berharap sekolahnya berjalan dengan lancar dan mulus seperti paha SNSD meskipun tiba-tiba semuanya berubah drastis sejak ia dipertemukan dengan kakak kelas nyentrik macam Jungkook.

Terkadang Yerim menyesal, kenapa ia harus memilih sekolah Seoul Global jika tahu akan seperti ini jadinya. Hanya karena sekolah ini berakreditasi internasional, tetap saja tidak menjamin jika masih saja ada anak idiot, penyamun, tukang ganggu, seperti Jeon Jungkook.

Baiklah, Kim Yerim. Sudahi saja penyesalanmu. Ini sudah takdir. Mohon bersabar, ini adalah ujian Tuhan.

“Salting ya Yer disapa orang ganteng?” celetuk Chaeyoung spontan.

“Padahal kemarin ngamuk-ngamuk tuh ke Kak Jungkook, hahaha.” Soohyun tertawa sambil menutupi bibirnya dengan kedua tangan.

Yerim mendengus sebal. Ia menyimpan botol air minum yang barusan Jungkook berikan di samping pantatnya, setelah meminumnya beberapa detik lalu. Mengusap bibir yang basah dengan kasar kemudian berkata, “Heh, denger ya! Gue tau doi baik, buktinya barusan ngasih gue minum. Tapi gak berarti gue mau sama dia, oke?”

“Halah Yer!” ejek Chaeyoung sinis, melempar tangannya pada Yerim, “Lama-lama juga benci jadi cinta. Liat aja deh nanti. Gue berani taruhan, deh!”

“Nggak dan nggak akan pernah!” sungut si gadis.

Kang Mina menempelkan kedua tangannya di samping kepala, mengerutkan kening sambil menggerutu, “Aduhhhh! Udah dong, guys. Taruhan tuh nggak baik. Lagian Chae bener, Yer. Meskipun doi nyebelin buat lo, nggak berarti lo bisa seenaknya benci dia.  Udah terlanjur cinta, nyaho sendiri lu!”

Dipepatahi sang sahabat, Yerim bungkam. Ia mengulum bibir sambil membuat gerakan-gerakan kecil, mencibir temannya.

Anyway, tugas dari Pak Jihoon kemarin itu gimana sih?” selah Soohyun, mengalihkan obrolan.

 

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

 

“Hey,”

“Sendirian?”

“Jawab dong, Yer.”

“Keliatannya gimana sih, Kak?”

Jungkook mengerahkan senyum gigi kelincinya, narsis. “Sendirian.”

“Yaudah,” sahut Yerim jutek.

Kim Yerim dan Jeon Jungkook tengah berdiri di dekat gerbang sekolah, depan pos satpam yang teduh, sengaja gadis itu memilih tempat di sini demi menghindari cahaya matahari yang hari ini suhunya sudah mencapai 35˚.

Jam dinding di dalam pos satpam sudah menunjukkan pukul tiga lewat tujuhbelas, tapi seperti biasa, orang yang akan berjanji menjemput tak jua datang. Padahal kaki Yerim sudah mulai pegal-pegal akibat pertandingan voli saat pelajaran olahraga. Tak bisa gadis itu bayangkan jika ia dulu benar-benar menekuni salah satu olahraga bola besar itu. Setiap hari atau mungkin hampir setiap waktu ia akan berlatih menguatkan otot kaki serta tangan mengingat ia sangat menguasai teknik Setter.

“Duh, kebiasaan Kak Namjoon, lama banget! Yerim pengen cepetan nyampe rumah nih…,” keluh gadis itu.

Diam-diam Jeon Jungkook menguping keluhan sang gadis. Ia mengangkat salah satu bibirnya, tersenyum menyeringai, tersirat dalam pikirannya untuk memperlakukan Kim Yerim lebih manusiawi. Maksudnya, memperlakukan gadis itu sesuai dengan seharusnya seorang lelaki sejati perbuat.

“Yang jem—”

“Halo, Kak? … Oooh, gitu. … Aku naik bus aja kalau gitu ya. … Aduh, jangan-jangan! Kasian Pak Sunghoon, aku naik bus aja. … Iya gapapa, Kakak hati-hati jangan kebut-kebutan. … Iya.”

Jungkook tengsin, ucapannya terpotong sebuah panggilan ponsel. Ia harap-harap cemas semoga Yerim tak fokus dengan perkatannya barusan, ditambah lagi mendengar percakapan sang gadis dengan seseorang via telepon yang terdengar manja dan begitu perhatian pada orang itu semakin membuat Jungkook down. Tapi, tunggu! Yerim memanggilnya dengan sebutan ‘Kakak’-kan?

“Kakak kamu?” tanya Jungkook.

Yerim mengangguk lesu, “Iya.”

“Gabisa jemput ya?”

Lagi-lagi Kim Yerim mengangguk, lesu sekali. “Iya.”

Jungkook menggaruk tengkuknya, merasa salah tingkah dan serba salah melihat seorang gadis yang tengah kecewa. Seharusnya ia bisa saja mengantarkan Yerim pulang ke rumah dengan kendaraan roda dua yang ia bawa. Namun, dilihat dari life style Yerim yang terlihat jarang menaiki motor, Jungkook jadi ragu.

“Jadi kamu pulang sama siapa?”

“Sendirian.”

“Yaudah yuk pulang, aku anterin. Naik bus ‘kan?” Jungkook menarik lengan Yerim sedikit kasar, tak membiarkan gadis itu lepas dari genggamannya sedikit pun. Hebatnya Kim Yerim tidak seberontak biasanya. Gadis itu jauh lebih penurut kali ini.

Jeon Jungkook dan Kim Yerim berjalan menuju arah jalan raya Dongsomun selama duabelas menit. Saling berdampingan dan sangat canggung. Jungkook sudah meloloskan genggaman tangannya ketika Yerim memohon untuk dilepas, gadis itu kini berjalan di depan Jungkook dan terlihat seperti mayat hidup. Benar-benar tidak bersemangat dan lesu sekali. Membuat lelaki bertubuh tinggi di samping Yerim pun jadi curiga, ada hubungan apa antara gadis ini dengan seseorang yang ia panggil ‘Kakak’ itu, kenapa bisa-bisanya membuat gebetan-nya berubah menjadi zombie tiba-tiba seperti ini.

Langkah kaki mereka terhenti di pinggir jalan, tepat di depan restoran cepat saji ‘Mister Pizza’, Kim Yerim menyikut lengan Jungkook pelan, “Makasih, Kak. Maaf ngerepotin, tapi gue bisa sendiri.” Ujar gadis itu.

Jungkook terdiam, mencoba mencerna, “Kamu nggak ngerepotin kok, aku anter sampe ru—”

“Jangan!” Potong Yerim. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke seluruh arah, tergagap, “M-maksud gue, arah rumah kita beda. Gue nggak mau makin ngerepotin lo, Kak.”

Yerim kemudian menatap Jungkook penuh permohonan. Mata sayu memelas Yerim berikan pada lelaki itu, ini bukan sandiwara, Yerim benar-benar butuh waktu untuk sendiri.

Please…,” pinta Yerim lirih.

Jungkook tak bisa menolak, terutama ketika sebuah refleksi dirinya berada di biji mata gadis imut itu. Rasa-rasanya Jungkook ambyar begitu saja. Seolah pernah merasakan tatapan mata memelas yang baru saja Yerim berikan. Dari seseorang. Kakak kelas yang juga mantannya saat SMP dulu. Park Sooyoung.

Lelaki itu segera menggelengkan kepala, menepis pikiran gila akan masa lalu yang lewat di otaknya. Mengangguk seraya tersenyum, Jungkook menyetujui permintaan si gadis, “Yaudah, aku nggak akan maksa. Hati-hati, Yer.”

Yerim menyunggingkan senyum terbaik pada Jungkook, walau terkesan hampa. Gadis itu merasa lega karena Jungkook mau mengerti kondisinya. Meskipun Yerim tahu, sifatnya ini bisa dibilang berlebihan, padahal hanya batal menjemput, seperti biasanya Namjoon lakukan. Seharusnya ia tidak perlu merasa jatuh seperti ini. Namun apa boleh buat? Terlalu sering diberi harapan palsu oleh orang yang disayang, Yerim ambruk juga untuk pura-pura kuat.

Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya sedikit jauh dari Jungkook dan menunggu bus 272 menuju Yulgok—daerah rumah Kim Yerim—lewat. Jeon Jungkook masih setia mematung di sana. Sama-sama menunggu, memastikan bahwa gadis imut itu naik bus dan duduk di dalamnya dengan selamat.

Enam menit berlalu, bus berwarna biru cerah datang dari arah barat. Sebuah billboard bertuliskan 272 tertempel di kaca depan. Bus tersebut berhenti tepat di mana Yerim berdiri, pintu otomatisnya pun terbuka lebar secara bersamaan. Yerim sempat melirik Jungkook sebelum melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam. Sekilas, terlihat Jungkook menggerakan tangannya pada Yerim untuk memberikan salam perpisahan seraya tersenyum. Gadis itu berlalu dengan membalas senyum pada Jungkook dan melanjutkan kegiatan yang tertunda beberapa detik, menaiki bus dan duduk di seat kanan dekat jendela.

Yerim jadi teringat sebuah film yang pernah ia tonton bersama Namjoon. Berlatar Eropa tahun tujuhpuluh-an, berkisah tentang seorang kekasih yang ditinggal pergi jauh dan entah kapan akan kembali, saling melepas rindu dengan berpelukan sebelum berpisah dan saling memperhatikan di balik jendela kaca. Bedanya, Yerim dan Jungkook tidak melakukan adegan saling memeluk. Entah kenapa perasaan itu kini Yerim rasakan sendiri melihat Jungkook masih saja setia mematung di sana dan memperhatikannya. Seperti kaset usang yang diputar ulang. Hampir sama.

Jungkook menyimpan kedua tangannya di depan mulut, bibirnya berkata sesuatu yang tidak Yerim pahami, berulang-ulang, hingga bus pun melesat pergi meninggalkan Jungkook di belakang.

 

.

.

.

.

 

Yerim, aku sayang kamu!”

 

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

 

*Model editorial adalah model yang dijumpai pada pemotretan majalah berkelas, pada halaman-halaman spread, portofolio desainer, fotografer top, dll. Model editorial biasanya memiliki ciri khas tersendiri dan mendapat julukan model High Fashion/Haute Couture. Terkadang mereka juga berada di atas catwalk, memperagakan baju-baju desainer. Atau sering disebut sebagai model Runway. Hanya saja tidak semua model editorial juga merupakan model runway. Salah satu contoh model Haute Couture asal Korea adalah Soo Park, model runway yang juga model editorial, beragensi di ESteem Models. Salah satu model Go International di Korea Selatan.

**Sedangkan yang biasa kalian lihat, BTS misalnya, mengiklankan suatu produk, sering kita lihat di katalog, iklan televisi, halaman iklan di majalah, dll, itu disebut sebagai model komersial. Model yang dibayar oleh agen atau perusahaan untuk membintangi produk komersial.

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s