[BAG 4] Rock On! Kuki’s ― ARRYLEA’s VERHAAL

A fan fiction with,
AU!, Romance sense, School-life and Family stories
Staring by Jeon Jungkook’s of BTS & Kim Yerim’s of Red Velvet
Author’s Point of View.
T for rating

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Jeon Jungkook dan Kim Yerim miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2017© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Has been published too at WATTPAD
Jungri edit manipulation by @btsvelvet_chu. Sorry for hidden ur mark. But i’m sure that photo edit is yours. I’m just add and edit the title-cast-pen name. Thank you @btsvelvet_chu!

SINOPSIS

Jeon Jungkook naksir berat Kim Yerim. Anak kelas 10-3 di sekolahnya yang jauh dari predikat kata HITS SG. Tapi Jungkook tak peduli, dia bersikeras tetap mencari perhatian si imut Yerim sampai gadis itu jengah dan ingin pindah sekolah. Padahal, Yerim mati-matian masuk SMA Seoul Global demi mendapat pujian abangnya, Kim Seokjin.

Parahnya lagi, Namjoon, yang notabene sebagai kekasihnya Yerim itu malah cuek bebek dengan adegan pernyataan cinta yang sering Jungkook ungkapkan tanpa pandang bulu. Benar-benar memalukan! Yerim makin keki. Menyesal kenapa dulu mau menerima Namjoon sebagai kekasihnya yang sudah jelas adalah seorang model dan sahabat kakaknya.

How Yerim can deal with them? Broke up with Namjoon and try to make a new love journal with Jungkook? Or stay with Namjoon whatever he does and act like don’t give a shit to Jungkook?

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

Rock On! Kuki’s
ARRYLEA’S

o

Suatu hari bersalju di awal tahun 2014.

Seorin-dong, Youngpoong Book Store.

Kim Yerim terduduk manis di depan rak kayu cokelat tua yang berjajar tinggi hingga nyaris menutupi seluruh tubuh mungilnya. Dwimaniknya terpaku pada sosok jangkung berdiri tak jauh dari rak yang sama, memegang sebuah buku bersampul kuning, membuka dan mengecek isinya dengan teliti.

Diam-diam, Yerim menyunggingkan senyum seraya memperhatikan siluet Namjoon. Perasaan menggebu-gebu kini sedang mengawasinya, muncul dengan tiba-tiba, membuat otak tak henti berpikir akan wajah tampan lelaki itu. Padahal, tak pernah sekalipun ia sengaja menyukai sosok pria bernama Kim Namjoon, lelaki  yang selalu diandalkannya ketika tugas sekolah sukses membuat otaknya mendidih.

Yerim sadar, ia menyukai Namjoon sejak pria itu sering datang ke rumah. Membantunya belajar menaklukan aljabar yang sulitnya melebihi raja terakhir Mario Bross atau sekedar mengunjungi kakaknya untuk meminta dibuatkan makan alias nebeng makan.

Gadis itu tak paham, kenapa sosok Namjoon begitu menawan dan menggoda baginya. Terutama ketika lelaki itu berubah menjadi seorang tutor belajar Yerim. Ia tak sanggup untuk tidak ber-fangirl ria menatap Kim Namjoon yang serius menjelaskan operasi hitung perpangkatan aljabar.

Terkadang Yerim iri pada perempuan yang sanggup mencuri hati Namjoon, pastinya gadis itu adalah sosok yang sama cerdas dan menawannya seperti lelaki itu. Kalau dibandingkan dengannya, sudah jelas ia kalah. Dan karena itu, Yerim berjanji akan belajar membuang jauh-jauh perasaan gila yang sudah memporak-porandakan hatinya.

Mulai hari ini.

“Yer,” suara Namjoon mengalun lembut ditelinga si gadis, menghampiri Kim Yerim yang duduk manis setia menungguinya.

Yerim bergumam, biji maniknya masih setia menangkring pada sosok Namjoon, sekalipun itu ada di depan matanya sendiri. “Apa?”

“Laper nggak?”

“Engga ah.”

“Mau ke mana lagi?” Namjoon mengecek isi dompet, terlihat sedang menghitung harga jumlah buku yang dibelinya.

Yerim bergumam lagi, kali ini lebih panjang. Ia bingung. Ke mana lagi yang harus ia tuju? Baginya pergi berjalan-jalan dengan Namjoon, mau ke mana pun itu, ia rela lakukan meski kaki berdarah meronta meminta untuk berhenti.

“Gatau.” Jawab Yerim datar.

Namjoon merogoh saku celana, memberikan sesuatu kepada Yerim, “Yaudah, tunggu aja di mobil, aku bayar ini dulu.”

Yerim mengangguk, bergegas pergi mendahului Namjoon ke arah pintu kaca. Berjalan menuju mobil galant berwarna merah yang terparkir di antara kendaraan lain di sana. Yerim menyalakan alarm setelah mendapati mobil berwarna mencolok itu terparkir paling ujung toko. Duduk di jok depan, menarik kaca spion yang menempel di plafon, dan bercermin sejemang.

Tak lama setelah itu, Namjoon masuk ke dalam mobil, tangan kanannya penuh dengan kantung kresek putih berisi dua sampai empat buku dan disimpan di atas dashboard. Ia melempar senyum pada Yerim kemudian, “Makasih ya Yer.”

“Iya Kak.” Ujarnya seraya mengangguk.

Namjoon masih menyunggingkan senyum, otaknya berseliweran berbagai macam pertanyaan dan sesuatu yang dipendamnya sejak lama. Heran. Kim Namjoon heran, kenapa ia merasa takut akan pandangan Yerim padanya jika ia mengatakan itu sekarang.

Ah. Jangankan Namjoon. Yerim sendiri heran dengan suasana canggung yang mereka rasakan akhir-akhir ini.

Sambil menyalakan mesin mobil, menurunkan rem tangan, menginjak pedal dan memindah persneling, Namjoon tancap gas seraya menghela nafasnya panjang, harap-harap cemas akan kejadian beberapa detik selanjutnya.

Sebenarnya, apa yang akan Namjoon lakukan, sih?

“Yer.” Panggil Namjoon, tanpa menoleh, maniknya serius pada jalanan.

Yerim hanya bergumam. Tangannya sibuk saling mengapit jemari, terlihat kedinginan.

Kini Namjoon menoleh, mengernyitkan dahi melihat gestur Yerim. “Dingin?”

Ragu, Kim Yerim mengangguk. Astaga lucu sekali, pikir Namjoon.

“Kenapa nggak bilang daritadi?” Namjoon pun segera mematikan AC dan menggantinya dengan penghangat. Lagipula, kenapa bisa-bisanya di suhu 1˚ ini menyalakan AC?

“Takutnya Kak Namjoon gerah.”

“Ya ampun, haha.” Namjoon tergelak, ia mengusap puncak kepala Yerim dengan salah satu tangannya. “Lucu banget sih Yer.”

Yerim canggung berat. Kata ‘lucu banget’ itu benar-benar lolos membuatnya gagal move on dari si lelaki berlesung pipit ini. Lagian, siapa yang tidak bawa perasaan jika gebetan mendadak mengelus puncak kepala seraya berkata; lucu? Dijamin, rasanya ingin segera official saja jadinya.

“Kakak heran kadang kok kamu nggak punya pacar padahal lucu gini.” Celetuk Namjoon.

Mata Yerim terbelalak, sedikit tersinggung meski lagi-lagi hatinya tidak karuan. Maksud lelaki ini apa berkata seperti itu?

“Apaan sih, Kak…,”

Namjoon terkekeh, “Engga. Mau nanya dong Yer.”

“Nanya apa, Kak?”

“Kalau ada yang suka sama kamu, gimana?”

Yerim terhenyak. Pertanyaan yang to the point. Apakah ini tanda lampu hijau untuknya? Apakah Namjoon sedang berusaha basa-basi untuk mengungkapkan perasaan padanya? Atau jangan-jangan ia hanya iseng bertanya?

“Emang kenapa?” tutur Yerim.

“Jawab dulu aja.”

“Hm…,” Yerim menunduk, kedua ibu jarinya beradu dan saling berputar, ia terlihat bimbang. “Ya tergantung orangnya sih. Kalau orangnya yang aku suka, ya gapapa.”

“Yerim suka sama Kakak, ga?”

Biji manik Yerim hampir saja lompat dari sarangnya ketika Namjoon bertanya begitu. Apa-apaan maksudnya? Ia memancing? Atau apa? Tolong, Yerim tak sanggup menerka.

“Su-su-suka, K-kak…,” jawab Yerim tergagap, ia memilih jujur. Teserah apa yang akan Namjoon tanggapi nanti, yang penting Yerim sudah mengungkapkannya.

“Serius?”

Yerim mengangguk dengan berat hati, bahkan terlihat gemetar walau hanya menaik-turunkan kepalanya saja.

“Kakak juga suka sama Yerim.”

Jika saja di sini ada lubang, ingin Yerim menyelundupkan diri saja ke sana.

“Kakak suka becanda aja ih.” Balasnya.

“Eh, Kakak serius.” Tutur Namjoon.

Lelaki itu mendadak memutar setirnya, membelokkan mobil ke jalan sempit yang hanya masuk satu kendaraan di sekitar rumah. Namjoon memalingkan tubuhnya menghadap Yerim, sikunya bertopang pada setir, manik mata hazel itu pun menatap tajam dan serius pada sang gadis yang gugup setengah mampus.

“Kakak serius, Yer. Maaf Kakak nggak bisa basa-basi banyak, nggak bisa romantis, tapi yang jelas Kakak serius.”

“Kak…,”

“Yer, terserah deh kamu mau anggap Kakak apaan. Tapi Kakak nggak bisa bohong kalau kamu berhasil bikin Kakak sayang sama kamu. Ada sesuatu yang bikin Kakak pengen terus deket sama kamu, ngelindungin kamu kayak Seokjin lakuin, terus bantuin kamu, nggak peduli sebenernya kamu punya PR atau engga. Bagi Kakak, bisa bantuin kamu belajar itu udah serasa jadi kewajiban ngedidik istri.”

“Kak Namjoon ih…,”

“Maafin Kakak, Yer. But, can I ask you to…

Yerim mengigit bibir bawahnya yang merah muda natural, menunggu kalimat menggantung dari Namjoon. “To?

To be mine.”

 

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

 

“Senyum-senyum mulu, Dek. Awas kesambet loh.”

“Yaelah dikacangin.”

“Lagi ngelamunin apaan sih?”

Pria berumur duapuluh dua tahun itu tak henti melirik dan mengajak si gadis berbicara. Nampaknya Kim Yerim terlihat senang sekali dibawa pergi untuk menemaninya pemotretan di Bukchon, suatu kawasan pemukiman tempo dulu.

Namjoon jadi teringat perkataan kekasihnya dulu; kalau ia selalu merasa senang kemanapun tempat yang dituju selama itu bersamanya. Duh, Yerim. Cheesy but really fluffy.

“Aku keinget sama kejadian setahun kemarin, Kak. Di mobil ini.” Jawab Yerim.

“Yang mana? Banyak banget perasaan kejadian di mobil ini mah, Dek.”

“Ah, malesin ah. Lupa mulu.” Yerim menangkupkan dagunya masa bodoh. Namjoon selalu begitu. Lupa. Tidak ingat. Nyaris rusak. Hilang. Ketinggalan. Dan semua hal-hal yang bersangkutan dengan ingatan atau benda pasti raib tak berjejak. Kadang Yerim heran, IQ 148 yang ia miliki itu untuk apa kalau mengingat saja tidak mampu.

“Serius, Yer. Aku lupa.” Sesal Namjoon.

“Gatau ah.”

“Nggak deh, aku inget.”

“Apaan coba?” kepala Yerim berputar menghadap si pengemudi.

“Itu pokoknya.”

“Itu apaan?”

“Itu…,”

“Kalau ga inget bilang aja lagi.” Cibir Yerim, ia memalingkan lagi wajahnya dari Namjoon.

Namjoon nyaris frustasi, ia bukan tipe pria yang blak-blakan mengungkapkan sesuatu. Harus dan selalu via benda atau orang lain, contohnya lewat puisi, bunga, cokelat, buku atau kadang parfum Jo Malone kesukaan Yerim. Tapi apa perlu mengutarakan kejadian setahun lalu lewat itu semua? Konyol rasanya.

“Iya…,” dada Namjoon naik turun, ia hendak menarik dan menghembuskan nafasnya sebelum menjawab, “Tahun kemarin pas Kakak ngungkapin perasaan ke kamu, ‘kan? Masih inget kok.”

“Bukan. Sotau. Salah ‘kan. Udah emang nggak inget kok.” Sangkah si gadis tanpa menoleh, padahal diam-diam sedang menutupi tawa. Menjahili Namjoon? Oh, tentu saja itu termasuk hobinya mengingat sang kekasih juga sering melakukan hal yang sama.

“Yah, Yaang. Jangan gitulah. Aku lagi nyetir nih.”

“Gitu apaan sih?”

“Iya jangan marah gara-gara nggak inget.”

“Gapeduli.”

“Yaang…,” rajuk Namjoon.

“Eh-eh!” sahut Yerim tiba-tiba sambil memalingkan wajah kembali menghadap Namjoon, tangannya bergerak menyentuh lengan kekar sang kekasih yang sibuk menyetir. “Kak, tau gak sih di sekolah ada orang yang ngeselinnya kebangetan?”

Namjoon mengernyitkan dahi, “Emang siapa?”

“Namanya Jungkook. Ih, gila, ngeselin banget parah! Masa waktu Senin minggu kemarin dia manggil nama aku pake speaker sekolah.” Yerim mengadu manja, bercerita mengenai salah satu pria yang hampir menghancurkan ekspetasinya bersekolah di Seoul Global.

“Wahaha, lucu lah. Terus-terus gimana?” Namjoon tertawa kencang, wajahnya sumringah antusias mendengar cerita sang kekasih.

“Terus gangguin aku mulu, Kak. Bete banget pengen pindah sekolah aja jadinya.” Kim Yerim mendekap kedua lengannya di depan dada, merasa kesal sendiri.

“Eh nggak boleh gitulah. Kak Seokjin udah bangga banget loh kamu bisa sekolah di sana.”

“Ya tapi ngeselin dong kalau ada anak yang kayak gitu. Nggak betah akunya, Kak.”

“Ah cuman iseng aja kali. Cowok ‘kan biasa kayak gitu nanti lama kelamaan juga engga. Kakak juga gitu dulu pas SMA.”

“Maksud Kakak?”

“Iya ngisengin cewek, udah ngga aneh. Awas baper kamu Dek.”

Yerim melengkungkan bibirnya, cemberut, “Dih, ngapain baper sama anak nyebelin kayak gitu.”

“Kemakan ludah sendiri tau rasa loh.” Ledek Namjoon.

“Apaan sih, Kak…. Emang Kakak mau ditikung cowok kayak dia? Nggak cemburu?!”

“Enggak.” Jawab Namjoon enteng.

“Kenapa?”

“Ah santai aja, masih gantengan aku ini.”

“Hm pede.” Keluh Yerim.

“Cepet lanjutin lagi, aku pengen denger. Rame seperti Dilan 2016.”

“Ih malah ngeledek!”

Yerim makin cemberut. Wajah senderutnya semakin terpapar menjadi-jadi. Ia gondok sekali. Kenapa semudah itu Namjoon menanggapi permasalahannya? Memang sih sebenarnya Yerim sendiri takut kalau ia tiba-tiba jatuh cinta pada Jungkook. Tapi…, nggak ah. Jadi pacar seorang model seperti Namjoon saja sudah cukup membuatnya menderita apalagi pentolan sekolah—meskipun tetap bagi Yerim, Kim Namjoon lebih keren sekalipun lawannya Jeon Jungkook.

“Biarin, biar kamu ada cerita pas masa SMA.” Kata Namjoon.

“Yuk turun, udah sampe nih.” Tangannya sibuk melepas seatbelt dan keluar dari dalam mobil. Diikuti Yerim sesaat kemudian.

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

Hari Minggu, sibuk, dan baru sampai rumah jam lima sore setelah seharian menemani kekasihnya pemotretan proyek komersil untuk mempromosikan Korea Selatan. Kim Yerim langsung terkapar tak berdaya di atas sofa ruang tamu. Seokjin belum pulang ke rumah, masih berada di suatu tempat—entah di mana Yerim tak peduli, pun begitu dengan kedua orang tuanya yang masih berlibur di Bali.

Yerim terbangun dari posisi telungkupnya ketika ponselnya bergetar. Notifikasi sebuah aplikasi chat muncul di depan layar.

 

Jeon JK
Hey Yer
Ini Kuki tampan

 

Sesaat setelah membaca pesan dari Jungkook, bukan tatapan jijik atau umpatan kasar yang keluar seperti biasanya, Yerim justru terbahak keras sekali. “Ya Tuhan, ada ya ternyata premannya sekolah alay terus percaya diri gini.”

“Bales ah, kasian.” Gumamnya.

 

Yerim Kim
Iya, Kak. Ada apa?

 

Tak butuh waktu lama, balasan dari Jungkook pun muncul secepat kecepatan shinkanshen.

 

Jeon JK
Gapapa
Kuki ngechat gaboleh?

 

Yerim berpikir sejemang, “Bukannya nggak boleh sih, tapi kesannya gue ngasih harapan ke elo, Kak.” Monolognya.

“Eh-eh! Tapi ‘kan Kak Namjoon juga bilang cowok kayak gini suka iseng doang. Isengin balik boleh kali.”

 

Yerim Kim
Boleh Kak, nyantai aja.

 

“Eh dia tau ID LINE gue darimana?”

Ketika Yerim hendak menanyakan pertanyaan itu pada Jungkook, satu notif chat muncul lagi di depan layarnya.

 

Kak Seokjin
Neng, cabe rawit di rumah abis ya
Beliin gih ke warung
Mau bikin
gochujang mantap nih si aku

Yerim Kim
Kamu dmn emg?

Kak Seokjin
Masih di kampus
Bentar lagi balik kok
Temen-temen mau pada ke rumah

 

“Rajin banget ini bocah ke kampus hari Minggu.” Komen Yerim.

“Ntar aja ah belinya, ngantuk banget.”

“Lagian Kak Seokjin suka omdo, bilang bentar lagi taunya tiga jam kemudian baru datang.”

“Bales dulu ah ntar ngamuk lagi read doang.”

Sambil menjatuhkan punggung ke sofa lagi, Yerim kembali membalas chat terakhir sebelum tertidur.

 

Yerim Kim
Butuh brp banyak beli cabai rawitnya?

 

Sesaat kemudian, si gadis imut itu terlelap pulas. Tanpa menunggu lama, ia langsung lolos memasuki dunia mimpi.

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

Tin… Tin…

 

Kelopak mata Yerim terbuka secara perlahan setelah beberapa sekon terakhir pendengarannya mendengar suara klakson yang nyaring. Pikirannya berkumpul satu persatu, sesaat ia sadar telah ketiduran, Yerim panik dan buru-buru lari ke depan rumah. Menduga seorang Kim Seokjin yang menjadi dalang klakson tersebut.

Astaga cabai rawitnya belum beli!? Batin gadis itu sambil kocar kacir menuju halaman rumah.

Yerim buru-buru membuka kunci pagar dan hanya sanggup mematung sesudahnya.

 

And guess what Yerim see?

 

Sosok Jeon Jungkook tengah duduk di atas jok motor dan menghantui rumah Kim Yerim sekarang. Sampai-sampai si gadis berkomat-kamit membaca do’a, berharap setan yang ia lihat itu pergi.

Tapi bukannya pergi, setan tampan itu malah mengajaknya bicara.

Astaga.

“Baru bangun ya?” tegur Jungkook.

Yerim menelan salivanya, ia tidak terbangun di Neraka ‘kan?

“Kok-kok tau rumah aku?” tanya Yerim. Ia meyakini dirinya sendiri bahwa lelaki di hadapannya ini bukanlah setan seperti apa yang ia pikirkan beberapa detik lalu. Melainkan benar-benar Jeon Jungkook. Kakak kelas yang senang menjahilinya akhir-akhir ini.

“Kuki bukan sembarang Kuki dong.” Ucapnya bangga.

Yerim mendorong pagar rumahnya, membiarkan halaman luasnya terpampang lebar. “Sini masuk, Kak. Parkirin aja motornya.”

Yerim mau tidak mau melakukan ini sebenarnya. Namun, menghormati tamu tetaplah salah satu manner yang ia jaga sejak kecil, sekalipun itu pada orang yang ia tidak suka.

“Katanya Yerim butuh cabai rawit, Kuki gercep-lah beliin.”

Yerim melongo, “Hah? Engga. Nggak bilang ke Kakak kok.”

“Ck,” Jungkook berdecak, “Liat dulu deh hape-nya sana.”

Yerim buru-buru masuk rumah dan mengecek ponselnya. “Eh kok bisa salah kirim?” gumamnya bingung.

Setelah melihat ponsel, Yerim kembali lagi ke depan rumah. Menemui Jungkook yang sedang cengar-cengir. “Salah kirim ya?”

Yerim menggaruk belakang telinganya, malu sendiri, “Ehehe, iya Kak. Maaf ya.”

“Haha. Gapapa Yer.” Katanya seraya terkekeh. “Nih cabainya, gausah beli ke warung ya.” Jungkook memberikan kantung kresek putih berisi cabai rawit berdominan merah itu kepada Yerim.

“Makasih loh, Kak. Jadi ngerepotin.”

“Gapapa. Kuki balik ya, Yer.” Jungkook pamit seraya memakaikan kepalanya helm full-face berwarna putih.

“Iya, Kak. Hati-hati ya.”

Yerim membalikkan tubuhnya setelah kepergian Jungkook, hendak masuk ke dalam rumah sampai suara klakson lagi-lagi menganggu pendengarannya. Kali ini betulan Seokjin.

“Ngapain ngeklaksonin sih?! Orang udah kebuka juga pagernya!” gerutu Yerim menyisikan diri. Membiarkan mobil SUV hitam kakaknya masuk ke dalam.

Seokjin turun dari mobil dengan tampang gagah meskipun Yerim menganggap kakaknya alay level maksimal.

Melihat adiknya kumal dan berantakan, Seokjin geli sendiri, “Kamu ngapain ketemuan sama cowok penampilannya begitu?”

“Hah?” Yerim kembali memasang raut bingung, mentang-mentang baru bangun tidur, pikirannya jadi kalang kabut.

“Kamu ketemuan sama kurir apa barusan?”

“Hah kurir?”

“Iya. Kurir ‘kan?”

Astaga-naga, kakak kelas gue disangka kurir dong sama dia.

“Bukan ih sembarang aja nge-cap orang! Dia kakak kelas aku.”

“Kakak kelas? Masa sih? Selingkuhan kamu kali.”

“Gila aja selingkuhan, mana bisa aku selingkuh dari si Tengil, Kak.”

Seokjin mendadak tertawa, “Anjir. Si Tengil. Udah sering padahal gue denger nama panggilan itu, tapi tetep aja ngakak sampe sekarang. Kenapa sih, Dek? Namjoon ganteng badan model gitu dikata tengil.”

Yerim nyengir, “Pengen aja. Abis kalau ketiduran di sofa juga ngangap mulutnya, tengil banget.”

“Parah, hahaha.”

Yerim dan Seokjin berakhir masuk ke dalam rumah. Yerim langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur, hendak menyimpan cabai rawit pesanan kakaknya. Sementara Seokjin terhenti di ruang tamu untuk menyimpan ransel sebelum menyusul sang adik.

“Neng, cabai rawitnya udah beli?” tanya Seokjin.

“Dek?” tegurnya lagi seraya menyusul.

“Kalau Kakak nanya tuh jawab dong,” omel Seokjin dari belakang punggung adiknya. Sementara itu Yerim merasa speechless sendiri setelah melihat cabai rawit yang dibawa Jungkook.

“Anjir apaan nih? Kamu beli cabai rawit di mana? Kok kayak gini?” Seokjin mencak-mencak mengomel.

Yerim menggeleng, maniknya berkaca-kaca saking terharunya. Cabai rawit yang Jungkook bawa ternyata tersimpan makna dalam. Setiap cabai rawit itu tersemat kertas kecil bertuliskan berbagai macam kalimat. Lucu sekali. Seperti;

Yerim cantik
Yerim imut
Yerim manis
Kuki ganteng
Cocok gak Kuki sama Yerim?
Yerim jangan sedih ya
Ada Kuki di sini
Yerim tau ga?
Setiap cabai ini melambangkan cinta Kuki
Pokoknya Kuki sayang sama Yerim
Semangat belajar ya Yerim
Semangatin Kuki mau SAT juga dong
Nanti kalau udah gede, Kuki boleh lamar ga?
Awas jangan kebanyakan makan pedes
Nanti mencret
Terus Kuki khawatir

“Aku terharu banget, Kak.” Sahut Yerim lirih.

“Kuki siapa sih? Alay. Apaan nih Yerim cantik, imut, manis. Jijik gini.”

Yerim memukul lengan Seokjin, “Sirik aja!”

“Beneran ya selingkuhan kamu?”

“Bukannnnn ih! Dah ah sana bikin gochujang cepetan! Aku juga laper pengen yang pedes-pedes!” titah Yerim gentar seraya mencabuti kertas yang tersemat di cabai rawit pemberian Jungkook. Membawanya ke kamar dan menyelipkannya di sebuah buku bersampul ungu. Yerim tersenyum manis memperhatikan bukunya. Speechless total.

 

 

ㅇㅇㅇ

 

*Gochujang: sambal khas Korea
*SAT: ujian masuk universitas, diselenggarakan setiap September-Desember. Jadwalnya beda-beda sih sebenernya. Hehe. Bisa cek aja di abah Gugle :3

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s