[ONESHOT] The Meaning of Wedding ― ARRYLEA’s VERHAAL

A fan fiction with,
AU! –Romance
Staring by Park Jimin’s of BTS Kang Seulgi’s of Red Velvet
Author’s Point of View.
PG-15 for rating

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Park Jimin dan Kang Seulgi miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2017© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Has been published too at WATTPAD

SUMMARY

Apa arti menikah untukmu, Kang Seulgi?

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

THE meaning of wedding
ARRYLEA’S

o

Fitting Dress

Check!

Photographer

Check!

Thank You Gift

Check!

Catering

Check!

Bridesmaid & Groomsmen

Check!

Wedding Organizer

Wedding Organizer

“Park Jimin!!!!”

Kang Seulgi, dengan beberapa lembar kertas hasil re-check wedding list-nya berjalan cepat menuju ruang tamu. Menemui Jimin, lelaki yang akan menjadi suaminya enam bulan lagi.

Gadis itu melemparkan lembaran kertas yang dibawanya ke atas meja, membiarkan Jimin melihatnya sendiri. Ia menunggu respon sambil menjatuhkan pantat di depan lelaki itu, menopang kaki kanannya di atas kaki kiri, tangannya bersedikap, raut wajahnya serius.

“Apa?” sahut Jimin, singkat.

“Apa? Apa kau bilang?!”

Jimin masih diam, ia meraih lembaran kertas yang Seulgi jatuhkan tepat di depannya. Mengangguk-anggukkan kepalanya sebentar, Jimin baru paham.

“Oh, ini?”

Seulgi benar-benar ingin meledak, kenapa respon Jimin secuek ini disaat mereka akan melangsungkan pernikahan beberapa bulan lagi. Lagipula enam bulan bukan waktu yang sebentar hanya untuk mengurusi hal-hal seperti ini saja.

“Astaga, Jimin! Enam bulan lagi kita akan menikah! Dan dengan entengnya kau bilang, ‘ini’? Hah? Jimin, kalau kau memang tidak serius untuk menikahiku, biarkan aku mengurus semuanya dengan Jaebum kalau begitu!” rutuk si gadis.

Jimin terkekeh, menyimpan kembali lembaran kertas wedding list buatan calon istrinya itu ke atas meja. Seulgi menaikkan alis, apa yang lucu?

“Heh! Pendek! Aku serius kali ini!” hina Seulgi.

“Tolong berkaca, Sayang. Yang lebih pendek dariku itu siapa? Kau ‘kan?”

“Aku serius, Pak Dosen.” Kang Seulgi menunjuk-nunjuk jarinya di atas meja, membuat perhitungan.

Jimin tersenyum seraya menghela nafas, memaklumi sifat kekasih yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu. “Baiklah, apa yang kau inginkan? Aku baru mengeceknya jadi apa yang salah?”

“Jimin, kau benar-benar tidak serius!”

“Astaga, Sayang. Aku hanya bertanya, lagipula tinggal Wedding Organizer yang belum kau beri tanda check list. Jadi kenapa?”

Gadis berambut agak gelombang itu menarik nafas seraya mengambil lembaran kertas tadi dan mulai menjelaskan, “Fitting dress, aku mau desain yang kubuat sendiri, dan Joohyun-eonni yang akan menjahitkannya untukku, berhubung dia punya butik sendiri. Jas milikmu juga sudah kusiapkan. Photographer, aku mau mengambil jasa temanmu yang kulitnya sepucat vampire itu, siapa namanya?”

“—Yoongi-hyung?”

“Terserah. Pokoknya dia kekasih Seungwan. Thank you gift, berhubung aku seorang wirausaha handy-craft, biar aku saja yang membuatnya. Kau mau buat apa, Jim? Aku sudah buat list yang cocok untuk kita. Nanti kau lihat saja sendiri. Catering, kudengar pemilik Mister SJ itu temanmu juga? Siapa—”

“—Seokjin-hyung.”

“Jangan menyelaku.” Tegur Seulgi. “Dia kakak tingkat satu kampusku dulu, Jim. Kita beda jurusan. Well, itu tidak penting, kau juga sudah tahu sebelumnya. Bridesmaid & Groomsmen, aku mau saudara-saudara kita saja yang menjadi bagiannya, apalagi kalau Nana—sepupumu yang menggemaskan itu jadi bridesmaid-nya. Oh! Teman-teman kita juga boleh ikut, kalau mereka mau. Tapi aku yakin Yerim dan Jungkook akan setuju dalam satu kali tawaran. Terus…,”

“…, terus Wedding Organizer, aku tak tahu apakah kita betul-betul membutuhkannya. Aku bingung, Jim. Baiknya bagaimana? Oh iya! Gedung mana yang mau kau sewa? Ada beberapa gedung yang bagus untuk menggelar pernikahan kita. Salah satunya HS’s House, yang ada di jalan Dolguk, depan gereja itu loh, Jim. Katanya itu milik Hoseok?”

Jimin mengangkat bahunya, “Mungkin.”

“Hm…, dan juga…, tanggal pernikahan kita, Jim! Aku mau kita menikah tanggal 23 Desember. Karena itu gabungan dari tanggal dan bulan lahir kita. Tapi itu terserah padamu, aku hanya memberi saran. Oh iya, honeymoon Jim! Ya ampun, kau mau ke mana? Kalau aku ingin jalan-jalan ke Venesia atau melihat kangguru di Aussie juga tidak masalah. Atau-atau kita menenangkan diri di Raja Ampat, Indonesia! Kudengar mereka punya laut yang bagus, lumayan untuk refreshing dan menjauhi perkotaan. Hey, bagaimana dengan mendaki gunung? Gunung Everest? Ah jangan-jangan, terlalu tinggi, kau bisa pingsan Jim. Gunung Fuji di Shizuoka, Jepang? Itu ide yang bagus bukan?! Dan…, umm lalu…, apalagi Jim?”

Seulgi menggaruk rambut cokelat tua gelombangnya, sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk, terlihat kebingungan. Jimin hanya tersenyum melihat antusias kekasihnya. Lagipula, wanita mana yang tidak bahagia akan dilamar seseorang yang dicintainya? Mengurusi hal-hal seperti ini pun pasti menjadi hal yang menarik dan menyenangkan baginya sendiri.

Lelaki itu terdiam, tenang sekali, iris legamnya hanya memperhatikan Seulgi yang mengigiti kuku sambil memegang pena. Jimin terkekeh melihat tingkahnya, membuat Seulgi mendongkak, “Kenapa, Jim? Apa yang lucu?”

Jimin menggelengkan kepalanya spontan seraya mengepalkan tangan dan menyimpannya di depan mulut, menahan tawa, “Tidak. Tidak ada.”

“Jadi, apalagi Jim? Aku bingung…,” keluh Seulgi.

“Ah, yaa!” pekiknya tiba-tiba, Jimin masih setia memperhatikan kelakuan Kang Seulgi, “Biar aku berikan dulu saja list handy-craft yang kumaksud ya? Atau desain baju kita? Atau gedung? Damn it, Dosen Park. Jangan diam saja dan tertawa seperti itu, sialan!”

Seulgi memaki Jimin. Lagi. Tak mengerti kenapa lelaki itu bisa-bisanya santai begini disaat dirinya sudah kalang kabut ke sana ke mari demi pernikahan mereka. Menyebalkan sekali!

“Seulgi, dengarkan aku.” Sahut Jimin, meraih pena yang Seulgi pegang dan menyimpannya di atas meja. Berganti menggenggam kedua tangan gadis itu lembut, seraya mengelus-ngelusnya dengan penuh kasih sayang. “Aku tahu kau begitu senang saat kuberitahu kalau aku akan melamarmu enam bulan lagi. Benar. Tepat tanggal 23 Desember. Aku setuju. Bukankah memang sekarang tanggal 23 Juli ya?”

Seulgi diam saja, ia sedikit bingung, perasaannya campur aduk, tapi ia juga senang. Ternyata Jimin tidak secuek itu. Atau mungkin Seulgi yang terlalu bersemangat?

“Tapi, Sayang…. Aku ingin bertanya satu hal padamu.”

“A-apa?” jawab dan tanya Seulgi sekaligus, ragu-ragu.

“Gunanya itu semua untuk apa?”

“Untuk…,” Seulgi mengalihkan pandangannya, memutar-mutar netranya ke seluruh penjuru arah, “Untuk…,”

“Untuk apa?” ulang Jimin.

“Bukankah itu hal biasa bagi pasangan yang akan menikah, Jim? Jangan konyol, deh.” Seulgi beralibi.

Jimin terkekeh, mengeluarkan eye-smile yang sama seperti milik Seulgi, membuat gadis itu tiba-tiba terjebak dalam pesona kharismatik calon suaminya. Merasa bersyukur kalau memang Jimin-lah yang akan menjadi ayah dari anak-anaknya kelak.

Jantung Kang Seulgi mulai berdetak tak menentu, jari-jemari Jimin yang barusan berada di kedua tangannya kini sudah berpindah ke pipinya, menangkup, membuat elusan lembut yang mampu membuat gadis itu ambruk jika saja ia sedang tidak duduk. Jimin, why you so cheesy, Boy?

“Sayang, menurutmu menikah itu apa?”

“Membuat keluarga baru?” tanya Seulgi balik, biji matanya berusaha tidak terkontak langsung dengan Jimin yang entah kenapa begitu setia menatap wajahnya.

Apa ada tai mata di mataku? Pikir Seulgi.

Except that,” lirih Jimin.

Well, ummm, tanda cinta?”

“Lalu jika hanya cinta saja yang kita butuhkan, untuk apa itu semua kita sewa dan gunakan?”

Seulgi bungkam, benar juga, pikirnya. Tapi eh, tidak bisa begitu! Tetap saja, harus dimeriahkan, ‘kan seperti kawin lari kalau menikah diam-diam.

“Untuk memeriahkan, Jim. Memangnya kita akan kawin lari apa diam-diam menikah, diam-diam punya anak, apa kita juga akan diam-diam sudah meninggal juga?”

Lagi, Jimin terkekeh. Jawaban calon istrinya itu sama sekali tidak salah. Malah memang benar. Tapi kenapa harus mengikuti tradisi orang jaman sekarang? Istimewanya apa?

Well,” kata Jimin melepas tangannya dari pipi Seulgi. Ia mengambil pena di atas meja dan lembaran kertas di sana. Tangannya bergerak membuat tulisan indah khas seorang Park Jimin dan sesekali membuat aksi menarik garis lurus di atasnya, alias mencoret salah satu daftar yang Seulgi buat.

Tak protes, Seulgi hanya memperhatikan apa yang dilakukan calon suaminya sambil menggaruk rambut, heran.

Jimin berdeham, tanpa menyimpan pena tersebut dan membiarkan tangannya memegang benda antik untuk menulis itu, ia membaca tulisan yang ia buat, “Fitting dress, aku tidak mau ikut campur, lebih tepatnya aku menyerahkan semuanya padamu. Sederhana lebih kusukai. Photographer, bisa kuurus dengan Yoongi­-hyung. Thank you gift, aku tidak memaksa, terserah padamu, tapi kau harus memberitahuku kalau kau mulai membuatnya, jangan biarkan kau sendiri yang melakukan itu, oke?”

Seulgi mengangguk.

Jimin tersenyum, melanjutkan lagi, “Catering, well, Seokjin-hyung yang urus, aku memang berniat untuk mengambil catering-nya omong-omong. Tamu undangan, ini penting sebelum kita mengurus yang lain sebenarnya, berapa orang yang akan kau undang? Berapa orang yang akan kuundang? Aku ingin orang-orang terdekat saja yang dapat reservasi, Sayang. Bagaimana? Aku tidak memaksa, terserah padamu. Serius, ini hanya saran agar tidak terlalu banyak orang asing yang masuk.”

“Soal honeymoon, aku ikut padamu, tapi tidak untuk hiking, okay? Sky diving di Raja Ampat sepertinya menarik. Lalu, Wedding Organizer, aku kurang setuju sebenarnya. Karena niatku menikah bukan untuk berpesta. Jadi, sederhana saja, tidak apa-apa ya, Sayang?”

“Tapi tidak menikah diam-diam, ‘kan?” todong Seulgi.

Jimin tertawa, “Astaga, Sayang. Tidak. Tentu saja! Kita menikah seperti biasa, di depan pendeta, di dalam gereja kathedral yang kau inginkan, ditonton oleh keluarga dan teman-teman kita. Seperti orang normal lainnya.”

“Bagus kalau begitu.”

“Jadi?” tanya Jimin.

Seulgi menaikkan alis, ia bersidekap, “Jadi apa?”

“Setuju ‘kan kalau sederhana saja?”

Sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Seulgi, ia kurang setuju. Karena, bagaimana ya? Menurutnya pesta pernikahan juga salah satu ritual yang wajib ada disetiap acara pernikahan. Jadi, kalau acaranya hanya pemberkatan, berciuman, memberi selamat, mengobrol sejenak, makan, lalu pulang tanpa ada hiburan rasanya hampa dan seperti bukan pernikahan.

Jimin tersenyum, padahal Seulgi belum menjawab pertanyaannya, seolah bisa membaca apa yang gadis itu pikirkan. Lagi, ia mengenggam tangan gadis itu, mencium punggung tangan Seulgi. Membuat si gadis merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.

“Sayang, menikah itu bukan tentang pesta, hura-hura, pamer sana sini. Tapi menikah itu tentang cinta, kebahagiaan dan orang-orang terdekat kita.”

Kang Seulgi speechless, kenapa hidupnya begitu senikmat ini? Memiliki seorang calon suami yang sangat-sangat sederhana dan berhati malaikat. Kenapa Seulgi tak bisa bersikap sepertinya? Duh, Seulgi merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan orang sebaik dan setampan Park Jimin sekarang.

“Dan oh ya, Sayang. Soal bridesmaid, Nana masih berumur 3 tahun, mana bisa dia jadi bridesmaid. Kamu suka ngaco, ah!” cecar Jimin sambil terkekeh.

Seulgi diam mematung. Oh astaga, dia lupa kalau Nana yang dia maksud barusan adalah sepupunya Jaebum…

FIN

.

.

.

.

This story was infires by Rain & Kim Tae Hee Wedding Day.
Yuhu! Chukkae!
Suka banget sama kesederhanaan mereka.
Patut dicontoh pokoknya! Biar calon mertua gue ngerti
kalau nikah gausah ribet-ribet.
Cukup khidmat sama penghulu aja
udah nikmat dunia-akhirat wkwk.
((kebelet nikah detected))
Berharap Jimin-Seulgi pun seperti ini
beberapa tahun kemudian.
Hoho.
Besok senin dong :(((

Besok senin dong :(((

Btw Seulgi kalau pake dress putih gini kek mau nikahan beneran wkwkBtw Seulgi kalau pake dress putih gini kek mau nikahan beneran wkwk.

Btw Seulgi kalau pake dress putih gini kek mau nikahan beneran wkwk

Jiminnya juga dong :(((( udah cocok tinggal sah-in aja:(

Jiminnya juga dong :(((( udah cocok tinggal sah-in aja😦

Jiminnya juga dong :(((( udah cocok tinggal sah-in aja:(

[IMAGINE]

Jimin was staring seriously at his phone.

Then suddenly Seulgi comes and makes he shook,

“Ah! Kang Seulgi…,” Jimin call her name softly.

Seulgi feels shy, she covered her face with hand, “D-don’t look at me like that, Jimin.”

Jimin smirked, Oh my God, she is so cute.

“I’m not, Babe, I just can’t realize if today we will get married.”

Sa ae si Bantet, jimayu😳😳

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s