[BAG 5] Rock On! Kuki’s ― ARRYLEA’s VERHAAL

A fan fiction with,
AU!, Romance sense, School-life and Family stories
Staring by Jeon Jungkook’s of BTS & Kim Yerim’s of Red Velvet
Author’s Point of View.
T for rating

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Jeon Jungkook dan Kim Yerim miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2017© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Has been published too at WATTPAD
Jungri edit manipulation by @btsvelvet_chu. Sorry for hidden ur mark. But i’m sure that photo edit is yours. I’m just add and edit the title-cast-pen name. Thank you @btsvelvet_chu!

SINOPSIS

Jeon Jungkook naksir berat Kim Yerim. Anak kelas 10-3 di sekolahnya yang jauh dari predikat kata HITS SG. Tapi Jungkook tak peduli, dia bersikeras tetap mencari perhatian si imut Yerim sampai gadis itu jengah dan ingin pindah sekolah. Padahal, Yerim mati-matian masuk SMA Seoul Global demi mendapat pujian abangnya, Kim Seokjin.

Parahnya lagi, Namjoon, yang notabene sebagai kekasihnya Yerim itu malah cuek bebek dengan adegan pernyataan cinta yang sering Jungkook ungkapkan tanpa pandang bulu. Benar-benar memalukan! Yerim makin keki. Menyesal kenapa dulu mau menerima Namjoon sebagai kekasihnya yang sudah jelas adalah seorang model dan sahabat kakaknya.

How Yerim can deal with them? Broke up with Namjoon and try to make a new love journal with Jungkook? Or stay with Namjoon whatever he does and act like don’t give a shit to Jungkook?

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

rock on! kuki’s
ARRYLEA’S

o

Rumah yang biasanya menjadi tempat tertentram Yerim di sore hari selagi menikmati senja bersama kopi. Hari ini tak lagi dapat ia nikmati. Bukan karena persediaan kopi cappucino-nya habis, melainkan suasana bising di rumahnya sanggup membuat Kim Yerim misuh-misuh pada sang Kakak dan meminta mereka semua untuk diam.

Meski Yerim tahu, meminta pada abangnya bukanlah ide yang bagus.

“Wah anj—”

“Gi, lu bisa main gak sih?!”

“Bisa. Diem lu.”

“Gi, lu malu-maluin sebagai orang yang ngaku-ngaku Juventini.”

“Bacot, Seok.”

“Rooney! Rooney! Sadaaaaaap!!”

“Anj—”

“Bhahahahah kalah. Corengin si Yoongi, Seok.”

“Ah diem lu pada!”

“Eh, gantian dong Jin. Giliran gue sama Jaebum.”

“Namjoon kok belum dateng sih?”

See?

Kebisingan mereka benar-benar membuat kepala Yerim hampir pecah. Untung Yerim sabar.

“Dek, Namjoon mana?” tanya Seokjin.

Nah.

Ini dia. Pasti dan selalu saja pertanyaan ini dilemparkan padanya.

Yerim yang anteng memperhatikan kebisingan teman-teman kakaknya dari kursi ruang makan itu, menjawab seadanya. “Cape dia. Baru beres pemotretan.”

“Bagi waktu antara pemotretan ama doi aja bisa, masa sama kita enggak?” celetuk Yoongi, tangannya sibuk menghapus coreng moreng lipstik milik Mama-nya Hoseok. Hukuman karena kalah taruhan PES.

“Dih, emang Kak Yoongi bisa bagi waktu antara ngurusin BEM, basket, kuliah, nugas sama Kak Seungwan?” balas Yerim tak kalah sinis.

“Bisa lah. Gue mah pro, sorry.”

“Heh! Siapa suruh dihapus?!” gertak Seokjin, memergoki Yoongi yang masih menggosok-gosokkan tangannya ke pipi.

Seokjin meraih lipstik merah merona milik Mama-nya Hoseok yang dicuri diam-diam dari kamar ke wajah Yoongi lagi. Memperparah coretan.

Kak Yoongi jadi badut Ancol cocok tuh. Gumam Yerim dalam hatinya, seraya terkikik.

“Ah, Jin anjir. Gue gasuka ginian.” Protes Yoongi.

“Udah diem lu. Kalah mah terima aja!”

“Bale! Serang Bale!!” pekik Hoseok.

“Anj—, Neymar maju woy bangsat!” Jaebum pun tak ingin kalah saing. Saling menghebohkan pemain yang sedang mereka mainkan.

Bola dipegang oleh Bale kemudian di lempar pada Sergio. Sergio. Sergio. Dannnnnnnnnnn, tertangkis oleh Messi. Messi, Neymar, Neymar. Neymar melempar pada Suarez. Suarez pada Messi. Messi menguasai bola, mendekati gawang dannnn ohhhh sayang sekali bola melambung tinggi melewati gawang, Bung.

“Kenapa gue jadi kayak komentator bola gini, sih ah?” Yerim merengut, kesal sendiri karena begitu mengikuti kemana pun bola itu melambung dan berlari.

“Bangsat! Messi tolol!” umpat Jaebum.

“Elunya aja yang gabisa mainin Messi!” balas Hoseok.

“Ah elah, pecah palaku…,” erang Yerim, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bergegas berdiri dari kursi dan hendak memasuki kamar. Hingga ia menemukan sosok Kim Namjoon mematung di ambang pintu depan. Baru saja memasuki rumah.

Yah, begitulah. Teman-teman kakaknya ini memang sedikit kurang sopan santun ketika memasuki rumah Seokjin.

“Nah ini dia yang ditunggu-tunggu!” teriak Yoongi semangat.

Lelaki pucat itu langsung berdiri mendekati Namjoon dan seketika mereka berdua mematung saling berhadapan dan bertatapan.

Mereka tidak tiba-tiba saling jatuh cinta ‘kan?

Namjoon mengulum bibir, ia menahan tawa. Sementara Yoongi sedang siap-siap melayangkan bogeman pada lelaki jangkung berlesung pipit di depannya ini.

“BHAHAHAH ANJ— YOONGI MUKA LO KAYAK BADUT ANCOL!!!” semprot Namjoon, tak kuasa menahan hasrat untuk tidak mentertawakan salah satu sahabat paling brengsek di hidupnya.

“Ah anj—, Seokjin elah hapus anj—!”

Sekarang Yoongi malah misuh-misuh tak jelas ke kamar mandi. Menggerutu karena polesan lipstik milik Mama-nya Hoseok, hasil karya dari teman sepergaulannya.

Namjoon masih tertawa cekikikan. Ia berjalan mendekati Seokjin dan menyimpan kantung plastik berisi makanan ringan. Rencananya malam ini mereka ber-empat akan menginap di rumah Seokjin. Lumayan sambil ngapelin pacar. Niat Namjoon.

“Kakak kok nggak bilang mau ke rumah?” tegur Yerim, yang barusan berniat memasuki kamar kembali melangkahkan kaki mendekati ruang tengah.

Namjoon menoleh, ia menyeringai lebar. “Biar surprise aja. Lagian ‘kan Kakak ke sini mau ngapelin kakak kamu, bukan kamu, Dek.”

“Ih, homo dasar!”

“Lah marah ahaha.” Ledek Seokjin. “Enggalah, Dek. Yakali ganteng-ganteng gini homo.”

“Tapi kan sekarang banyak tuh yang ganteng tapi homo, Kak!”

“Ya itu mah mereka, bukan Kakak.” Balas Seokjin.

Yerim mengulum bibir, ia kalah telak. Meskipun ia perempuan, tapi berdebat dengan Seokjin beda urusannya. Kakaknya yang satu itu benar-benar pintar bicara. Termasuk memutar balikan fakta. Yerim selalu jadi korbannya. Meskipun ujungnya bercanda. Tetap saja Yerim tak terima.

Yerim menyerah, ia balik badan dan benar-benar masuk ke dalam kamarnya sekarang. Meninggalkan ejekan Seokjin dan Namjoon padanya. Mereka pasti diam-diam sedang membicarakan Yerim. Gadis itu yakin seribu satu persen!

Sepeninggal Yerim, Yoongi datang dengan wajah yang ‘cukup’ bersih dari hasil karya sahabat-sahabat tercintanya. Lelaki berkulit pucat itu duduk di samping Namjoon, mengambil snack yang baru saja sampai dan memakannya sendirian.

Well, savage Min Yoongi.

Sementara itu Hoseok dan Jaebum masih belum menyelesaikan persaingannya antara Real Madrid dan Barcelona. Saling berebut gelar pemenang demi menghindari hukuman coreng-moreng lipstik Mama-nya Hoseok.

Senin malam dan esok hari jadwal kuliah mereka serentak diliburkan, memanfaatkannya bersama para sekumpulan sesama penyamun, kenapa tidak? Tunjuk Hoseok sebagai salah satu dalang pencetus acara malam ini.

“Jin, sebatang boleh ga?” tanya Jaebum, tanpa menoleh, matanya terlalu fokus pada televisi berlayar 24 inch yang menampilkan permainan PES 2017 dari perangkat PS4 milik keluarga Kim.

Seokjin menjawab seraya merebut keripik kentang dari Yoongi. “Boleh, diluar tapi ya. Adek gue punya asma.”

Jaebum hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian fokus lagi pada permainan. Hoseok masih saja meributkan bagaimana pemainnya mengejar dan menguasai bola. Yoongi anteng dengan ponsel seraya mencomot keripik kentang yang akhirnya di simpan di tengah-tengah antara Yoongi-Namjoon-Seokjin. Sedangkan Seokjin dan Namjoon sibuk berbasa-basi.

“Joon, barusan adek gue dikasih cabe rawit alay sama cowok. Lo tau ga?”

“Hah? Engga. Tapi kayaknya gue tau deh siapa….”

“Siapa emang? Si Yerim bilangnya kakak kelas dia.”

“Iya, kakak kelasnya. Jungkook-Jungkook gitulah. Tadi pagi juga cerita ke gue.” Sambil bercerita bagaimana tadi pagi Kim Yerim menceritakan kekesalannya pada seorang kakak kelas pada Seokjin, tangan Namjoon ikut-ikutan mencomot keripik kentang.

Seokjin mengangguk-nganggukan kepalanya mendengar cerita panjang dari Namjoon soal adiknya. Tak menyangka kalau adiknya sempat menyesal masuk Seoul Global. Jujur saja, hati Seokjin sedikit mencelos mendengar penuturan sang adik. Karena sebenarnya Seoul Global adalah sekolah impian Seokjin dulu, meski ia gagal seleksi dan terpaksa masuk sekolah lain, yang membuatnya bertemu dengan Kim Namjoon.

Tapi mendengar alasan yang keluar dari Yerim soal penyesalannya adalah karena seorang lelaki, Seokjin sedikit kesal. Setidaknya, alasan Yerim tak masuk logika Kim Seokjin. Hanya gara-gara seorang kakak kelas yang menganggunya? Halah, biasanya juga diganggu olehnya juga tak peduli.

Sampai akhirnya Seokjin mendengar bahwa Yerim dipermalukan karena namanya disebut lewat speaker sekolah. Seokjin langsung terbahak, “Malu sih, tapi lucu aja gitu itu cowok. Gemes sama adek gue sampe segitunya.”

“Yah gitulah, udik sih, tapi denger ceritanya langsung dari dia kayaknya itu cowok baik-baik.” Balas Namjoon, ia terkekeh sejenak.

“Iya udik parah, ngasih cabe rawit aja ditempelin kertas. By the way, lu ga cemburu?” tanya Seokjin. Sebagai laki-laki serta kakak dari sang adik yang dikencani Namjoon, Seokjin patut mempertanyakan hati seorang Kim Namjoon. Ia hanya tak mau kalau adiknya harus sakit hati kalau nyatanya lelaki yang ada di sampingnya ini tidak serius dengan Yerim.

“Engga sih,” jawab Namjoon enteng. “Gimana ya? Gue kesel sih sebenernya. Apalagi pas tau kalau lusa kemarin gue batal jemput dia, si Jungkook itu yang nganterin sampe naik bus.”

“Itu namanya cemburu bego. Udah setahun jalan masih aja ga paham cemburu.” Celetuk Yoongi, diam-diam menguping. Sialan bocah ini.

 

 

ㅇㅇㅇ

 

 

K.Namjoon
Dek? Udah tdr?

Yerim Kim
Baru bangun.
Ngapain ngechat sih serumah jg =))

 

K.Namjoon is calling…

 

Yerim terperanjak dari tempat tidurnya, ia buru-buru bangun dan duduk seraya menggerutu soal Namjoon yang tiba-tiba meneleponnya. “Ngagetin aja ih Namjoon syalan.”

“Halo.” Sahut Yerim, mengangkat panggilan telpon dari Namjoon.

Cie yang ngebet banget pengen serumah.” Celetuk lelaki itu dari ruang tengah.

“Apasih nelpon aku cuman mau ngomong gitu doang. Ngeselin banget.” Balas Yerim, ia kembali merebahkan diri di atas ranjang.

Haha, I love you, Dek.

“Ada maunya nih ah.”

Tau aja, buka pintu kamarnya dong.”

“Kak Seokjin marah loh…”

Dia masih molor. Cepet ih pengen ndusel nih.”

“Kakak ih kok jadi gini sih ah. Yerim takut tau…”

Cepet dong sayang.”

“Gamau ih.”

Hahaha, sini ke balkon.”

“Ngapain?”

Liat bulan.”

“Anjir ya…”

Udah cepetan sini ah.”

Free call ended
0:42

 

“Kak? Halo? Ih malah dimatiin.” Yerim memajukkan bibirnya, wajahnya senderut lagi.

Tanpa mengindahkan penampilannya yang berantakan habis bangun tidur itu, ia pergi keluar kamar dan naik ke lantai dua. Melewati kamar Ibu dan Ayahnya yang terletak di lantai atas hingga ia menemukan pintu geser berbahan kaca yang terbuka lebar. Menampilkan siluet Namjoon yang diterangi sorotan cahaya bulan.

Why he looks so sexy from behind

“Kak?” sahut Yerim.

Namjoon menoleh ke belakang, ia tersenyum manis. Tangan Namjoon bergerak berayun, memperintahkan Yerim untuk kemari mendekat padanya.

Tanpa ragu, Yerim melangkahkan kakinya ke depan, menyeralaskan tubuhnya sejajar dengan sang kekasih. Entah kenapa, tiba-tiba jantung Yerim berloncat seperti di atas trampolin. Seakan-akan ia sedang menunggu kejutan lainnya dari Namjoon.

Masih tersenyum, Namjoon mendekat satu langkah dan meraih dagu Yerim. Sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi kemudian mencium kening gadis itu lembut seraya menutup kedua kelopak mata. Samar-samar, jantung lelaki itu terdengar sedang berdetak kencang.

Suasana malam itu sunyi, angin berdesir begitu lembut hingga beberapa anak rambut Yerim dan Namjoon bergerak mengikuti arah angin.

Ini jam tiga pagi, dan Yerim malah asik berkencan di bawah sinar bulan bersama Namjoon. Seakan lupa bahwa ia harus bergegas mandi untuk sekolah.

Ah sekolah, bisakah diundur satu hari lagi saja?

Thank you for catch my heart, Yerim.” Lirih Namjoon, ia melepas ciuman romantis itu dan memeluk Yerim mesra.

“Yerim nggak dingin apa? Kok nggak pake mantel?” tanya Namjoon, masih memeluk kekasihnya, mencoba memberi kehangatan lewat coat yang ia bawa dari rumah.

Yerim mengangguk, “Sedikit, musim panas sekarang aneh. Siangnya panas banget, malemnya dingin.” Gerutu Yerim, dibalik bahu Namjoon. Ia melepas pelukan dari Namjoon kemudian menangkup kedua pipi Namjoon dengan tangan kecilnya.

I love you, Kak.”

Cup!

Yerim mencium bibir Namjoon singkat. Hingga membuat lelaki itu terkejut setengah mati.

“Nakal ya sekarang berani cium-cium!” tegur Namjoon.

“Ih, biarin dong. Lagian kan Kakak pacar aku ini. Kenapa harus malu? Kakak aja yang gapernah punya nyali nyium bibir aku kayak di film-film!”

Namjoon menggeleng, “Gaboleh gitu, Sayang.” Jari telunjuk Namjoon bergerak menempel di bibir Yerim. Membuat jantung gadis itu kocar-kacir dari tempatnya. “Ciuman di bibir itu sakral, dan Kakak nggak mau ngerusaknya. Bukannya Kakak nggak berani, tapi cowok beda sama cewek. Kalau kebablasan siapa yang harus tanggung jawab? Cowok loh.”

Yerim manyun, ia memegang telunjuk Namjoon kemudian menciumnya sekilas. “Yaudah, kalau gitu aku cium jari Kakak aja.”

Lelaki itu terkekeh, ia kembali berdiri tegak hingga membuat Yerim terlihat sangat kecil dari tingginya. Tangannya meraih puncak kepala Yerim lalu mengelusnya lembut. Sementara itu Yerim menunduk, ia merasa malu sendiri sudah begitu lancang berbuat mesum di depan Namjoon.

“Kak?” panggil Yerim. Namjoon menyahut hanya dengan bergumam, membuat suara bass khas anak Adam itu begitu sexy. Yerim mendadak lupa apa yang akan ia bicarakan.

“Kenapa, Sayang?”

“Apa aku barusan ngerusak bibir, Kakak?”

Namjoon diam sejenak, kemudian ia tertawa. Membuat Yerim yang sudah serius mendadak keki. “Ih Kakak malah ketawa!” bentak Yerim kesal.

“Iya, ngerusak, Dek. Kakak juga tau kamu pertama kalinya nyium cowok, Kakak juga pertama kali dicium cewek.”

“Berarti Kakak pernah nyium cewek?!”

“Pernah.” Jawab Namjoon enteng.

Yerim makin manyun, ia malah menyesal karena sudah mencium Namjoon sekarang yang notabenenya sudah pernah mencium gadis lain selain dirinya. Padahal Yerim berharap ia lah yang jadi wanita pertama dalam urusan cium-mencium untuk Namjoon.

“Pernah nyium kamu maksudnya, hahahaha.”

“Dek, serius, Kakak belum pernah nyium cewek selain kamu sama Bunda. You’re too exclusive, baby.”

Yerim masih senderut. Ia paling benci kalau sudah serius kemudian dijadikan bahan bercandaan. Ia paling benci kalau Namjoon sering menjahilinya. Pokoknya, Yerim benci kalau Namjoon mengajaknya bercanda di saat yang bukan waktunya untuk bercanda!

Melihat Yerim yang terus-terusan menggerutu, terlihat dari bibir mungilnya yang tak henti melapalkan berbagai macam umpatan. Kim Namjoon menarik gadisnya itu ke dalam rangkulannya. Membiarkan badan kecil Yerim tenggelam dibalik coat Namjoon yang besar.

“Udah ah jangan ngambek mulu. Mending nunggu matahari terbit aja sambil ngobrolin masa depan kita.”

 

Advertisements

Mind to Review?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s