[TALKING TIME] Laa Tahzan, Ukhti!

ec45d9d0b493afdfd366958ed3b3812c

Bismillahi washalatu wassalamu ‘ala rasululillah

Ada waktu kita bersedih.

Sedih itu, sedih ini. Sedih dengan berbagai perkara. Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya.

Ada juga yang bersedih dengan rupa parasnya, bersedih dengan kejadiannya, bersedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.

Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.

Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan.

Mungkin anda pernah membaca ayat ini; “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (At-Taubah:40)

Lantas, bagaimana jika kita tetap merasa bersedih?

Ini artinya ada sesuatu yang salah di dalam hati kita. Dalam ayat di atas, kita tidak perlu bersedih sebab Allah bersama kita. Jika kita masih juga bersedih, artinya kita belum merasakan dekatnya dengan Allah.

Yang dimaksud bersedih bukanlah berarti menangis.

Menangis adalah bermaksud dalam rangka takut dan berharap kepada Allah, supaya kita bebas dari api neraka.

Bersedih yang dilarang adalah kesedihan akibat ketidaksabaran, tidak menerima takdir dan menunjukkan kelemahan diri.

Bersedih itu ADAT MANUSIA.
Para Nabi bersedih. Bahkan Rasulullah SAW pun bersedih saat ditinggal oleh orang-orang yang dicintai dan dicintai beliau. Namun, para Nabi tidak berlebihan dalam bersedih.

Para Nabi segera bangkit dan kembali berjuang tanpa memanjangkan keseedihan. Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan. Seakan Allah tidak wujud dalam kehidupan kita.

Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (Q.S At-Taubah: 40)

Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S Ali-Imran: 139)

Rasulullah SAW pun berdo’a untuk agar terhindar dari kesedihan.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Tiada Tuhan kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud) Continue reading

Advertisements

[TALKING TIME] Ukhti, Cantikmu Untuk Siapa?

Definisi Kecantikan. Sebetulnya cantik itu seperti apa, sih, ukhti? Akankah harus terlihat menawan dengan make up? Atau sexy dengan rok mini? Memperlihatkan uraian rambut yang berwarna-warni serta kesana kemari mengikuti angin? Atau, cukup menutupnya dari atas sampai bawah dan membiarkan telapak tangan dan wajah saja yang terlihat?

Seperti apa…, definisi cantik itu sebetulnya?

Pernah satu hari saya memandangi puluhan foto gadis yang berbeda. Dari mulai mereka yang senang mengikat rambutnya, sampai mengurainya. Dari yang biasa-biasa saja sampai cantik luar biasa. Dari yang bermake-up sampai natural sama sekali. Pada dasarnya, setiap perempuan itu sama. Mereka cantik.

Tapi, kenapa? Kenapa kaum hawa itu sulit sekali menghargai sedikit saja yang sudah Allaah beri? Jujur, saya sendiri terkadang mengeluh. Kenapa saya begini? Kenapa saya tidak seperti dia? Kalau saya seperti dia pasti saya cantik sekali. Atau saya iri, saya ingin memiliki wajah sepertinya. Innalillahi.

Malaikat pernah bertanya pada Allaah; “Apa kekurangan seorang wanita?”
Kemudian Allaah menjawab; “Hanya satu hal. Wanita terkadang lupa, betapa berharga dirinya.”

Allaah saja begitu mengagungkan perempuan. Rasulullah saja bilang, “Ummi, Ummi, Ummi kemudian Abi.” Bukan sebaliknya.
Lantas, kenapa ukhti? Engkau diciptakan semulus mungkin. Engkau disentuh sehalus mungkin. Engkau selalu dijadikan nomor satu. Engkau selalu dilindungi. Tapi kenapa batok kepala ini begitu keras menerima kenyataan? Bahwa sebaik-baik perempuan adalah yang tinggal di rumahnya.

Lupakah kamu? Satu langkah kaki perempuan keluar rumah, setan akan memperdayainya dari depan, belakang, kiri dan kanan. Dengan cara apapun setan akan membuat dirimu lebih mewah, membisikkanmu lewat pewangi-pewangi, lewat make up-make up, lewat lisan serta suaramu. Ukhti, kamu itu BERHARGA sekaligus DOSA! Continue reading